<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

May 29, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Andalas, Andalan dari Amrika


Andalas, gede di Amrik, asli Sumatra

Ini dia Andalas, anggota baru Suaka Rhino Sumatra (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ganteng sekali, bukan? Badak yang akan berusia 16 tahun pada 13 September mendatang ini dipulangkan dari Kebun Binatang Cincinnati, AS, untuk menjadi pejantan baru bagi tiga betina bernama Bina, Rosa dan Ratu. Torgamba, badak jantan yang sudah lebih dulu tinggal di SRS, sejauh ini belum terbukti berhasil membuahi ketiga badak betina. Ada kemungkinan, ini disebabkan Torgamba terlalu lama tinggal di kebun binatang di London, Inggris, sehingga mengalami kesulitan beradaptasi hidup di hutan,  termasuk untuk bereproduksi.



Menurut Pak Marcel, site manager (kok nggak pas kalo diterjemahkan jadi manajer situs, yak?) SRS, konservasi badak sumatra menjadi lebih kritis dibandingkan badak jawa, karena habitat mereka lebih terancam. Jumlah badak jawa hanya sekitar 60 ekor, sedangkan badak sumatra sekitar 300 ekor. Namun, habitat badak jawa bercula satu di Ujung Kulon yang lebih tertutup membuatnya dalam kondisi relatif lebih aman dibandingkan kerabatnya di Sumatra.

Di SRS, usaha dan penelitian dilakukan untuk pelestarian badak sumatra yang kian terancam. Peran Andalas di kalangan badak menjadi amat penting. Tentu saja, konservasi tidak ada gunanya jika tidak ada dukungan dari masyarakat sekitar maupun pemerintah. Perburuan badak, terutama untuk diambil culanya, tidak akan terhenti jika kesejahteraan penduduk setempat masih rendah. Juga masih akan dilakukan jika tidak ada sangsi yang ketat dari pihak berwenang terhadap para pelaku.

Jika Anda suka badak, atau tertarik pada badak dan ingin mendapatkan info lebih jauh tentang seluk-beluk penangkaran hewan ini, silakan bergabung dengan milis Indorhinoteam. Atau, sekalian menjadi anggota Forum Badak Indonesia (singkatannya FBI juga, tapi bukan FBI nyang belah ono! Tongue). Kata Pak Marcel (terima kasih foto-fotonya, Pak!), selama beliau masih in charge, pintu SRS akan selalu terbuka bagi saya dan kawan-kawan sekalian. Hayo, siapa yang mau 'ngongkosin saya ke sana? Shades


Pak Marcel, Andalas, Pawang Sugiono


May 25, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

bikin puzzle biar nggak sebel


kenapa gerangan naga bertarung dengan ayam?

"Idle hands are the devil's tools," begitu bunyi idiom Inggris. Artinya kira-kira, kalau tangan Anda terlalu lama diam, bisa-bisa Anda mendapat masalah karena melakukan yang bukan-bukan. Jadi, selalu sibukkan tangan Anda meskipun pikiran melantur ke mana-mana? Eh, salah yak? Tongue

Kalau ada waktu senggang di rumah, selain kegiatan santai seperti baca atau nonton, pilihan lainnya adalah menyusun puzzle. Permainan ini bisa dilakukan secara soliter atau bergotong-royong, meskipun sebagian orang lebih memilih mengerjakannya sendirian. Buat saya, puzzle asyik, baik itu dua maupun tiga dimensi, adalah yang bisa menghasilkan bentuk atau gambar yang menghibur. Puzzle nggak asyik? Ya yang nggak menghibur, malah bikin mata nanar dan kepala berdenyut-denyut.

Jadi, ada yang mau beli puzzle bikinan saya? Hehe, jangan. Mending jajal bikin sendiri. Lumayan asyik kok. Tapi, kenapa lagi-lagi made in China, yak?

PS : Maaf, ya, foto sedikit buram. Ya, ya, ya? Angel


May 22, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

alah curiga karena biasa


gambar oleh Dokter Hewan Komikus
(maaf, gambar lecek karena di-tiki :P)

"Kerja di mana, kok baru pulang jam segini?" tanya seorang bapak. "Di Jakarta," jawab saya singkat. "Iya, di Jakartanya di mana?" Setelah mengamati wajahnya sejenak, saya jawab dengan singkat lagi, "Di Gatot Subroto." Bapak itu hanya menanggapi dengan, "Oh.."

Hanya percakapan basa-basi singkat, di atas sebuah angkot menuju rumah pada pukul 20.00. Percakapan yang tidak seharusnya menimbulkan kecurigaan dalam situasi wajar. Terbiasa pulang kerja di malam hari dengan angkutan umum, ditambah sejumlah pengalaman tidak menyenangkan di jalan, memang mengharuskan saya bersikap mudah curiga terhadap orang asing. Jangankan menghadapi pertanyaan langsung seperti di atas. Yang pakai basa-basi klasik, "Maaf, sekarang jam berapa, ya?" pun kini harus dihadapi secara lebih berhati-hati.

Penyebabnya hanya satu. Di tempat umum di Jabodetabek, termasuk di angkutan umum, tidak ada yang bisa begitu diandalkan sehingga kita terjamin merasa aman dan nyaman. Orang yang berkunjung ke Jakarta lantas dibius dan dijarah di Terminal Kalideres Jakarta Barat, atau Pulogadung di Jakarta Timur, sudah terlampau sering terjadi. Kehilangan ponsel di atas bus kota, metromini atau mikrolet? Baru-baru ini sepupu saya yang murid SMP kehilangan ponsel di atas mikrolet di daerah Cawang, Jakarta Timur. Kebanyakan orang akan bilang, "Yang penting tidak terluka." Lalu, bagaimana dengan luka jiwa? Pelecehan di jalanan atau angkutan umum? Ah, itu biasa. Jatuh dari bus yang enggan mengerem untuk menaikkan atau menurunkan penumpang? Pemandangan biasa juga.

Saya tidak tahu, seberapa efektif pengerahan petugas keamanan di atas kendaraan umum seperti bus kota. Jangan-jangan, malah dia yang tewas dikeroyok kalau pencopetnya rombongan. Para penumpang diharapkan maklum dengan sendirinya, untuk tidak tampil terlalu mencolok dengan mengenakan perhiasan atau menggunakan ponsel. Pernah seorang pengamen antarkota mengomeli penumpang di depan saya yang asyik bertelepon, dikiranya si penumpang sengaja pura-pura tidak melihat kantong uang yang dia sodorkan. Sikap pengamen seperti itu bisa membuat saya urung memberikan uang meskipun suaranya semerdu burung kutilang. Kalau ingin belajar bertenggang rasa, melatih kesabaran dan menempa kewaspadaan, silakan naik angkutan umum di Jabodetabek. Oh ya, sebagai bonus, Anda akan menjadi tidak terlalu ngeri saat mendengarkan berita copet digebuki dan dibakar oleh massa.

PS : Masih berani mimpi di Jakarta ada MRT? Cah gemblung!


May 18, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

dari wajah opak ke sapi skotlandia ngantuak

Ini sedikit foto lagi yang diambil selama ke Padang - Bukittinggi tempo ari. Sekadar berbagi..

manusia berwajah opak
foto oleh Mbake,
model tangan : mpokb

Ternyata saya memang anak singkong. Setelah mengingat-ingat, banyak sekali makanan dengan bahan dasar singkong yang saya sukai. Mulai dari singkong yang sekadar dikukus atau digoreng, maupun dijadikan keripik, opak, enye-enye, dakak-dakak, gatot, getuk, kue kering gaplek, kue mata roda, agar-agar singkong, hmm.. Apa lagi, ya? "Dan lain sebagainya" Big Smile. Opak pada foto di atas adalah opak kedua yang kami beli. Di lokasi wisata Lembah Arau, harganya cuma 1.000 rupiah per buah. Sebelumnya, dalam perjalanan Padang - Bukittinggi, di pinggir jalan raya kami juga membeli yang 500 rupiah per buah. Menurut teman-teman, opak pertama itu digoreng kurang matang, tapi saya tetap menikmatinya. Terus terang, ukurannya yang tidak umum itulah yang membuat saya terdorong untuk membeli. Ralat. Sebenarnya bukan saya yang membeli, tapi kawan saya, Mbak Adwi, yang tidak tega untuk tidak membelikan saya opak Big Smile. Oh ya, opak di atas diberi bumbu kencur selain daun bawang. Mengingatkan saya pada simping, kerupuk tipis asal Jawa Barat yang terbuat dari tepung kanji. Kencur sebagai bumbu kerupuk memang oke.

cicie, adwi, felis, mbake, dedi, oel
mana saya? di balik kamera dong..

Pernah saya baca di sebuah milis, jika ingin melakukan perjalan berkelompok, ada baiknya jumlah peserta tidak genap. Ini untuk menghindarkan terjadinya pengelompokan jika ada pihak-pihak yang berbeda pendapat. Misalnya, jika yang pergi empat orang. Kalau dua orang di antara mereka berseteru, dan dua orang lainnya memihak masing-masing ke satu orang, maka tidak ada lagi pihak yang bisa menjadi penengah. Lain halnya kalau yang pergi lima orang atau ganjil. Jika ada dua pihak (masing-masing dua orang) yang berselisih, orang kelima bisa menjadi penengah. Risiko rombongan untuk terpecah jadi lebih kecil. Perjalanan kelompok jadi tetap seru, kan?

  
kartu gesek non-debet Tongue
foto oleh Felis
model tangan : mpokb


Beginilah seharusnya tempat-tempat wisata dikelola. Menggunakan sarana dan prasarana modern demi kepraktisan. Tidak ada lagi sobek-menyobek karcis yang modelnya standar bangeeet. Tanpa urusan sobek-menyobek, seharusnya tidak  perlu lagi petugas berdiri di pintu masuk. Namun, Pemko Bukittinggi tetap menyediakan seorang petugas untuk membantu memasukkan kartu magnetis. Harap maklum, tidak semua orang terbiasa menggunakan kartu magnetis, kan? Oh ya, seharusnya tulisan "Vor De Kock" adalah "Fort De Kock" Smile.


tak ada kerbau, sapi pun jadi
foto oleh Mbake

Konon, kata Minangkabau berasal dari dua kata yang berarti menang dan kerbau. Sudah pernah dengar legenda Tanah Minangkabau, kan? Kalau belum, silakan googling. Sebenarnya sejak hari kedua sudah timbul keinginan untuk memotret kerbau yang bersantai, berkubang atau bercanda di tepi sawah, tapi kesempatan tidak berhasil saya raih. Sampai ketika mobil yang mengantarkan kami berhenti di tepi jalanan Lembah Arau dan Mbake berhasil membidik seekor...sapi! Bukan maksud kami mengganti kerbau dengan sapi lho, sungguh. Tapi, yang ada pada saat itu memang cuma si sapi. Kurang jelas apa yang tengah sapi ini lakukan, sepertinya dia ngantuak sajo (= ngantuk saja). Dan jangan heran kalau sapi Ayrshire dari Skotlandia bisa sampai di bumi Malin Kundang. Namanya juga zaman globalisasi.. Big Smile

PS : Posting yang aneh.. Tongue


May 15, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kupi Darat dan Ademnya CICO



Baru kali ini acara kopdar keroyokan saya ikuti. Dulu-dulu, saya hanya datang ke acara kopdar yang diikuti oleh paling banyak 6 orang, hari kerja pula. Memang sih, waktu dan jarak tidak masalah, tapi macetnya Jakarta di akhir pekan adalah musuh besar buat saya Big Smile


presiden HI dan rombongan

Kopdar kali ini, menurut Sir Mbilung, digelar dalam rangka selamatan lahirnya anak ketiga Pak Moes Jum yang ternyata tinggal sekota dengan saya. Mumpung kopdar diadakan di Bogor, melanjutkan sapa dan komentar di dunia maya, sekaligus menuntaskan keingintahuan saya akan pohon nangka yang bisa jadi kantor plus lokasi outbound di dalam kota, maka berangkatlah saya pada Sabtu, 12 Mei 2007 itu ke CICO di Cimahpar, Bogor.
 

sang empunya gawe


motret orang lagi motret orang

Kesan pertama saat berhenti di depan gerbang lokasi adalah waswas. Pos jaga di sudut kiri, ditambah sejumlah petugas keamanan berseragam safari dan ber-HT membuat saya ragu untuk masuk. Selanjutnya, ternyata para petugas itulah yang dengan ramah menunjukkan arah lokasi pohon nangka yang menaungi para tamu bersantai duduk-duduk di atas tikar. Sudah ada beberapa tamu yang tengah mengobrol, yang saya tahu secara virtual adalah Hedi dan Luthfi. Acara jadi semakin hidup ketika rombongan Presideh BH datang. Obrolan dan tawa mereka seperti tidak habis-habisnya, membuat suasana rileks dan nyaman (lho, memangnya ada kopdar tegang dan serius, yak?).


makan siang di kebun adem

Oh ya, setelah diajak berkeliling oleh Mas Koes (nama panjangnya apa sih yak?) di lokasi CICO (ini juga kepanjangannya apa yak?), saya jadi terkagum-kagum. Waduh, baru tahu saya, ada tempat sekeren ini di Bogor. Lokasi ini dimanfaatkan untuk outbound, training, kemping anak sekolah, panjat tebing dengan dinding berstandar internasional, resepsi pernikahan ala pesta kebun (katanya sudah ada empat kali resepsi pernikahan diselenggarakan di sini), atau tempat berkantornya sejumlah yayasan. Antara lain, yayasan penyelamat orangutan borneo, BOS dan pusat informasi lingkungan, PILI. Omong-omong soal kantor, Sir Mbilung dan Mbak Neng Jeni juga berkantor di tempat asri ini. Kalau saya jadi mereka, pasti lebih banyak waktu yang terbuang untuk duduk-duduk sambil ngupi di tepi Sungai Cijabar yang mengalir di belakang kantor atau ketiduran di bawah pohon sambil mengharapkan ada durian jatuh, asal nggak keduluan diambil petugas keamanan, hehehe..

Lho, ini katanya posting kopdar, kok malah cerita tentang lokasi? Boleh dong, kan masih ada hubungannya? Tapi, ini bukan promosi lho, karena saya tidak tahu sejauh mana tempat ini boleh dijadikan lahan komersial. Yang jelas, semua pohon buah-buahan yang tumbuh di lahan ini dibiarkan apa adanya, tidak ada yang ditebang. Lalu, kompos untuk menyuburkan kebun tanaman organik juga dibuat sendiri di sini. Lalu, akan ada rencana untuk memasok listrik sendiri dari tenaga air Sungai Cijabar. Lalu, lalu? Silakan klik dan cari tahu sendiri tentang CICO.


bukan blogger, bukan peserta kopdar,
tapi sambutannya cukup meriah

PS : Duh, fotonya cuma sedikit.. Ternyata baterai kamera saya sudah klenger duluan.. Hiks, hiks :(



May 11, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

ciek, duo, tigo.. rancak bana!


Pantai Mande - Pesisir Selatan

Mungkin separuh pikiran saya masih berlibur, jadinya menambah kemalasan saat berangkat pagi-pagi ke kantor. Ah, itu alasan yang dicari-cari.. Yang sebenarnya, saya malas ke kantor karena harus menghadapi macet yang makin hari makin menggila. Sumpah! Semoga janji Pak Menteri Perhubungan baru, untuk membenahi angkutan umum massal, bukan sekadar janji, yak.. Saya mengamini dalam hati lantang sekali, ini!

  
Danau Di Atas

Yang namanya tiket supermurah Air Asia, terlalu sayang untuk disia-siakan. Untung ada Mbake yang baik hati dan tidak sombong, si pengurus pembelian tiket, dan Uni Cicie yang mengurus akomodasi alias tempat tebengan sejak 2 - 6 Mei 2007 tempo ari. Bekal khusus saya kali ini adalah selimut loreng-loreng ala rumah sakit, karena saya malas membawa jaket. Selanjutnya, terserah kami mau tidur dengan cara apa atau posisi bagaimana, yang penting tidak buang angin sembarangan Tongue



Danau Maninjau


Jembatan Akar - Bayang (foto oleh Unie Cicie)

Sumatera Barat memang indah, memiliki banyak lokasi menjadi modal kuat pariwisata. Kota Padang saja dilengkapi pantai dan daerah perbukitan yang sejuk. Selama di Padan dan Bukittinggi, kami mengunjungi sejumlah pantai (Padang, Carocok, Bungus, Painan, Air Manis), sejumlah danau (Di Atas, Di Bawah, Singkarak, Maninjau), air terjun (Lembah Harau, Lembah Anai), juga objek-objek lain seperti Ngarai Sianok, Jam Gadang, Jembatan Akar, Fort De Kock..

 
Jam Gadang - Bukittinggi

Baru di Sumatera Barat saya merasakan berhari-hari makan makanan pedas bersantan. Baru di Sumatera Barat pula saya melihat anjing dipelihara benar-benar sebagai kawan baik manusia, bahkan diperbolehkan main-main di halaman mesjid. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Sumatera, dan kesan saya, alam Sumatera Barat sungguh mengagumkan. Sayang kalau tidak dikelola dengan baik dan serius. Bisa-bisa aset daerah malah terbengkalai, dan penduduk setempat tidak mendapatkan manfaat yang seharusnya.


Jembatan Siti Nurbaya - Padang



May 9, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

tidur seperti si cemong



Mohon maaf kalau laju blogwalking saya lambat bahkan tertatih-tatih. Maunya sih membaca posting di banyak blog yang saya kunjungi, tapi belakangan ini rasanya mata saya jadi lekas lelah. Belum lagi berita sehari-hari. Terlalu banyak informasi berjejal ditingkahi spekulasi dan ralat, lalu spekulasi dan ralat lagi, ternyata punya andil untuk meningkatkan tingkat kejenuhan, termasuk jenuh nge-blog. Satu per satu informasi tersisih dari kepala, terambil seperlunya. Pada akhirnya, yang bisa membantu saya cuma tidur, meskipun mungkin tidak selelap si kucing cemong ini.


Apr 28, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kejutan dalam Seruput



Menyeruput kopi di pagi hari saat libur akhir pekan, wah, nikmat rasanya. Segala penat hilang, suntuk akibat rutinitas seminggu mereda, dunia seakan lebih ceria..  Hayah, apa benar segitunya? Sedikit banyak bisa jadi.Big Smile

Sebagai peminum kopi, saya termasuk yang suka mencoba-coba berbagai jenis dan merek kopi. Kadang selama beberapa saat saya suka kopi merek A, tapi di saat lain beralih ke merek B. Sering kali, kopi untuk pagi hari berbeda merek dengan kopi siang atau malam hari. Kadang kopi curah di pasar, kadang oleh-oleh dari kerabat atau rekan yang berkunjung ke luar Jawa seperti Aceh, Jambi, Lampung, Toraja, Bali... Hm, penghasil kopi yang hebat banget negeri kita, ya? Lain daerah, lain cara memasak dan meminumnya. Atau, di kesempatan lain, ada saja dermawan yang tahu kesukaan saya ini. Lantas mengoleh-olehi saya kopi setelah berjalan-jalan di mal atau berbelanja. Pokoknya glek, deh.

Terus, haruskah saya membatasi diri dengan hanya minum kopi curah bermerek maupun nonmerek? Dasarnya suka icip-icip kopi, maka saya beli juga kopi cap Ayam Merak kemasan sachet ini di sebuah hiperpasar. Setelah kopi dituang ke gelas, diseduh air panas, lho, ada kejutan! Sehelai kupon mungil terangkat sendok pengaduk. Di balik cap Ayam Merak, disebutkan bahwa peminum mendapatkan uang seribu rupiah dengan cara menukarkan kupon tersebut. Biasanya, untuk kopi-kopi merek lain, bagian dalam kemasan diberi stiker hologram. Untung saja kupon kertas mini ini langsung mengambang, sehingga tidak ikut terseruput Tongue

Dari sepuluh sachet, ada dua yang berisikan kupon itu, tapi tidak saya tukarkan. Ongkos untuk kembali ke hiperpasar saja sudah lebih dari dua ribu perak. Begitu pula dengan sachet-sachet lain dari merek kopi lain. Akhirnya saya buang, tidak pernah ada yang diuangkan. Lain halnya kalau stiker yang ada mencantumkan hadiah mobil atau rumah. Ah, iming-iming hadiah. Semua orang pasti kepingin, mendapatkan uang tanpa bersusah payah. Kalau sudah begini, bahkan investor, eh, investasi bodong jadi terlihat lurus. Lha, ini kok jadi melantur, yak?

 

Kupon hadiah dalam makanan memang menyenangkan, meskipun sekadar untuk lucu-lucuan. Pernah ada pembaca koran memrotes sebuah merek cemilan anak-anak yang menyelipkan uang kertas 500 perak bulukan di dalam kemasan. Sungguh tidak higienis, bukan? Hii.. Kesialan memang bisa muncul dalam berbagai bentuk. Almarhum kakek saya sering menemukan kerikil kecil dalam nasinya, entah apa sebabnya. Kata Ibunda, mungkin hal itu akhirnya menurun pada saya, karena saya sering, terlalu sering, menemukan sehelai rambut -dengan panjang beragam- dalam makanan. Sudah pernah menemukan sehelai rambut panjang di antara sayur mayur dan pekatnya bumbu kacang gado-gado? Saya sudah, dua kali. Sekali dalam seporsi gado-gado warung, sekali lagi di sebuah mal. Beda tempat dan beda kelas (huh, sekolah, kali?), tapi sama-sama ceroboh dan sama-sama menghilangkan selera makan.


Apr 21, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kantor Serba Ada dan Unik Milik Paman


banyak tempelan dan hiasan, sungguh me-museum..

Bagaimana ruang kerja atau tempat tinggal Anda? Percayakah Anda bahwa ruang kerja atau tempat tinggal menggambarkan kepribadian si empunya?

Memasuki ruang kerja ini, saya seperti terbawa kembali ke masa kecil. Masa ketika kita mudah terpesona dengan beraneka ragam benda di sebuah warung, toko serba ada maupun museum. Seakan ingin menyentuh dan melihat-lihat semuanya. Maka, setelah dipersilakan duduk di kursi pesakitan dan dihibur dengan lagu-lagu dari koleksi CD nan unik, saya segera tidak tahan untuk tidak menggrataki segala macam benda yang ada di sana. Tentunya, dengan seizin pemilik ruangan yang baik hati dan tidak sombong.


ada buku, kamus, kartu remi, lengkap!

                
yang kiri cuma hiasan, perlengkapan sejati di sisi kanan

Pemilik ruangan, Paman Tyo, saat itu tengah beres-beres dalam rangka pindahan. Menurutnya, ruangan itu sedang berantakan. Menurut saya, itu justru menguntungkan. Saya jadi bisa melihat secara langsung berbagai benda yang pernah bikin para pembaca blog terhibur dan tertawa dengan kisah pengiringnya, meskipun Paman tidak pernah bermaksud melucu.


malam-malam buka jendela, apa nggak masuk angin?

 
ucapan ultah berupa lukisan unik
+ profil Paman di majalah nagri

Banyak benda pernah dibahas di blog lama Paman, maupun anak-anak blognya. Ini menimbulkan perasaan unik bagi saya. Biasanya cuma lihat di blog, lho ini kok ada barangnya sungguhan?


ternyata loyang kue bisa jadi stationery set


siapa pernah lihat barang-barang ini...?


bakiak antik bin nyentrik

 
harta karun koleksi buku dan CD, serta..kursi tamu pesakitan

Dengan seizin Paman Tyo pula, saya memotreti barang-barang unik koleksinya. Situasi ruang kerja ini, menurut saya, layak diabadikan. Kabarnya, si paman yang mengaku gombal ini akan hengkang dari ruang kantornya dan beralih profesi. Bukan, bukan sebagai pawang ular. Meskipun pernah terlontar ingin berbisnis mobil tinja, bahkan jadi produsen lingerie (untungnya gede, karena irit tekstil tapi bisa dijual mahal, katanya), tapi saya yakin beliau akan tetap gombal. Kita doakan saja bersama-sama, apa pun strategi Paman selanjutnya, semoga semangat gombal tetap langgeng, sekalipun tidak lagi diluncurkan dari ruang kerja ini.

PS : Paman tahu, saya ingin membantu meringankan beban pindahan. Makanya, beliau mengizinkan saya mengangkut sebuah buku panduan motret bergaya majalah, sebuah novel dan sekeping CD ke...rumah saya! Hehehe, rezeki nomplok! Terima kasih, Paman!


Apr 16, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Dokter Komik di Kota Hujan

dokter komik dan bekas pasien
dokter komik dan bekas pasien

Kalau sampai saat ini ada yang berharap bahwa dokter hewan komikus dari Yogya itu tidak punya wajah, atau wajahnya seperti kartun yang dicorat-coret, tentu akan kecewa. Pada hari Minggu kemarin, 15 April 2007, saya sendiri sudah membuktikan, ternyata wajahnya memang ada, dan bukan kartun. Menyenangkan sekali jalan kaki bersamanya. Tidak lekas mengeluh apalagi rewel, meskipun malam sebelumnya baru begadang di Puncak.

dokter komik pangku kucing

Sayang sekali Bung Dokter harus segera kembali ke Yogya. Saya pikir, belum sah hukumnya bila seseorang ke Bogor tanpa ke Kebun Raya. Maka, setelah mampir di Gramedia Botani Square (Bo-Ker, kata ABG Bogor), mencicipi hidangan vegetarian (baca : gado-gado) di warung masakan sunda dan menjajal otot kaki di jalanan Kebun Raya, maka saya antarkan dia dalam keadaan utuh kepada pamannya yang tidak gombal, untuk selanjutnya diambil alih oleh pamannya yang gombal.

dokter komik dan calon pasien
dokter komik dan calon pasien

PS : Ternyata, pamannya yang tidak gombal itu tetangga sekomplek kakak sulung saya. Hayaaah, dunia memang selebar daun kelor... Tongue






Blogdrive