Jul 22, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
Setiap orang punya cara hidup masing-masing, juga kemampuan untuk mengambil keputusan. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Apa yang baik untukmu, belum tentu baik untukku. Apa yang menarik untukmu, belum tentu menarik untukku. Mungkin kau lupa, tidak semua orang menginginkan hal yang sama.
Jul 10, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
dari meleduk menjadi listrik
Dugaan sejumlah pihak, antara lain diberitakan di sini, bahwa luapan lumpur di Sidoarjo bukan "sekadar" bencana alam, terjawab dengan masuknya investor AS untuk membangun Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (kadang disebut juga geotermal).
Perkara teknis, sudah banyak blog insinyur yang membahasnya. Buat saya yang awam, ini tentu perkembangan yang sangat menggembirakan, orang optimistis menyebutnya hikmah, setelah bertahun-tahun penderitaan yang dialami penduduk di wilayah semburan panas. Kalau semuanya berjalan lancar, buah yang dipetik tidak hanya akan dinikmati warga Sidoarjo dan sekitarnya, karena dari perut Bumi, manusia bisa mendapatkan energi yang tidak ada habisnya, kecuali jika Bumi mati. Bayangkan, tidak akan ada lagi pemadaman bergilir seperti yang kerap dilakukan PLN di Pulau Jawa dan Bali.
Dari info yang saya peroleh di sini, disebutkan bahwa selain menghasilkan panas, energi dari perut Bumi itu bisa dikonversi menjadi listrik yang minim polusi dan tidak tergantung cuaca. Juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin minim dan mahal. Di tengah krisis listrik yang kita alami sekarang, semoga langkah yang diambil pemerintah dengan menggandeng investor asing merupakan keputusan tepat. Sebab, terus terang saja, saya kok merasa selama ini bangsa kita hanya menjadi kuli bagi investor asing dan harus membayar terlalu mahal untuk menikmati kekayaan alam di negeri sendiri.
Perkara teknis, sudah banyak blog insinyur yang membahasnya. Buat saya yang awam, ini tentu perkembangan yang sangat menggembirakan, orang optimistis menyebutnya hikmah, setelah bertahun-tahun penderitaan yang dialami penduduk di wilayah semburan panas. Kalau semuanya berjalan lancar, buah yang dipetik tidak hanya akan dinikmati warga Sidoarjo dan sekitarnya, karena dari perut Bumi, manusia bisa mendapatkan energi yang tidak ada habisnya, kecuali jika Bumi mati. Bayangkan, tidak akan ada lagi pemadaman bergilir seperti yang kerap dilakukan PLN di Pulau Jawa dan Bali.
Dari info yang saya peroleh di sini, disebutkan bahwa selain menghasilkan panas, energi dari perut Bumi itu bisa dikonversi menjadi listrik yang minim polusi dan tidak tergantung cuaca. Juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin minim dan mahal. Di tengah krisis listrik yang kita alami sekarang, semoga langkah yang diambil pemerintah dengan menggandeng investor asing merupakan keputusan tepat. Sebab, terus terang saja, saya kok merasa selama ini bangsa kita hanya menjadi kuli bagi investor asing dan harus membayar terlalu mahal untuk menikmati kekayaan alam di negeri sendiri.
Jul 2, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
tas foto diri

Saking kurang peduli dengan perkembangan mode dan trend, saya baru tahu bahwa ada yang namanya tas pakai foto. Duh, siapa yang tahu apakah sebutan khusus untuk benda ini? Setelah googling, barulah saya menemukan salah satu gerai penjualnya. Ini bukan iklan lho, cuma kebetulan menemukan. Unik juga sih, dan kok ya ada saja pasarnya. Kalau saya sendiri, rasanya belum pede pergi bekerja sambil menjinjing tas yang ada fotonya. Bisa-bisa dikira mau ikutan pilkada. Entah kalau si pelanggan ingin memesan tas dengan foto berpose cihui, apakah akan dituduh menyebarkan pornografi? Setelah keik ulang tahun berhiasan foto layak makan, cangkir dan tas bergambar foto pribadi, kira-kira apa lagi, ya?
Jun 22, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
belanja : tawaran, godaan dan jeratan :P
Tanggal tua tidak menyurutkan
keinginan orang untuk berbondong-bondong memenuhi pusat perbelanjaan
dan memborong barang diskon. Ah, saya lupa. Ini zamannya kartu kredit.
Mana kenal tanggal? Lelucon tentang kantong kempis di tanggal tua
mungkin sudah tidak dianggap lucu lagi, bahkan aneh. Seaneh saya bagi
sebagian orang karena sampai sekarang tidak punya kartu kredit.
Makanya, saya tidak pernah merasakan diskon belanja dengan kartu kredit
A atau diskon makan dengan kartu kredit B. Norak, ya? Biarin.
Kembali ke mal yang belakangan ini dipenuhi orang balapan belanja, saya jadi teringat pada seorang kenalan, perempuan berusia pertengahan 20-an. Setiap kali ada acara obral di mal, dia paling antusias. Saya maklum, sebab, seperti yang saya dengar dari seorang kenalan lain yang lebih bijak, orang muda seumuran dia memang pada umumnya giat belanja. Khususnya, belanja untuk diri sendiri. Baru lulus kuliah, baru mulai bekerja, baru mengenal uang. Ada masanya orang jadi sulit menahan diri untuk tidak jajan dan berbelanja, apalagi setelah bertahun-tahun harus tahu diri karena dinafkahi orang tua.
Pada tingkat tertentu, kepuasan berbelanja sama dengan kepuasan bekerja menghasilkan sesuatu. Siapa sih yang tidak pernah merasa begitu? Tentu saja, semua itu tidak selalu berakibat menyenangkan. Selain siklus "gaji numpang lewat untuk tagihan" yang seakan tidak ada habis-habisnya, biasanya, setelah beberapa tahun bermunculanlah berbagai penyakit akibat pola makan dan gaya hidup tidak seimbang. Ada yang kurang gizi karena mengirit makan demi bisa terus tampil trendi dengan baju dan gadget baru, ada yang justru kelebihan makan karena selera sulit dibendung. Sebagian orang sampai harus membayar lebih banyak lagi untuk memulihkan kesehatan mereka.
Kita tidak mungkin serta-merta menyalahkan tawaran, godaan maupun jeratan :P untuk berbelanja, karena bagaimanapun kendali ada di tangan kita. Kita pun sebenarnya tahu, berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kartu kredit sampai kapan pun tidak bisa menafikan inti pepatah "besar pasak daripada tiang". Anda punya kiat agar tidak berbelanja berlebihan?
Kembali ke mal yang belakangan ini dipenuhi orang balapan belanja, saya jadi teringat pada seorang kenalan, perempuan berusia pertengahan 20-an. Setiap kali ada acara obral di mal, dia paling antusias. Saya maklum, sebab, seperti yang saya dengar dari seorang kenalan lain yang lebih bijak, orang muda seumuran dia memang pada umumnya giat belanja. Khususnya, belanja untuk diri sendiri. Baru lulus kuliah, baru mulai bekerja, baru mengenal uang. Ada masanya orang jadi sulit menahan diri untuk tidak jajan dan berbelanja, apalagi setelah bertahun-tahun harus tahu diri karena dinafkahi orang tua.
Pada tingkat tertentu, kepuasan berbelanja sama dengan kepuasan bekerja menghasilkan sesuatu. Siapa sih yang tidak pernah merasa begitu? Tentu saja, semua itu tidak selalu berakibat menyenangkan. Selain siklus "gaji numpang lewat untuk tagihan" yang seakan tidak ada habis-habisnya, biasanya, setelah beberapa tahun bermunculanlah berbagai penyakit akibat pola makan dan gaya hidup tidak seimbang. Ada yang kurang gizi karena mengirit makan demi bisa terus tampil trendi dengan baju dan gadget baru, ada yang justru kelebihan makan karena selera sulit dibendung. Sebagian orang sampai harus membayar lebih banyak lagi untuk memulihkan kesehatan mereka.
Kita tidak mungkin serta-merta menyalahkan tawaran, godaan maupun jeratan :P untuk berbelanja, karena bagaimanapun kendali ada di tangan kita. Kita pun sebenarnya tahu, berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kartu kredit sampai kapan pun tidak bisa menafikan inti pepatah "besar pasak daripada tiang". Anda punya kiat agar tidak berbelanja berlebihan?
Jun 14, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
betawi, nih?
Mengapa ya, foto sering kali lebih indah daripada aslinya? Ini diambil dari ruang kerja di warung saya. Cocok buat iklan apartemen kosmopolitan untuk kalangan urban bergaya hidup global (meskipun masih sangat bersikap feodal, cuih!), apa pun artinya itu 


uneg-uneg si mpokb >>>>
topik obrolan
+ Kenapa sih, cowok-cowok itu kalau lagi kumpul, maunya omong-omong soal pekerjaan terus?
- Lha, bukannya memang kebanyakan begitu? Sama kan dengan cewek-cewek kalau kumpul, yang dibicarakan kebanyakan soal pasangan atau anak?
+ Oh, jadi membicarakan pekerjaan di depan cowok yang tidak punya pekerjaan bisa dibilang sama dengan membicarakan anak di depan cewek yang tidak punya anak?
- Ya, terima saja. Itu sifat naluriah manusia yang tidak terevolusi sejak zaman purba :D Kalau malas dengar, tidak usah didengar. Salah sendiri kenapa tidak bisa angkat topik obrolan yang lebih menarik?
- Lha, bukannya memang kebanyakan begitu? Sama kan dengan cewek-cewek kalau kumpul, yang dibicarakan kebanyakan soal pasangan atau anak?
+ Oh, jadi membicarakan pekerjaan di depan cowok yang tidak punya pekerjaan bisa dibilang sama dengan membicarakan anak di depan cewek yang tidak punya anak?
- Ya, terima saja. Itu sifat naluriah manusia yang tidak terevolusi sejak zaman purba :D Kalau malas dengar, tidak usah didengar. Salah sendiri kenapa tidak bisa angkat topik obrolan yang lebih menarik?
Jun 5, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
cuci otak dan isi perut

Sambil menunggu makanan disiapkan, bikin foto asal-asalan. Sebetulnya ingin sekali memotret anak kucing di bawah meja, tapi kok larinya cepat sekali, ya? Foto di sebelah kiri, pelengkap standar yang ada di hampir setiap warung. Sambal, acar, sendok garpu, asbak. Foto di sebelah kanan, teko, benda yang nyaris tergusur oleh galon air di rumah tangga kelas menengah urban.
Mengapa posting kok begini amat? Karena, saya sedang bosan dengan berita aktual. Laju update-nya sudah terlalu cepat untuk saya cerna, apalagi kalau ada bantah sangkal dan ralat. Mending saya lari ke warung untuk mengisi perut dan cuci mata. Bukannya tidak peduli dengan kesusahan yang menimpa banyak orang belakangan ini. Saya hanya tidak mau ikut terlarut dalam euforia hiperinformasi. Mungkin ada baiknya jika saya ketinggalan informasi sedikit, demi kewarasan. Entahlah.
Kemarin siang, setelah ber-SMS mengeluhkan harga kopi di kedai lokal yang menurut saya terlampau mahal (bagaimana pula nasib petani kopi?) dan betapa nilai rupiah semakin tidak berarti, saya menerima balasan, "Sekarang zaman prihatin. Tapi kalo orang nggak konsumtif, roda ekonomi seret."
Mengapa posting kok begini amat? Karena, saya sedang bosan dengan berita aktual. Laju update-nya sudah terlalu cepat untuk saya cerna, apalagi kalau ada bantah sangkal dan ralat. Mending saya lari ke warung untuk mengisi perut dan cuci mata. Bukannya tidak peduli dengan kesusahan yang menimpa banyak orang belakangan ini. Saya hanya tidak mau ikut terlarut dalam euforia hiperinformasi. Mungkin ada baiknya jika saya ketinggalan informasi sedikit, demi kewarasan. Entahlah.
Kemarin siang, setelah ber-SMS mengeluhkan harga kopi di kedai lokal yang menurut saya terlampau mahal (bagaimana pula nasib petani kopi?) dan betapa nilai rupiah semakin tidak berarti, saya menerima balasan, "Sekarang zaman prihatin. Tapi kalo orang nggak konsumtif, roda ekonomi seret."
May 26, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
Pasca atau Setelah Kenaikan (Harga) BBM?
- pascasarjana (kata sifat) = berhubungan dengan tingkat pendidikan atau pengetahuan sesudah sarjana
- pascaperang (kata benda) = sesudah perang
Saya tidak tahu, mengapa dan kapan kata "pasca-" disebut sebagai kata sifat atau kata benda. Yang saya tahu, kata "pasca-" tidak bisa serta-merta dipakai untuk menggantikan kata "sesudah" atau "setelah". Dalam bahasa Inggris pun, "post-" tidak bisa dipakai untuk menggantikan "after".
Sejumlah artikel dan liputan menggunakan kata "pasca-" secara tidak tepat dalam memberitakan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Supaya tidak dikira menuduh si ini atau isi itu, silakan Anda googling sendiri "pasca kenaikan BBM". Contohnya banyak, kan?
Pelajaran bahasa Indonesia tidak pernah menjadi pelajaran kegemaran saya di sekolah, tapi entah saya dengar dari mana, bahwa bahasa menunjukkan jati diri dan watak pemakainya. Duh, itu kedengarannya terlalu angkuh, ya? Tentu saja, ini di luar konteks percakapan sehari-hari. Karena di sekolah dulu pelajaran bahasa kurang menarik, maka saya termasuk orang yang menjadikan media tertentu sebagai patokan dalam pengetahuan berbahasa. Masyarakat membaca dan mendengar, mencari tahu dan belajar dari media (cetak maupun elektronik). Maksud saya, kalau pembiaran semacam pemakaian "pasca" ini terus terjadi, bukan tidak mungkin suatu saat kalimat semacam ini akan keluar dari mulut anak-anak sekolah : "Ibu langsung pulang ke rumah pasca mengantarkan Adik ke sekolah."
Bahasa mungkin bukan perkara hidup dan mati. Bagi sebagian orang, kekeliruan berbahasa mungkin terasa sebagai masalah kecil jika dibandingkan dengan begitu banyak masalah besar yang berlangsung silih berganti. Bagaimanapun, semua hal besar berawal dari yang kecil.
Sejumlah artikel dan liputan menggunakan kata "pasca-" secara tidak tepat dalam memberitakan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM. Supaya tidak dikira menuduh si ini atau isi itu, silakan Anda googling sendiri "pasca kenaikan BBM". Contohnya banyak, kan?
Pelajaran bahasa Indonesia tidak pernah menjadi pelajaran kegemaran saya di sekolah, tapi entah saya dengar dari mana, bahwa bahasa menunjukkan jati diri dan watak pemakainya. Duh, itu kedengarannya terlalu angkuh, ya? Tentu saja, ini di luar konteks percakapan sehari-hari. Karena di sekolah dulu pelajaran bahasa kurang menarik, maka saya termasuk orang yang menjadikan media tertentu sebagai patokan dalam pengetahuan berbahasa. Masyarakat membaca dan mendengar, mencari tahu dan belajar dari media (cetak maupun elektronik). Maksud saya, kalau pembiaran semacam pemakaian "pasca" ini terus terjadi, bukan tidak mungkin suatu saat kalimat semacam ini akan keluar dari mulut anak-anak sekolah : "Ibu langsung pulang ke rumah pasca mengantarkan Adik ke sekolah."
Bahasa mungkin bukan perkara hidup dan mati. Bagi sebagian orang, kekeliruan berbahasa mungkin terasa sebagai masalah kecil jika dibandingkan dengan begitu banyak masalah besar yang berlangsung silih berganti. Bagaimanapun, semua hal besar berawal dari yang kecil.
May 21, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
Ramah Versi Globalisasi
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini... dst." Demikian kalimat penutup yang disampaikan Bung CS (layanan pelanggan) di gerai itu. Setelah menerima penjelasan dalam kalimat berbahasa Indonesia yang baku, saya pun mengucapkan terima kasih dan meninggalkan gerai. Sebetulnya tadi saya ingin terbahak mendengar kalimat-kalimat yang dipakai Bung CS dengan mimik serius, tapi demi menghargai keseriusannya dalam bekerja, saya pendam saja tawa itu dalam rasa kaget.
Yah, namanya juga era globalisasi. Bahkan sampai cara menghadapi pelanggan, termasuk pemakaian kalimat pun diadopsi dari Barat, tepatnya negeri Paman Sam (siapa sih dia sebenarnya?). Padahal, hanya beberapa menit sebelumnya, keluhan yang saya sampaikan di gerai ditanggapi dengan bahasa Indonesia yang wajar (baca : percakapan harian). Begitu permasalahan terbukti belum bisa terselesaikan saat itu juga, barulah kalimat pamungkas itu keluar. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.. dst." Lalu, saya diminta menunggu penyelesaian dalam waktu "2 x 24 jam". Bukan "dua hari", tapi "2 x 24 jam".
Oh ya, sekarang di restoran waralaba cepat saji, setelah kita membayar biasanya akan mendengar ucapan, "Terima kasih, datang kembali." Terjemahan langsung dari bahasa Inggris, "Thank you, come again." Tapi, kenapa kuping saya masih suka terasa gatal saat mendengarnya, yak?
Yah, namanya juga era globalisasi. Bahkan sampai cara menghadapi pelanggan, termasuk pemakaian kalimat pun diadopsi dari Barat, tepatnya negeri Paman Sam (siapa sih dia sebenarnya?). Padahal, hanya beberapa menit sebelumnya, keluhan yang saya sampaikan di gerai ditanggapi dengan bahasa Indonesia yang wajar (baca : percakapan harian). Begitu permasalahan terbukti belum bisa terselesaikan saat itu juga, barulah kalimat pamungkas itu keluar. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.. dst." Lalu, saya diminta menunggu penyelesaian dalam waktu "2 x 24 jam". Bukan "dua hari", tapi "2 x 24 jam".
Oh ya, sekarang di restoran waralaba cepat saji, setelah kita membayar biasanya akan mendengar ucapan, "Terima kasih, datang kembali." Terjemahan langsung dari bahasa Inggris, "Thank you, come again." Tapi, kenapa kuping saya masih suka terasa gatal saat mendengarnya, yak?
May 17, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
Jalan Protokol Hanya untuk "Pahlawan"
Seingat saya, jalan protokol di ibu kota Indonesia tidak dinamai dengan nama dari kalangan pendidikan, seniman atau ilmuwan. Yang ada hanya nama-nama dari kalangan militer maupun politikus. Silakan Anda googling atau ingat-ingat sendiri, adakah jalan raya di kota besar Indonesia yang memakai nama Ki Hajar Dewantara? Dari kalangan politikus, cukup melegakan di Jakarta ada jalan protokol yang memakai nama Mohammad Husni Thamrin dan HR Rasuna Said. Bagaimana dari kalangan seniman? Jalan Chairil Anwar? Jalan Marah Roesli? Apakah nama mereka yang tidak terlibat langsung sebagai pelaku perang tidak layak diabadikan sebagai nama jalan raya?
Di masa revolusi fisik sebelum tahun 1945, memang kelihatannya kalangan tentara dan politikus lebih berperan. Apalagi kalau mengenang pelajaran sejarah di sekolah, bahwa TNI, yang dulu ABRI, dan bercikal-bakal dari BKR, manunggal dengan rakyat. Namun, benarkah peran para cendekiawan tidak sebesar kalangan militer? Apalagi setelah kemerdekaan negeri ini diproklamasikan dan pembangunan "bangsa baru" berlangsung. Mungkinkah sebuah negeri terbentuk dengan menghimpun kekuatan fisik belaka, tanpa proses intelektual di baliknya?
Dan enam puluh tahun lebih setelah negeri ini merdeka, seorang dosen lulusan S3 pun hengkang ke negeri jiran bersama istri dan kelima anaknya. Apa daya, penghasilan yang dia peroleh sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi negeri tidak cukup untuk membiayai hidup keluarganya yang tergolong besar untuk ukuran saat ini. Entah bagaimana proses administrasi yang harus dia tempuh untuk bisa mengundurkan diri dari jabatan pegawai negeri sipil. Yang jelas, gelar S3 yang diperolehnya di luar negeri pun tidak lepas dari statusnya sebagai dosen penerima beasiwa.
Sudah terlalu sering hal seperti ini terjadi, bahkan cenderung klise. Orang genius, pintar dan berbakat tidak mendapat tempat di negeri ini, lantas mau tidak mau pindah untuk memperdalam, mengembangkan, dan mengaplikasikan ilmu di negeri lain. Paling-paling kita mendengar kabar selentingan bahwa ada doktor asal Indonesia bidang ini atau itu yang meraih prestasi luar biasa untuk skala dunia (!), dan kita bagaikan orang terakhir yang mendengarnya.
Kita semua membenarkan saja ketika para pendidik disebut sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa", sampai tamparan itu datang ketika seorang kepala sekolah SD harus merangkap sebagai pemulung untuk menyambung hidup. Parahnya, pendapatannya sebagai pemulung lebih besar daripada pendapatan sebagai pendidik.
Jangan-jangan, penghargaan kita terhadap ilmu dan pendidikan sudah sedemikian rendahnya, bahkan nyaris tidak ada. Kita belajar bukan supaya bisa mengembangkan pola pikir analitis dan kritis, memperdalam ilmu atau mengembangkannya, syukur-syukur bisa membaginya dengan orang banyak. Alih-alih, kita belajar supaya bisa mencari uang dan kedudukan. Diperparah lagi dengan konsep link and match yang kelewat pragmatis, sehingga melahirkan angkatan-angkatan kerja yang pandai, siap menjalankan tugas namun bersikap seperti robot. Akhirnya, banyak orang pintar, tapi pintar untuk diri sendiri. Ah, saya jadi teringat dosen saya dulu yang lulusan S3 dari Jepang. Semasa kuliah, banyak mahasiswa yang tidak bisa memahami materi yang dia sampaikan. Padahal di berbagai laporan ilmiah, resumenya bisa sangat panjang sampai beberapa halaman. Begitu nilai ujian keluar, hampir semua peserta kuliahnya mendapatkan nilai C. Mungkin dia memang tidak bisa mengajar, karena tidak suka. Sekarang dia sudah jadi birokrat. Menurut saya, keberuntungan ada di tangan para mahasiswa yang tidak perlu merasakan bingung diajari olehnya.
PS : Nama Pak Mujair juga tidak diabadikan sebagai nama jalan, padahal jasanya sudah dinikmati oleh berjuta-juta orang Indonesia
Di masa revolusi fisik sebelum tahun 1945, memang kelihatannya kalangan tentara dan politikus lebih berperan. Apalagi kalau mengenang pelajaran sejarah di sekolah, bahwa TNI, yang dulu ABRI, dan bercikal-bakal dari BKR, manunggal dengan rakyat. Namun, benarkah peran para cendekiawan tidak sebesar kalangan militer? Apalagi setelah kemerdekaan negeri ini diproklamasikan dan pembangunan "bangsa baru" berlangsung. Mungkinkah sebuah negeri terbentuk dengan menghimpun kekuatan fisik belaka, tanpa proses intelektual di baliknya?
Dan enam puluh tahun lebih setelah negeri ini merdeka, seorang dosen lulusan S3 pun hengkang ke negeri jiran bersama istri dan kelima anaknya. Apa daya, penghasilan yang dia peroleh sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi negeri tidak cukup untuk membiayai hidup keluarganya yang tergolong besar untuk ukuran saat ini. Entah bagaimana proses administrasi yang harus dia tempuh untuk bisa mengundurkan diri dari jabatan pegawai negeri sipil. Yang jelas, gelar S3 yang diperolehnya di luar negeri pun tidak lepas dari statusnya sebagai dosen penerima beasiwa.
Sudah terlalu sering hal seperti ini terjadi, bahkan cenderung klise. Orang genius, pintar dan berbakat tidak mendapat tempat di negeri ini, lantas mau tidak mau pindah untuk memperdalam, mengembangkan, dan mengaplikasikan ilmu di negeri lain. Paling-paling kita mendengar kabar selentingan bahwa ada doktor asal Indonesia bidang ini atau itu yang meraih prestasi luar biasa untuk skala dunia (!), dan kita bagaikan orang terakhir yang mendengarnya.
Kita semua membenarkan saja ketika para pendidik disebut sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa", sampai tamparan itu datang ketika seorang kepala sekolah SD harus merangkap sebagai pemulung untuk menyambung hidup. Parahnya, pendapatannya sebagai pemulung lebih besar daripada pendapatan sebagai pendidik.
Jangan-jangan, penghargaan kita terhadap ilmu dan pendidikan sudah sedemikian rendahnya, bahkan nyaris tidak ada. Kita belajar bukan supaya bisa mengembangkan pola pikir analitis dan kritis, memperdalam ilmu atau mengembangkannya, syukur-syukur bisa membaginya dengan orang banyak. Alih-alih, kita belajar supaya bisa mencari uang dan kedudukan. Diperparah lagi dengan konsep link and match yang kelewat pragmatis, sehingga melahirkan angkatan-angkatan kerja yang pandai, siap menjalankan tugas namun bersikap seperti robot. Akhirnya, banyak orang pintar, tapi pintar untuk diri sendiri. Ah, saya jadi teringat dosen saya dulu yang lulusan S3 dari Jepang. Semasa kuliah, banyak mahasiswa yang tidak bisa memahami materi yang dia sampaikan. Padahal di berbagai laporan ilmiah, resumenya bisa sangat panjang sampai beberapa halaman. Begitu nilai ujian keluar, hampir semua peserta kuliahnya mendapatkan nilai C. Mungkin dia memang tidak bisa mengajar, karena tidak suka. Sekarang dia sudah jadi birokrat. Menurut saya, keberuntungan ada di tangan para mahasiswa yang tidak perlu merasakan bingung diajari olehnya.
PS : Nama Pak Mujair juga tidak diabadikan sebagai nama jalan, padahal jasanya sudah dinikmati oleh berjuta-juta orang Indonesia






