Selamat
pagi, siang, sore dan malam! Apa kabar, semuanya? Semoga baik-baik saja
dan sehat-sehat saja. Kesehatan itu penting, lho, semua orang tahu itu.
Tidak seperti sekian banyak acara tivi yang membuat sesuatu yang tidak
penting menjadi penting, atau berita koran dan majalah yang membuat
sesuatu yang seakan-akan penting menjadi penting
beneran. Kesehatan itu penting, titik. Kecuali bagi Anda yang ingin cepat-cepat kembali kepada Yang Menunggu.
Wah,
belum memperkenalkan diri, sudah melantur omong sana-sini. Perkenalkan,
nama saya Jok Kursi Bus, anak tiri dari keluarga Bus. Di kalangan teman
dan kerabat, tadinya saya biasa dipanggil Joker. Tapi, ya, gitu deh.
Belakangan ini saya memilih ganti nama panggilan, karena mereka yang
biasa memanggil Joker jadi suka mengolok-olok saya. Katanya saya
seperti tokoh, atau selebriti, atau entah siapa, ya? Pokoknya orang
terkenal, tapi terkenalnya jelek, gitu. Malu, kan, terkenal kok karena
hal-hal jelek? Biarpun saya cuma anak tiri dari keluarga Bus dan
tampang saya butut, tapi orang tua saya sayangnya minta ampun sama
saya. Mungkin karena saya paling nggak punya banyak permintaan, ya?
Sepupu
saya, Gorden Bus, biarpun tampangnya butut merasa lebih beruntung
daripada saya. Kadang-kadang dia bercanda menyombongkan diri pula. "Gua
masih bisa merasakan direndam air, disabunin. Elu, sudah nggak pernah
mandi, didudukin banyak orang, nggak pernah kena matahari lagi."
Saya
sudah lupa, kapan tepatnya saya lahir atau dilahirkan. Dibuat, istilah
manusianya. Sudah lama sekali. Masa bakti saya di tengah-tengah
keluarga Bus pun sudah puluhan tahun. Ketika saya baru mulai bekerja,
waktu tempuh dari ujung timur ke ujung barat Jakarta hanya
sekitar 10 menit, kalau tidak mengetem. Sekarang? Duh, amit-amit, bisa
dua jam! Kadang saya capai, letih dan bosan, tapi saya sangat mencintai
pekerjaan saya. Mungkin itu sebabnya saya tidak kunjung dipensiunkan,
ya?
Ah, saya sih nggak mengeluh, sebenarnya. Saya cuma kasihan
pada para pemakai saya yang sudah membayar dengan tertib sesuai tarif.
Mereka kebanyakan pekerja, pegawai kecil. Kelihatannya saja keren,
rapi, padahal sebetulnya sama saja kuli. "Kuli terpelajar hahaha", kata
cowok karyawan bank yang pernah menduduki saya. Saya ingat dia
bilangnya pakai embel-embel "hahaha" itu. Katanya, terpelajar pun
sebenarnya ada macam-macam. Ada terpelajar tingkat TK, SD, SMP, SMA,
bahkan perguruan tinggi. Juga ada "seakan-akan terpelajar". Saya tidak
tahu tergolong terpelajar yang mana si cowok itu. Moga-moga bukan yang
"seakan-akan".
Yah, beginilah saya. Terima saja kalau ada yang
mencela, apalagi sekadar bercanda. Tidak semua orang harus menyukai
saya, meskipun sebetulnya hati kecil saya ingin menyenangkan banyak
orang. Di antara sekian banyak manusia, mungkin ada saja satu dua orang
yang menganggap saya menarik. Ini bukan gede rasa, lho. Buktinya ada
penumpang yang memotreti saya. Tadinya sih dia duduk manis saja,
sewaktu bus mengetem. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dan
mengarahkannya pada wajah saya. Oh, ternyata saya difoto. Setelah puas
memotret, dia tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya. Manusia memang
banyak yang aneh.