GARA-GARA PAPAN NAMA
Pernah ada turis bule datang ke rumah kami. Dengan merah muka menahan malu karena kaget melihat dokternya wanita, ia mengaku malam sebelumnya mengencani wanita penghibur. Ia minta "ibu dokter" memberinya suntikan antibiotik atau sejenisnya untuk mencegah tertular penyakit kelamin. Sambil menahan senyum, ibu saya menjelaskan, obat antibiotik ada, tapi dokternya tidak ada. Lalu ibu saya menunjukkan rumah dokter umum yang berpraktik di kompleks kami. Si bule pun bergegas pergi ke sana. Pulang dari "dokter beneran", bule tadi lewat depan rumah kami sambil menunduk dan senyum-senyum sendiri. Geli atas kekeliruannya tadi, barangkali!
Ada pengalaman lain lagi. Suatu malam, kira-kira pukul 22.00 datang seorang pria bermobil. Ia terlihat panik, dan mengaku sedang membawa pasien dalam keadaan gawat dan perlu pertolongan segera. Saat itu kakak perempuan saya yang menemui. Kakak saya bilang,"Dokter sedang keluar kota, baru besok sore pulang. Sebaiknya pasien dibawa ke klinik terdekat." Tanpa berpikir panjang, pria itu menuruti saran kakak saya. Selang beberapa hari, terdorong rasa ingin tahu, saat bertemu si empunya klinik hewan yang berpraktik di kompleks sebelah, ibu saya bertanya, "Apa sih yang diderita pasien gawat malam itu?" Jawabnya, "Kumaha (bagaimana) ibu dokter teh. Saya mah cuma mengobati hewan, kok disuruh mengobati orang mencret-mencret! Yang tempo hari itu orang sakit diare, Bu!"
Sampai sekarang ibu masih praktik, tapi papan nama dokter hewan sudah dicopot. Anehnya, justru setelah itu tak pernah ada lagi "pasien manusia" yang nyasar.
P.S. :
1. Tulisan pernah dimuat di Majalah Intisari Edisi 7 Agustus 1997. Wadaw! Jadul banget yak?!
2. Sekarang ibu saya sudah nggak praktik lagi. Jangan minta diobati lho






