<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Aug 14, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

GARA-GARA PAPAN NAMA

Masyarakat kita relatif kurang akrab dengan profesi dokter hewan, meski tak sedikit dari mereka yang memelihara binatang, baik sebagai hewan kesayangan maupun binatang ternak. Sehingga tidak jarang timbul kesalahpahaman berkaitan dengan profesi yang satu ini. Gara-garanya, papan nama sering kurang diperhatikan. Meski di depan rumah terpampang papan nama dokter hewan, ada saja "pasien manusia" yang "nyasar" minta diobati ibu saya, yang buka praktik di rumah.

Pernah ada turis bule datang ke rumah kami. Dengan merah muka menahan malu karena kaget melihat dokternya wanita, ia mengaku malam sebelumnya mengencani wanita penghibur. Ia minta "ibu dokter" memberinya suntikan antibiotik atau sejenisnya untuk mencegah tertular penyakit kelamin. Sambil menahan senyum, ibu saya menjelaskan, obat antibiotik ada, tapi dokternya tidak ada. Lalu ibu saya menunjukkan rumah dokter umum yang berpraktik di kompleks kami. Si bule pun bergegas pergi ke sana. Pulang dari "dokter beneran", bule tadi lewat depan rumah kami sambil menunduk dan senyum-senyum sendiri. Geli atas kekeliruannya tadi, barangkali!

Ada pengalaman lain lagi. Suatu malam, kira-kira pukul 22.00 datang seorang pria bermobil. Ia terlihat panik, dan mengaku sedang membawa pasien dalam keadaan gawat dan perlu pertolongan segera. Saat itu kakak perempuan saya yang menemui. Kakak saya bilang,"Dokter sedang keluar kota, baru besok sore pulang. Sebaiknya pasien dibawa ke klinik terdekat." Tanpa berpikir panjang, pria itu menuruti saran kakak saya. Selang beberapa hari, terdorong rasa ingin tahu, saat bertemu si empunya klinik hewan yang berpraktik di kompleks sebelah, ibu saya bertanya, "Apa sih yang diderita pasien gawat malam itu?" Jawabnya, "Kumaha (bagaimana) ibu dokter teh. Saya mah cuma mengobati hewan, kok disuruh mengobati orang mencret-mencret! Yang tempo hari itu orang sakit diare, Bu!"

Sampai sekarang ibu masih praktik, tapi papan nama dokter hewan sudah dicopot. Anehnya, justru setelah itu tak pernah ada lagi "pasien manusia" yang nyasar.
 
P.S. :
1. Tulisan pernah dimuat di Majalah Intisari Edisi 7 Agustus 1997. Wadaw! Jadul banget yak?! Shocked
2. Sekarang ibu saya sudah nggak praktik lagi. Jangan minta diobati lho Tongue


Aug 11, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

TERDESENSITISASI

Kemarin, pagi hari yang seharusnya diawali dengan cerah jadi agak terganggu. Ketika bus yang saya tumpangi masih ngetem di terminal Bogor, kedua penumpang di depan saya mulai membaca koran mereka. Pandangan saya tertumbuk pada berita tentang wanita korban pembunuhan di Serang, Jawa Barat. Di sisi judul berita, terpampang gambar close-up berukuran besar dari si korban, yang jasadnya ditemukan di dalam ember. "Sial," pikir saya. "Kenapa gua ikut 'ngintip koran tetangga? Kalau nggak 'ngintip, gua nggak akan lihat foto seram itu."

Pagi itu saya memutuskan untuk tidak tidur ayam atau tidur beneran atau membaca. Begitu bus memasuki jalan tol Jagorawi menuju Jakarta, yang saya inginkan cuma melihat-lihat pemandangan hijau di balik jendela. Sementara penumpang di sebelah kanan saya membuka bungkus sarapannya (kayaknya rotinya enak deh Surprise), kedua penumpang di depan saya semakin asyik membaca. Foto seram tadi masih terbayang jelas di pikiran saya. Apa kira-kira yang dirasakan keluarga si korban kalau tahu foto anggota keluarga mereka terpampang sedemikian jelas, dilihat orang banyak dalam kondisi mengenaskan seperti itu? Ah, sungguh tidak terbayangkan. Bohong kalau saya bilang bahwa saya bisa berempati dan paham perasaan mereka.

Semakin lama kita semakin terbiasa dengan kekerasan. Kita membaca kekerasan sebagai pengantar perjalanan ke tempat kerja. Kita menonton berita kekerasan sebagai pengantar makan siang. TV dan koran suka berita ekstrem karena berita ekstrem berarti uang. Orang berbuat semakin ekstrem karena semakin ekstrem berarti masuk TV dan koran. Lalu, di mana Anda berada? Di mana saya? Haruskah hari-hari kita rusak karena dijejali kekerasan dan rasa takut?

Penumpang di sebelah saya sudah selesai sarapan dan mengakhirinya dengan air mineral. Kedua penumpang di depan saya bersiap-siap untuk tidur seusai membolak-balik koran mereka. Pengamen cilik (ah, saya sudah terbiasa melihat pengamen cilik) masih bersikeras melantunkan lagu-lagu, sementara saya masih memandangi segala yang ada di balik jendela. "Dunia tidak seseram yang ada di TV dan koran," batin saya menghibur diri.


Aug 9, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

SEKARUNG NYAWA

Obrolan antara sopir dan kondektur bus menjelang gerbang tol Bogor :

+ Dasar mobil pribadi, enak aja nyalip-nyalip begitu
- Dia kagak ngarti apa, nyalip di tikungan bahaya banget?
+ Padahal kalo kecelakaan, dia sendiri yang mati
- Ah, kalo mobil kijang begitu, paling-paling yang mati tiga orang. Tuhan juga ngerti.
+ Iya. Nggak kayak kita. Bahaya. Penumpangnya kan banyak. Ini nyawa sekarung, nih!

Saya jadi teringat anekdot ini : sopir bus akan didahulukan masuk surga daripada ulama. Sementara ulama membuat jemaah mengantuk saat mendengarkan ceramah, sopir bus justru membuat para penumpang berdoa di sepanjang perjalanan. Membawa sekarung nyawa, tidak berarti mengemudi akan selalu berhati-hati. Dalam seminggu ini sudah beberapa kali bus kota yang saya tumpangi saling beradu pinggul, eh, kepala, dengan bus saingannya hingga mengalami patah spion Shocked


Aug 4, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Benny dan Mice

Apa ya, yang bisa menghibur hati gua kalau hari Sabtu harus tetap hadir di kantor? Hmmm.. Hah! Gua tahu..! Bahwa hari Sabtu akan terlewat tanpa terasa dan gua akan segera bertemu Benny dan Mice di Minggu pagi. Sayang seribu sayang, duet itu tidak bikin kelanjutan serial Lagak Jakarta yang cuma gua miliki tiga seri dari inibuku.

Sebetulnya gua cuma penyuka komik sih, belum pencinta atau penggila, apalagi pembuat seperti Doctor Animator ini. Mungkin benar, komik bisa jadi terapi bagi sebagian orang. Dulu sekali, saat masih kelas 2 SMP dan harus menunggui kakak yang diopname, sebelum ke rumah sakit gua sengaja beli "Asterix dan Cleopatra" yang ikonis itu. Lumayan manjur untuk mengurangi ketegangan dua anak ABG yang harus bermalam di rumah sakit berdua saja, sementara kegaduhan berlangsung di tempat tidur pasien di sebelah kami yang terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal malam itu juga..

Kembali lagi ke Benny dan Mice. Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sangat luwes dan membumi dalam menggambarkan peristiwa sehari-hari Jakarta. Salah satu yang menarik buat gua adalah pada detail akurat dan penokohan yang kuat. Contohnya, interior bajaj pada edisi "Transportasi " Lagak Jakarta. Hm, kebayang nggak sih, selama naik bajaj kita jelalatan dan mencatat semua pernak-perniknya? Belum lagi tokoh sopir bajaj ngeselin tapi lucu yang dimunculkan lagi di edisi "Hura-hura Pemilu". Kalau ada yang suka baca Kompas Minggu, mungkin masih ingat kocaknya Benny dan Mice yang mengalungkan hard-disk sekian GB di lehernya untuk menyaingi orang-orang berkalung flash-disk? Sering kali Benny dan Mice memang menyindir betapa gengsiannya kaum urban, tanpa harus berkata, "Makan tuh gengsi!" Shades

P.S. : Pingin juga sih, melihat Benny dan Mice difilmkan. Mungkin Desta dan Vincent dari Club '80s cocok memerankannya? Big Smile


Jul 31, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Sepatu Bola Cantik

+ Mas, mas. Ini sepatu untuk olahraga apa sih, Mas?
- Oh, kalau kata orang, ini namanya sih sepatu futsal.
+ Oh, futsal. Kalau yang untuk sepak bola lapangan biasa, nggak ada, ya?
- Ini ada, tapi untuk orang dewasa.
+ Saya carinya buat anak-anak, Mas.
- Kelas berapa?
+ Kelas lima. Ya, nomor 37 deh.
- Untuk main-main atau main gimana?
+ Ya, untuk main dan untuk pertandingan juga.
- Kalau memang untuk pertandingan, lebih baik sepatu bola beneran seperti ini sekalian. Tapi, di sini cuma ada yang untuk orang dewasa.
+ Yaah.. Kalau gitu saya pilih yang buat futsal ini deh. Tapi minta yang nomor 37, ya?
- Wah, kalau pilih yang ini, anaknya pasti nggak mau pakai..!
+ Lho, kenapa, Mas?
- Ya, anak laki-laki mana mau pakai sepatu warnanya merah muda begini?!
+ Lho, ini bukan anak laki-laki. Yang mau pakai ini anak perempuan..
- Haaah? Perempuan...?!

(Lho.. Masnya ngacir...)

Setelah menghilang beberapa menit (padahal saya dan adinda belum selesai tanya-tanya) dan sempat digantikan rekannya, si pramuniaga kembali lagi dengan sepatu pajangan tadi. Katanya, sepatu yang saya cari tidak ada yang bernomor 37. Hmm, perburuan sepatu bola untuk Mbak Oyi harus dilanjutkan kali lain... Sabar ya, Bek cantik!


Jul 24, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

WANTI-WANTI SANG PAKAR

Sekitar sebelas tahun yang lalu, saya iseng mengikuti kuliah perdana di awal semester yang disampaikan oleh Teddy Boen. Iseng, karena mata kuliahnya tidak wajib bagi saya. Iseng, karena saya duduk di kelas cuma karena ingin tahu seperti apa seorang pakar gempa menyampaikan kuliah. Lalu, apa yang paling mengesankan dari kuliah yang hanya saya ikuti sekali itu? Ternyata wanti-wanti Pak Dosen di awal dan diulangi di akhir kuliah adalah, "Kalau ada gempa, masuk ke kolong meja." Tentu yang dimaksud, meja yang cukup kokoh.

Lalu, apakah wanti-wanti tersebut saya amalkan? Ternyata tidak. Saat mengalami gempa, di rumah maupun di kantor, saya tidak pernah masuk ke kolong meja. Saat saya di rumah dan ada gempa sekitar 4 tahun yang lalu, saya dan seisi rumah lari ke luar (setahu saya ini tindakan naluriah penyelamatan diri). Tapi, di kantor saya yang terletak di lantai 17? Pada kenyataannya, selama beberapa kali gempa terjadi dalam beberapa tahun, saya dan beberapa rekan kerja lebih memilih tetap berdiam di kantor. Terus terang, lebih karena malas untuk turun tangga darurat sebanyak 17 lantai, karena lift tidak boleh dipergunakan apabila kebakaran atau gempa terjadi. Mungkin juga, karena selama ini kami menganggap gedung kami aman dan gempa yang terjadi tidak akan meruntuhkan gedung. Sejauh ini, gedung rusak di Jakarta lebih sering karena pembakaran atau kebakaran.

Sekian tahun tidak mendengar namanya -lantaran saya termasuk kaum banting setir- ternyata Pak Dosen masih setia berkiprah dengan gempa. Salah satu berita tentangnya sehubungan dengan pemulihan Aceh pascatsunami, ketika beliau menyarankan agar sebagai penduduk di daerah rawan gempa, kita tidak takut tinggal di rumah retak. Juga ikut ke Yogya dalam sosialisasi membangun rumah tahan gempa . Sebagai tindakan preventif, untuk menghindarkan jatuhnya korban kalau gempa terjadi lagi. Begitu gambarannya kira-kira.

Kembali ke soal penyelamatan diri jika ada gempa, mungkin anak-anak SD di Jepang lebih paham daripada saya. Mereka tumbuh dewasa bersama gempa. Apa rasanya, ya? Sama nggak dengan anak-anak penghuni bantaran Ciliwung yang langganan tiap tahun rumahnya terendam banjir? Hm, ini perbandingan ngawur banget, yak? Sama ngawurnya dengan setelah turun 17 lantai, bukannya menjauh, eh malah duduk-duduk di samping gedung..

Update :
1. Rumah instan tahan gempa harganya Rp. 14 juta
2. Ternyata, turun tangga 17 lantai bisa mengakibatkan pegal kaki selama dua hari dua malam.. Gimana kalau 40 lantai, yak?


Jul 17, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Nyasar Pandora

Dalam beberapa hari ini ada minimal 9 orang mencari arti kata "Kotak Pandora" dan menyasar ke sini. Big Smile Ada apa gerangan? Shocked


Jul 12, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kue, Jangan Uang

Sudah menerima e-mail terusan yang isinya mengajak kita untuk tidak memberi uang pada anak jalanan? Saya sudah, dan menurut saya itu ajakan yang cukup menarik. Di e-mail itu dijelaskan, memberi uang pada anak jalanan berarti membahayakan keselamatannya dan tidak mendidik. Mungkin perlu ditambahkan : manipulatif.

Pemberian uang pada anak jalanan yang mengamen atau mengemis, menurut e-mail itu, cenderung tidak membantu mereka. Sering kali diberitakan bahwa uang tersebut akhirnya bukan dipakai untuk membeli makanan atau membayar biaya sekolah, melainkan untuk ngelem, main ding dong atau jatuh ke tangan pemalak. Uang membuat posisi si anak semakin rentan. Bukankah uang merupakan pemicu paling jitu bagi tindak kejahatan paling teri?

Alasan mengajari anak untuk mengamen agar bisa mandiri, menurut saya mengada-ada. UUD '45 pasal 34 menyebutkan, "Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara" (kenapa "dipelihara", bukan "dijamin", ya?). Kalau memang kita ingin mengikuti sistem yang "dibenarkan" dan tidak memanipulasi golongan yang dianggap lemah, pekerja anak-anak tidak seharusnya ada dalam bentuk apa pun. Dunia anak adalah dunia bermain, titik. Sampai sejauh mana kita bisa memastikan bahwa mereka menikmati apa yang mereka lakukan, dan bukan tunduk, menyerah kepada sebentuk kekuasaan atas diri mereka?

Saya malu sewaktu serombongan kenalan dari Malaysia berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu. Mereka terkejut saat melihat begitu banyaknya anak-anak usia sekolah yang mengamen dan mengemis di jalanan Jakarta. Ini sungguh kontradiktif dengan apa yang mereka dengar tentang kemegahan Jakarta. Siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas kegilaan ini?

Memberi uang pada anak jalanan bisa jadi sedikit membantu, tapi di sisi lain justru menjerumuskan mereka. Boleh saja sih mengungkapkan kasih sayang dengan memberi sesuatu, tapi bentuk kasih sayang bukan cuma uang, kan? Jika ingin membantu sekaligus mengurangi risiko mereka kena palak, kasih sayang itu bisa saja berupa kue, buah, susu atau bahkan pensil dan buku. Repot? Nggak juga kok..


Jul 7, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Tidak Semua...

Tidak semua harus atau bisa diposting di blog. Dulu saya mengira, blog akan bisa menampung seratus persen uneg-uneg saya, seperti halnya buku harian saya sejak SD hingga kuliah. Berisi keinginan, khayalan, hasrat, pengalaman sehari-hari, protes, bahkan kalau perlu caci-maki saya. Ternyata tidak. Banyak ide-ide yang muncul seketika dan terlihat menarik (baca : bagi saya) untuk diposting, setelah ditimbang-timbang akhirnya terbenam di kepala saya sendiri Big Smile

Jadi, maaf-maaf saja ya, ternyata tidak semua hal bisa, harus, atau boleh diposting Shades


Jul 6, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Sekilas tentang Sindrom Stevens Johnson

On the wings of love
Up and above the clouds
The only way to fly
Is on the wings of love
On the wings of love
Only the two of us
Together flying high
Flying high
Upon the wings of love

("On The Wings of Love" by Jeffrey Osborne)

Alergi obat fatal? Entah berapa persisnya jumlah penderita Sindrom Stevens Johnson di Indonesia. Info tentang hal ini juga sulit saya temukan, mungkin karena penderitanya masih jarang. Sekadar gambaran umum, alergi ini merupakan hipersensitivitas terhadap obat-obatan, infeksi, keganasan seperti kanker, serta penyebab yang tidak bisa dipastikan. Hm, saya jadi kebayang bingungnya para dokter menghadapi pasien hipersensitivitas akibat antibiotika. Bukankah pemberian antibiotika tidak bisa dihentikan tiba-tiba? Di satu sisi pasien harus membentuk kekebalan terhadap penyakitnya, di sisi lain antibiotika yang diberikan malah menimbulkan reaksi berlebihan. Gejala yang umum sindrom ini adalah infeksi saluran pernapasan, demam tinggi, nyeri kepala, sulit makan dan minum, kelainan kulit seperti melepuh dan muncul koreng.

Sindrom ini bisa menimpa siapa saja. Sulit untuk percaya ketika saya menerima kabar bahwa seorang kawan kuliah yang "ramah, serius, rendah hati dan ringan tangan", sembilan hari yang lalu wafat karena Sindrom Stevens Johnson, setelah sebelumnya menderita radang tenggorokan. Selamat jalan, Kawan. Kalau memang kasih memiliki sayap, kuharap kini kau teduh di bawah naungannya.

P.S. : Cuplikan lirik di atas pernah dinyanyikan kawan saya ini di ruang lab kampus kami 10 tahun yang lalu, mengikuti alunan lagu dari radio. Suaranya memang sangat bagus Smile







Blogdrive