TERDESENSITISASI
Pagi itu saya memutuskan untuk tidak tidur ayam atau tidur beneran atau membaca. Begitu bus memasuki jalan tol Jagorawi menuju Jakarta, yang saya inginkan cuma melihat-lihat pemandangan hijau di balik jendela. Sementara penumpang di sebelah kanan saya membuka bungkus sarapannya (kayaknya rotinya enak deh
Semakin lama kita semakin terbiasa dengan kekerasan. Kita membaca kekerasan sebagai pengantar perjalanan ke tempat kerja. Kita menonton berita kekerasan sebagai pengantar makan siang. TV dan koran suka berita ekstrem karena berita ekstrem berarti uang. Orang berbuat semakin ekstrem karena semakin ekstrem berarti masuk TV dan koran. Lalu, di mana Anda berada? Di mana saya? Haruskah hari-hari kita rusak karena dijejali kekerasan dan rasa takut?
Penumpang di sebelah saya sudah selesai sarapan dan mengakhirinya dengan air mineral. Kedua penumpang di depan saya bersiap-siap untuk tidur seusai membolak-balik koran mereka. Pengamen cilik (ah, saya sudah terbiasa melihat pengamen cilik) masih bersikeras melantunkan lagu-lagu, sementara saya masih memandangi segala yang ada di balik jendela. "Dunia tidak seseram yang ada di TV dan koran," batin saya menghibur diri.






