<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank'><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>

Jul 23, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

yang tiba-tiba baik hati



Namanya juga zaman modern. Segalanya (harus) serba cepat, (harus) serba instan. Bagi sebagian orang, tidak perlu jadi orang rajin dan pintar untuk meraih gelar S1, S2 bahkan S3. Tidak perlu berusaha keras untuk punya uang banyak, asal kreatif, tahu celah dan taktiknya. Dan yang terakhir, tidak perlu jadi orang kaya untuk punya barang mewah di luar kebutuhan primer. Caranya? Mencicil!

Sekarang, semakin banyak bank yang tiba-tiba jadi baik hati, menawarkan pinjaman uang atau kredit tanpa persyaratan. Eh, baik hati? Bukan hadiah atau sumbangan, kok. Itu jelas-jelas membungakan pinjaman. Pantas saja prosesnya cepat, yang satu ini cuma 7 hari. Kalau pinjam dari teman, kerabat atau tetangga, bisa jadi harus menunggu lama. Belum lagi kalau dikasih petatah-petitih segala, atau jadi omongan orang.

Kata orang-orang yang paham soal ekonomi, uang yang ngendon lama di bank itu nggak sehat. Uang harus diputar. Tahu, kan, istilah "perputaran roda ekonomi"? Maksudnya, kalau di satu sisi ada produksi, di sisi lain harus ada konsumsi. Kalau produksi jalan terus, tapi konsumsi nggak jalan, roda ekonomi bakal mandek. Lama-kelamaan, produsen juga bakal rugi dan bangkrut. Bagaimana caranya supaya konsumen punya kekuatan untuk mengonsumsi? Dengan memberinya modal untuk melakukan kegiatan perekonomian yang produktif sehingga daya belinya naik? Ah, terlalu lama. Ingat, di zaman modern ini, kecepatan adalah kuncinya. Maka, kredit konsumtif menjadi jawabannya. Semakin konsumen bersifat konsumtif, semakin produsen terdorong untuk menjadi produktif. Dan, semakin cepat pula roda ekonomi berputar. Kalau masalah dampak sih, gimana nanti sajalah..


Jul 9, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

pekerja sayang, pekerja (jangan) malang

Peristiwa yang dialami oleh ke-1.500 karyawan P.T. Cadbury Indonesia tidak semanis cokelat buatan mereka, setelah Cadbury memutuskan untuk menghentikan kegiatan produksinya di Indonesia dan pindah ke Thailand. Para karyawan pabrik yang berkantor pusat di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur ini mengalami pemutusan hubungan kerja setelah kegiatan operasional pabrik dianggap tidak efisien lagi. Alasan yang dikemukakan pihak Cadbury adalah naiknya harga bahan baku.

Seperti halnya banyak industri lain, jalan yang dianggap masuk akal demi menekan biaya produksi (dengan keuntungan yang sama) adalah penambahan waktu kerja, pengurangan jumlah tenaga kerja atau pemakaian tenaga kerja yang lebih murah. Pilihan pertama dan kedua semakin lama semakin tidak populer, selain karena posisi tawar pekerja yang 'semakin membaik' (benar-benar tanda kutip), bisa jadi juga karena ada proses tertentu dalam rantai produksi yang tidak bisa tergantikan sepenuhnya dengan mesin. Oleh karena itulah, pemindahan pabrik ke wilayah dengan tenaga kerja lebih murah semakin banyak dipilih.

Bagi sebagian orang, pemutusan hubungan kerja atau PHK bukanlah akhir dari segalanya. Ada saja kisah sukses dari sekian individu yang justru menemukan penghidupan lebih baik secara mandiri ketimbang bekerja pada orang lain. Seingat saya, ketika salah seorang kerabat mengalami PHK sekitar 20 tahun lalu, tekanan yang dialaminya sangat berat. Entah bagaimana dengan sekarang, dalam kondisi ketika sebuah perusahaan bisa gulung tikar di mana saja dan kapan saja. Dan, sekali lagi, meskipun tidak pukul rata, posisi tenaga kerja di Indonesia bisa dikatakan 'semakin membaik' dibandingkan puluhan tahun lalu.

Generasi kakek nenek atau ayah ibu kita mungkin masih menjunjung tinggi loyalitas pada tempat mereka bekerja. Ada ikatan emosional yang kuat -bahkan sangat kekeluargaan- antara atasan dengan bawahan, antara pemilik usaha dengan karyawan. Generasi sekarang? Sudah tidak aneh lagi jika seorang karyawan mengundurkan diri dengan mengemukakan alasan terus terang akan bekerja di tempat lain. Apalagi di perusahaan besar. Rasa sungkan mungkin ada, tapi mungkin lebih ke hubungan personal antarkaryawan atau atasan-bawahan. Secara keseluruhan, perusahaan akan tetap stabil dengan keluar-masuknya satu atau dua karyawan.

Satu hal yang tidak bisa diubah adalah kemungkinan dilaksanakannya PHK akan selalu ada. Mengapa? Ini terkait dengan keinginan perusahaan untuk selalu berekspansi. Ekspansi berarti penyerapan tenaga kerja baru, hingga jika pada suatu titik ketika pasar telah jenuh (misalnya akibat kompetensi atau daya beli menurun), dan efisiensi pertama yang dilakukan adalah rasionalisasi tenaga kerja alias PHK. Akan terasa tidak adil jika tenaga kerja harus selalu mengerahkan tenaga dan loyal kepada perusahaan, bahkan memperbaiki kualitas diri demi menunjang keinginan ekspansi pemilik modal, padahal di satu sisi posisinya rentan terhadap PHK. Mirip cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Mungkin benar, perusahaan akan selalu merasa pekerjanya kurang produktif dan sebaliknya para pekerja akan selalu merasa perusahaan menuntut terlalu banyak dari dirinya. Menurut saya, di atas segala-galanya, tugas profesi adalah hal utama yang harus diprioritaskan oleh para pekerja. Dia dibayar untuk melaksanakan tugas dan karena dia bekerja setiap hari, sudah selayaknya dia mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk kembali melaksanakan tugas keesokan harinya "dengan kinerja stabil". Dengan demikian, upah itu bukan sekadar imbalan atas pelaksanaan tugas, tetapi juga untuk pemeliharaan tenaga agar kondisinya tetap terjaga selama hari-hari berikutnya. Agar si pekerja tetap hidup dan produktif ! Big Smile.

Cukuplah bagi pekerja untuk mencurahkan 8-10 jam per hari bagi perusahaannya. Dan, sisa waktunya bisa digunakan untuk pemulihan tenaga dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak harus melulu berhubungan dengan perusahaan. Mungkin ada di antara Anda yang meyakini bahwa bekerja adalah salah satu bentuk ibadah (termasuk saya, tentu saja), izinkan saya sekadar mengingatkan bahwa sistem kapitalisme yang menguasai sebagian besar dunia kita sekarang ini adalah buatan manusia, bukan Tuhan Shades.

PS : Anda mengira para ibu rumah tangga tidak bekerja? Salah! Merekalah para penghasil dan pemelihara tenaga kerja yang sebenarnya sejak ribuan tahun lalu

Jul 4, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

transaksi itu bernama pernikahan (kata saya)

Baiklah, kali ini posting tentang pernikahan, menurut sudut pandang saya. Bukan karena sok tahu lantas mau kasih petatah-petitih atau apa, tapi sekadar berbagi dengan Anda sekalian. Uneg-uneg yang muncul karena belakangan ini nikah siri sudah menjadi sesuatu yang biasa dan "terterima".

Sebagian besar orang menganggap bahwa pernikahan merupakan perwujudan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Tapi, khususnya di dunia Barat, anggapan ini sedikit demi sedikit gugur karena pada kenyataannya ada pasangan yang bisa hidup bersama bertahun-tahun meskipun tidak mengikat janji di depan Tuhan. Titik. Eh koma, karena itu khusus di dunia Barat. Kalaupun ada orang Timur yang berbuat seperti orang Barat, mereka pasti sudah siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi. Yang jelas, kalau ada pasangan memiliki anak di luar nikah, si anaklah yang akan menjadi korban. Akte kelahiran tidak akan bisa dibuat tanpa ada bukti nikah. Konsekuensi ini berbuntut panjang, karena menyangkut hak anak, menyangkut warisan, pendidikan dan lain-lain.

Bayangkan suatu kondisi terburuk, ketika seorang anak yang lahir di luar nikah tiba-tiba menjadi anak yatim. Dengan tidak adanya bukti hitam di atas putih, sulit sekali baginya untuk menuntut hak dari si ayah. Pernikahan bertujuan untuk melindungi pihak yang dianggap lemah, yaitu anak dan perempuan. Baiklah, kalau di zaman sekarang seorang perempuan mungkin tidak lagi lemah secara finansial, tapi percayalah. Selama ribuan tahun wanita memperjuangkan hak untuk bisa diakui, dan selama ribuan tahun pula mereka selalu berada dalam bayang-bayang pria. Secara teoretis dan logis, tidak mungkin memperbandingkan dua hal yang sama sekali berbeda, lantas menyimpulkan bahwa yang satu lebih lemah dari yang lain. Namun sayangnya, secara praktis, itulah yang terjadi. Dan untuk itulah pernikahan dibutuhkan. Pernikahan ada, diterima, bahkan oleh banyak kalangan diharuskan, karena pemikiran pragmatis.

Tidak mungkin memisahkan pernikahan dengan nilai-nilai religius, karena pernikahan adalah janji sakral di depan Tuhan. Tapi, syarat pernikahan dalam agama yang saya anut membuat saya berpikir bahwa ini bukan urusan agama belaka. Ini semacam transaksi bisnis antara dua rekanan yang berlandaskan rasa saling percaya untuk bekerja sama. Transaksi bisnis, lengkap dengan "tanda jadi" sebagai segel berupa mas kawin.

Sekarang bayangkan bila perusahaan yang Anda ajak kerja sama, tiba-tiba ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan lain. Apakah Anda ingin tetap melibatkan diri dengan melanjutkan kerja sama yang sudah berjalan? Atau Anda merasa rekanan Anda tidak akan mampu mempunyai lebih dari satu rekanan sekaligus, dan khawatir hak-hak Anda tidak akan dipenuhi? Jelas, sebagai pemilik perusahaan Anda berhak menuntut jika ada kelalaian dari pihak rekanan. Hak Anda tertera hitam di atas putih, lengkap dengan bukti bersegel. Kepentingan perusahaan Anda ada di atas segala-galanya. Dalam pernikahan, kepentingan ini tidak melulu bersifat materil, tapi juga moril. Kelihatannya mudah, padahal susah.

Bagaimana kalau Anda sebagai pihak yang ingin membuat transaksi dengan perusahaan yang sudah menjalankan kerja sama dengan rekanan lain? Tentunya Anda harus menerima jika rekanan lain tersebut ingin melindungi segenap kepentingannya, terlebih dia adalah pihak yang memang berhak untuk itu. Tidak bisa tidak, Anda membutuhkan persetujuan dari rekanan yang sudah lebih dulu menjalin kerja sama. Transaksi tidak akan sah jika dilakukan tanpa sepengetahuan rekanan lama.

PS : Ada yang bisa kasih info tambahan? Mari berdiskusi. Ini memang postingan yang membingungkan dan sungguh-sungguh di luar wilayah kekuasaan saya. Apa boleh buat, sudah telanjur terketik Shocked

Jun 23, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Isi Kepala yang Berbahaya



Apa sih isi kepala seorang kreator acara TV yang dianggap tidak bermutu?

Film "Confessions of A Dangerous Mind" diangkat dari buku berjudul sama, ditulis oleh Chuck Barris yang sekaligus menjadi tokoh sentral kisah ini. Film mengisahkan perjalanan karier Barris sebagai penulis lagu hingga menjadi pencipta sekaligus pemandu acara kuis-kuis yang sangat laris di jaringan TV Amerika Serikat pada tahun '70-an. Acara ciptaannya yang terkenal antara lain adalah kuis "The Gong Show", "The Dating Game" dan "The Newlywed Game".

Selain menjadi "orang TV", Barris dikisahkan terlibat dalam berbagai kasus pembunuhan. CIA yang menyelidiki riwayat hidup Barris rupanya memutuskan bahwa profilnya cocok untuk dipekerjakan sebagai agen rahasia, tepatnya pembunuh bayaran, guna menghabisi orang-orang yang dianggap mengancam keamanan nasional AS. Barris merelakan diri untuk mengikuti rekrutmen setelah dibujuk seorang agen perantara yang meyakinkan pentingnya patriotisme dan bahwa tugas itu adalah kewajibannya sebagai warga negara. Setelah menjalani serangkaian pelatihan kemiliteran dan strategi membunuh, Barris pun siap menjadi agen rahasia. Demikianlah, meskipun pada siang hari dia menghibur jutaan pemirsa TV dengan kuis, bisa jadi pada malam harinya dia beraksi sebagai pembunuh berdarah dingin.

Karier Barris yang sedikit demi sedikit menanjak pun tidak luput dari kejamnya industri TV yang sangat tergantung pada rating. Begitu acaranya dianggap tidak menguntungkan lagi, para petinggi jaringan TV akan langsung memutus kontrak. Beberapa acara ciptaannya terpaksa diputus di tengah jalan. Barris dituntut untuk selalu membuat acara yang segar, sensasional, memikat penonton dan menjaring pemasang iklan. Di pihak lain, Barris dituduh sebagai perusak standar acara TV di Amerika dan penyebab mundurnya peradaban. Barris telah membuktikan secara langsung, bahwa demi ketenaran dan uang, jutaan orang Amerika rela mempermalukan diri sendiri di TV. Juga mengungkapkan keburukan pasangan masing-masing "hanya demi sebuah mesin pemotong rumput". Seakan-akan segala hal begitu terukur dan terbeli dengan uang dan materi.

Tidak seorang pun tahu, apakah film dan buku ini merupakan murni autobiografi Chuck Barris. Juga tidak seorang pun tahu, bagaimana tekanan yang dihadapi Barris sesungguhnya. Film ini juga memuat beberapa wawancara dengan rekan-rekannya sesama selebrita TV. Salah satu kesaksian menyatakan bahwa Barris tidak suka dikritisi, dia tidak sanggup menerima kritik. Sebuah adegan memperlihatkan betapa Barris kontan merasa mual setelah seorang gadis jelita di kolam renang berkata pedas pada Barris. "Acara-acaramu memuakkan, memanfaatkan nasib orang-orang malang yang hanya membutuhkan sedikit perhatian. Memangnya siapa kamu, berani-beraninya meninggikan dirimu di tengah massa yang menyedihkan?"

Di puncak kariernya sebagai pemandu kuis "The Gong Show", Barris memutuskan untuk tidak lagi menjadi pembunuh bayaran. Dia merasa tidak sanggup menjalani kehidupan ganda dan terus-menerus dihantui sekian pembunuhan yang dia lakukan. "Saya tidak mau membunuh orang lagi, saya hanya ingin menghibur mereka," ujarnya. "Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan hiburan." Begitulah pendapat Barris tentang acara-acara ciptaannya.

Film ini mengasyikkan, penuh kejutan plot dan visualisasi dramatis, juga menghibur mereka yang ingin melihat akting "lain dari yang lain" George Clooney maupun Julia Roberts. Orang-orang boleh saja berdebat tentang kebenaran isi ceritanya, CIA pun sampai merasa perlu untuk memberi penyangkalan, namun pribadi Chuck Barris yang kontroversial memberi kebebasan kepada para penonton film dan pembaca buku untuk menilai, apakah ini benar-benar kisah nyata seluruhnya atau hanya sebuah autobiografi yang diberi sentuhan drama. Di dunia yang tampak semakin plastis dan lentur ini, ungkapan "percayalah apa yang ingin kamu percayai" memang jadi terasa lebih bermakna, sekaligus mengusik.

Judul film  : "Confessions of a Dangerous Mind" (Desember 2002)
Sutradara : George Clooney
Produser  : Andrew Lazar
Penulis     : Chuck Barris (buku) dan Charlie Kaufman (skenario)
Pemeran  : Sam Rockwell, Drew Barrymore, George Clooney, Julia Roberts dll

Gambar diambil dari sini

Jun 14, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Harga Sebuah Mitos

+ Mbak, harga kopi luwak ini berapa sih, ya?
- Ooh.. Yang ini satu pak Rp. 1,5 juta, Mbak.
+ Haaa..? Masak sampai segitu? Isinya seberapa? Ada setengah kilo kali, ya?
- Nggak sampai, ini sedikit. Paling-paling cuma 85 gram *senyum*.
+ Lho? Sedikit amat?
- Memang mahal, Mbak. Soalnya per kilo bisa sampai US$ 1,000
+ Kok bungkusnya besar? Boleh lihat, ya? (Lhoh, ada foto si luwak di kemasannya. Aiiih... Lu lagi, lu lagi)
- Iya. Ini memang kelihatan besar, isinya seperti ini. Ada fotonya *membalikkan kotak dan memperlihatkan gambar bagian dalam kemasan*. Masih berupa biji kopi, belum digiling. Kantongnya kedap udara.
+ Oh, giling sendiri.. *masih sulit berkata-kata*
- Iya, supaya aromanya terjaga. Nggak harus dengan mesin giling, kok. Ditumbuk sendiri juga bisa

Menurut buku "The Connoisseur's Guide to Coffee" karya Jon Thorn dan Michael Segal, kopi Indonesia mendapat nilai rata-rata tertinggi "excellent" atau bintang tiga, di atas "good" dan "fair". Lebih tinggi daripada milik eksportir kopi terbesar di dunia, Brazil, yang hanya dapat bintang dua atau "good". Sungguh membanggakan. Akan tetapi, saya tidak tahu, apakah kopi yang dikonsumsi sehari-hari oleh orang Indonesia kebanyakan seperti saya (yang membeli bubuk kopi di pasar maupun toko swalayan) berkualitas sama dengan kopi yang diekspor ke mancanegara. Terus terang saya ragu. Yang jelas, harga kopi cenderung naik, dan itu membuat para pialang bursa komoditi tersenyum cerah. Grace, seorang kawan semasa SMP, pernah menjadi pialang bursa komoditi. Dia senang, baru beberapa minggu bekerja sudah dapat komisi gede gara-gara bagusnya harga kopi. Saya ikut senang saja dengan ceritanya, soalnya biarpun dia pingin mengajari saya jadi pialang, saya lebih suka jadi peminum kopi Big Smile.

Kembali ke kopi luwak. Kalau kopi kualitas ekspor itu dapat bintang tiga, mungkin untuk kopi luwak sendiri bisa dapat bintang empat atau lima sekalian. Hehehe, tapi rasanya kok nggak tega ya, beli kopi 85 gram seharga Rp. 1,5 juta. Sempat berkhayal, kalau saya punya luwak beneran dan setiap hari dikasih makan buah kopi, tentu bisa jadi saudagar. Dengan catatan, ada yang mau membeli. Uniknya, menurut sejumlah info, misalnya ini, kopi luwak sekarang tinggal mitos saking langkanya. Beternak luwak untuk budidaya kopi, mungkin belum terpikir di sini. Kalau saya sih, kasihan. Demi menghindarkan eksploitasi luwak, biarlah kopi luwak bergeser menjadi mitos. Asal bukan kehidupan sejahtera petani di negara agraris yang tinggal mitos.

PS : Bagaimana kalau kita nikmati kopi luwak segar yang ini saja?

Gambar favorit saya ini diambil dari sini

Jun 5, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

ada badak-badak lagi!

Hari Minggu, 3 Juni 2007, adalah ulang tahun Bogor yang ke-525. Tapi, berhubung satu dan lain hal saya tidak bergabung dengan warga kota lainnya yang memenuhi pusat-pusat kegiatan di beberapa titik. Dari dalam rumah saja sudah terdengar raungan ratusan kendaraan bermotor dan cerewetnya klakson di jalan raya di depan kompleks perumahan saya. Libur panjang tiga hari, ditambah banyaknya kegiatan, tentu saja berarti kemacetan. Bahkan untuk kota sekecil Bogor (iya, kecil, yang besar itu kabupaten, bukan kotamadya-nya).

 

Terdorong rasa penasaran dengan stand pameran badak di Pameran Lingkungan Hidup, maka berangkatlah saya dan ibunda ke sana. Setiba di lokasi, pengunjung langsung disambut rangkaian poster berisi informasi seputar badak dan penangkarannya. Dibuka juga pendaftaran bagi mereka yang ingin menjadi anggota Forum Badak Indonesia.

 
Yeni, Ghilman, Nia, Wanya

Di lokasi pameran, kami bertemu keluarga blogger yang kondang itu. Salah satunya ikut kena jepret kamera saya. Hayo, putra dari keluarga manakah dia? Kalau Anda bisa menjawab, silakan minta hadiah pada orang tuanya saja Big Smile. Ternyata, sang ayah jadi salah satu pembicara di acara pameran itu. Tentang apa? Anda pasti tahu, yang jelas bukan tentang badak Big Smile.


Suasana pendaftaran anggota baru FBI


Badak jawanya kok bisa senyum yak?

Salut sekali melihat semangat badak para anggota FBI ini. Menyuarakan pentingnya konservasi badak dari pameran ke pameran, dari sekolah ke sekolah. Sosialisasi memang sebaiknya dilakukan sejak dini, sebab di tangan mereka yang kini masih berseragam dan bau kencur itulah kelak nasib badak digantungkan. Kecintaan dan ketertarikan memang tidak hanya dengan kaos, stiker atau boneka badak, tapi juga melalui pemahaman akan pentingnya konservasi. Ada yang berminat dengan kegiatan sosialisasi ini untuk anak, murid atau keponakan? Silakan kontak FBI, tapi jangan FBI nyang ono..


Kepala badak gabus

May 29, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Andalas, Andalan dari Amrika


Andalas, gede di Amrik, asli Sumatra

Ini dia Andalas, anggota baru Suaka Rhino Sumatra (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ganteng sekali, bukan? Badak yang akan berusia 16 tahun pada 13 September mendatang ini dipulangkan dari Kebun Binatang Cincinnati, AS, untuk menjadi pejantan baru bagi tiga betina bernama Bina, Rosa dan Ratu. Torgamba, badak jantan yang sudah lebih dulu tinggal di SRS, sejauh ini belum terbukti berhasil membuahi ketiga badak betina. Ada kemungkinan, ini disebabkan Torgamba terlalu lama tinggal di kebun binatang di London, Inggris, sehingga mengalami kesulitan beradaptasi hidup di hutan,  termasuk untuk bereproduksi.



Menurut Pak Marcel, site manager (kok nggak pas kalo diterjemahkan jadi manajer situs, yak?) SRS, konservasi badak sumatra menjadi lebih kritis dibandingkan badak jawa, karena habitat mereka lebih terancam. Jumlah badak jawa hanya sekitar 60 ekor, sedangkan badak sumatra sekitar 300 ekor. Namun, habitat badak jawa bercula satu di Ujung Kulon yang lebih tertutup membuatnya dalam kondisi relatif lebih aman dibandingkan kerabatnya di Sumatra.

Di SRS, usaha dan penelitian dilakukan untuk pelestarian badak sumatra yang kian terancam. Peran Andalas di kalangan badak menjadi amat penting. Tentu saja, konservasi tidak ada gunanya jika tidak ada dukungan dari masyarakat sekitar maupun pemerintah. Perburuan badak, terutama untuk diambil culanya, tidak akan terhenti jika kesejahteraan penduduk setempat masih rendah. Juga masih akan dilakukan jika tidak ada sangsi yang ketat dari pihak berwenang terhadap para pelaku.

Jika Anda suka badak, atau tertarik pada badak dan ingin mendapatkan info lebih jauh tentang seluk-beluk penangkaran hewan ini, silakan bergabung dengan milis Indorhinoteam. Atau, sekalian menjadi anggota Forum Badak Indonesia (singkatannya FBI juga, tapi bukan FBI nyang belah ono! Tongue). Kata Pak Marcel (terima kasih foto-fotonya, Pak!), selama beliau masih in charge, pintu SRS akan selalu terbuka bagi saya dan kawan-kawan sekalian. Hayo, siapa yang mau 'ngongkosin saya ke sana? Shades


Pak Marcel, Andalas, Pawang Sugiono

May 25, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

bikin puzzle biar nggak sebel


kenapa gerangan naga bertarung dengan ayam?

"Idle hands are the devil's tools," begitu bunyi idiom Inggris. Artinya kira-kira, kalau tangan Anda terlalu lama diam, bisa-bisa Anda mendapat masalah karena melakukan yang bukan-bukan. Jadi, selalu sibukkan tangan Anda meskipun pikiran melantur ke mana-mana? Eh, salah yak? Tongue

Kalau ada waktu senggang di rumah, selain kegiatan santai seperti baca atau nonton, pilihan lainnya adalah menyusun puzzle. Permainan ini bisa dilakukan secara soliter atau bergotong-royong, meskipun sebagian orang lebih memilih mengerjakannya sendirian. Buat saya, puzzle asyik, baik itu dua maupun tiga dimensi, adalah yang bisa menghasilkan bentuk atau gambar yang menghibur. Puzzle nggak asyik? Ya yang nggak menghibur, malah bikin mata nanar dan kepala berdenyut-denyut.

Jadi, ada yang mau beli puzzle bikinan saya? Hehe, jangan. Mending jajal bikin sendiri. Lumayan asyik kok. Tapi, kenapa lagi-lagi made in China, yak?

PS : Maaf, ya, foto sedikit buram. Ya, ya, ya? Angel

May 22, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

alah curiga karena biasa


gambar oleh Dokter Hewan Komikus
(maaf, gambar lecek karena di-tiki :P)

"Kerja di mana, kok baru pulang jam segini?" tanya seorang bapak. "Di Jakarta," jawab saya singkat. "Iya, di Jakartanya di mana?" Setelah mengamati wajahnya sejenak, saya jawab dengan singkat lagi, "Di Gatot Subroto." Bapak itu hanya menanggapi dengan, "Oh.."

Hanya percakapan basa-basi singkat, di atas sebuah angkot menuju rumah pada pukul 20.00. Percakapan yang tidak seharusnya menimbulkan kecurigaan dalam situasi wajar. Terbiasa pulang kerja di malam hari dengan angkutan umum, ditambah sejumlah pengalaman tidak menyenangkan di jalan, memang mengharuskan saya bersikap mudah curiga terhadap orang asing. Jangankan menghadapi pertanyaan langsung seperti di atas. Yang pakai basa-basi klasik, "Maaf, sekarang jam berapa, ya?" pun kini harus dihadapi secara lebih berhati-hati.

Penyebabnya hanya satu. Di tempat umum di Jabodetabek, termasuk di angkutan umum, tidak ada yang bisa begitu diandalkan sehingga kita terjamin merasa aman dan nyaman. Orang yang berkunjung ke Jakarta lantas dibius dan dijarah di Terminal Kalideres Jakarta Barat, atau Pulogadung di Jakarta Timur, sudah terlampau sering terjadi. Kehilangan ponsel di atas bus kota, metromini atau mikrolet? Baru-baru ini sepupu saya yang murid SMP kehilangan ponsel di atas mikrolet di daerah Cawang, Jakarta Timur. Kebanyakan orang akan bilang, "Yang penting tidak terluka." Lalu, bagaimana dengan luka jiwa? Pelecehan di jalanan atau angkutan umum? Ah, itu biasa. Jatuh dari bus yang enggan mengerem untuk menaikkan atau menurunkan penumpang? Pemandangan biasa juga.

Saya tidak tahu, seberapa efektif pengerahan petugas keamanan di atas kendaraan umum seperti bus kota. Jangan-jangan, malah dia yang tewas dikeroyok kalau pencopetnya rombongan. Para penumpang diharapkan maklum dengan sendirinya, untuk tidak tampil terlalu mencolok dengan mengenakan perhiasan atau menggunakan ponsel. Pernah seorang pengamen antarkota mengomeli penumpang di depan saya yang asyik bertelepon, dikiranya si penumpang sengaja pura-pura tidak melihat kantong uang yang dia sodorkan. Sikap pengamen seperti itu bisa membuat saya urung memberikan uang meskipun suaranya semerdu burung kutilang. Kalau ingin belajar bertenggang rasa, melatih kesabaran dan menempa kewaspadaan, silakan naik angkutan umum di Jabodetabek. Oh ya, sebagai bonus, Anda akan menjadi tidak terlalu ngeri saat mendengarkan berita copet digebuki dan dibakar oleh massa.

PS : Masih berani mimpi di Jakarta ada MRT? Cah gemblung!

May 18, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

dari wajah opak ke sapi skotlandia ngantuak

Ini sedikit foto lagi yang diambil selama ke Padang - Bukittinggi tempo ari. Sekadar berbagi..

manusia berwajah opak
foto oleh Mbake,
model tangan : mpokb

Ternyata saya memang anak singkong. Setelah mengingat-ingat, banyak sekali makanan dengan bahan dasar singkong yang saya sukai. Mulai dari singkong yang sekadar dikukus atau digoreng, maupun dijadikan keripik, opak, enye-enye, dakak-dakak, gatot, getuk, kue kering gaplek, kue mata roda, agar-agar singkong, hmm.. Apa lagi, ya? "Dan lain sebagainya" Big Smile. Opak pada foto di atas adalah opak kedua yang kami beli. Di lokasi wisata Lembah Arau, harganya cuma 1.000 rupiah per buah. Sebelumnya, dalam perjalanan Padang - Bukittinggi, di pinggir jalan raya kami juga membeli yang 500 rupiah per buah. Menurut teman-teman, opak pertama itu digoreng kurang matang, tapi saya tetap menikmatinya. Terus terang, ukurannya yang tidak umum itulah yang membuat saya terdorong untuk membeli. Ralat. Sebenarnya bukan saya yang membeli, tapi kawan saya, Mbak Adwi, yang tidak tega untuk tidak membelikan saya opak Big Smile. Oh ya, opak di atas diberi bumbu kencur selain daun bawang. Mengingatkan saya pada simping, kerupuk tipis asal Jawa Barat yang terbuat dari tepung kanji. Kencur sebagai bumbu kerupuk memang oke.

cicie, adwi, felis, mbake, dedi, oel
mana saya? di balik kamera dong..

Pernah saya baca di sebuah milis, jika ingin melakukan perjalan berkelompok, ada baiknya jumlah peserta tidak genap. Ini untuk menghindarkan terjadinya pengelompokan jika ada pihak-pihak yang berbeda pendapat. Misalnya, jika yang pergi empat orang. Kalau dua orang di antara mereka berseteru, dan dua orang lainnya memihak masing-masing ke satu orang, maka tidak ada lagi pihak yang bisa menjadi penengah. Lain halnya kalau yang pergi lima orang atau ganjil. Jika ada dua pihak (masing-masing dua orang) yang berselisih, orang kelima bisa menjadi penengah. Risiko rombongan untuk terpecah jadi lebih kecil. Perjalanan kelompok jadi tetap seru, kan?

  
kartu gesek non-debet Tongue
foto oleh Felis
model tangan : mpokb


Beginilah seharusnya tempat-tempat wisata dikelola. Menggunakan sarana dan prasarana modern demi kepraktisan. Tidak ada lagi sobek-menyobek karcis yang modelnya standar bangeeet. Tanpa urusan sobek-menyobek, seharusnya tidak  perlu lagi petugas berdiri di pintu masuk. Namun, Pemko Bukittinggi tetap menyediakan seorang petugas untuk membantu memasukkan kartu magnetis. Harap maklum, tidak semua orang terbiasa menggunakan kartu magnetis, kan? Oh ya, seharusnya tulisan "Vor De Kock" adalah "Fort De Kock" Smile.


tak ada kerbau, sapi pun jadi
foto oleh Mbake

Konon, kata Minangkabau berasal dari dua kata yang berarti menang dan kerbau. Sudah pernah dengar legenda Tanah Minangkabau, kan? Kalau belum, silakan googling. Sebenarnya sejak hari kedua sudah timbul keinginan untuk memotret kerbau yang bersantai, berkubang atau bercanda di tepi sawah, tapi kesempatan tidak berhasil saya raih. Sampai ketika mobil yang mengantarkan kami berhenti di tepi jalanan Lembah Arau dan Mbake berhasil membidik seekor...sapi! Bukan maksud kami mengganti kerbau dengan sapi lho, sungguh. Tapi, yang ada pada saat itu memang cuma si sapi. Kurang jelas apa yang tengah sapi ini lakukan, sepertinya dia ngantuak sajo (= ngantuk saja). Dan jangan heran kalau sapi Ayrshire dari Skotlandia bisa sampai di bumi Malin Kundang. Namanya juga zaman globalisasi.. Big Smile

PS : Posting yang aneh.. Tongue





Blogdrive