Menyeruput
kopi di pagi hari saat libur akhir pekan, wah, nikmat rasanya. Segala
penat hilang, suntuk akibat rutinitas seminggu mereda, dunia seakan
lebih ceria.. Hayah, apa benar segitunya? Sedikit banyak bisa
jadi.
Sebagai peminum kopi, saya termasuk yang suka mencoba-coba berbagai
jenis dan merek kopi. Kadang selama beberapa saat saya suka kopi merek
A, tapi di saat lain beralih ke merek B. Sering kali, kopi untuk pagi
hari berbeda merek dengan kopi siang atau malam hari. Kadang kopi curah
di pasar, kadang oleh-oleh dari kerabat atau rekan yang berkunjung ke
luar Jawa seperti Aceh, Jambi, Lampung, Toraja, Bali... Hm, penghasil
kopi yang hebat banget negeri kita, ya? Lain daerah, lain cara memasak
dan meminumnya. Atau, di kesempatan lain, ada saja dermawan yang tahu
kesukaan saya ini. Lantas mengoleh-olehi saya kopi setelah
berjalan-jalan di mal atau berbelanja. Pokoknya glek, deh.
Terus, haruskah saya membatasi diri dengan hanya minum kopi curah
bermerek maupun nonmerek? Dasarnya suka icip-icip kopi, maka saya beli
juga kopi cap Ayam Merak kemasan
sachet ini
di sebuah hiperpasar. Setelah kopi dituang ke gelas, diseduh air panas,
lho, ada kejutan! Sehelai kupon mungil terangkat sendok pengaduk. Di
balik cap Ayam Merak, disebutkan bahwa peminum mendapatkan uang seribu
rupiah dengan cara menukarkan kupon tersebut. Biasanya, untuk kopi-kopi
merek lain, bagian dalam kemasan diberi stiker hologram. Untung saja
kupon kertas mini ini langsung mengambang, sehingga tidak ikut
terseruput
Dari sepuluh
sachet,
ada dua yang berisikan kupon itu, tapi tidak saya tukarkan. Ongkos
untuk kembali ke hiperpasar saja sudah lebih dari dua ribu perak.
Begitu pula dengan
sachet-sachet
lain dari merek kopi lain. Akhirnya saya buang, tidak pernah ada yang
diuangkan. Lain halnya kalau stiker yang ada mencantumkan hadiah mobil
atau rumah. Ah, iming-iming hadiah. Semua orang pasti kepingin,
mendapatkan uang tanpa bersusah payah. Kalau sudah begini, bahkan
investor, eh, investasi bodong jadi terlihat lurus. Lha, ini kok jadi
melantur, yak?
Kupon
hadiah dalam makanan memang menyenangkan, meskipun sekadar untuk
lucu-lucuan. Pernah ada pembaca koran memrotes sebuah merek cemilan
anak-anak yang menyelipkan uang kertas 500 perak bulukan di dalam
kemasan. Sungguh tidak higienis, bukan? Hii.. Kesialan memang bisa
muncul dalam berbagai bentuk. Almarhum kakek saya sering menemukan
kerikil kecil dalam nasinya, entah apa sebabnya. Kata Ibunda, mungkin
hal itu akhirnya menurun pada saya, karena saya sering, terlalu sering,
menemukan sehelai rambut -dengan panjang beragam- dalam makanan. Sudah
pernah menemukan sehelai rambut panjang di antara sayur mayur dan
pekatnya bumbu kacang gado-gado? Saya sudah, dua kali. Sekali dalam
seporsi gado-gado warung, sekali lagi di sebuah mal. Beda tempat dan
beda kelas (huh, sekolah, kali?), tapi sama-sama ceroboh dan sama-sama
menghilangkan selera makan.