<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Apr 21, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kantor Serba Ada dan Unik Milik Paman


banyak tempelan dan hiasan, sungguh me-museum..

Bagaimana ruang kerja atau tempat tinggal Anda? Percayakah Anda bahwa ruang kerja atau tempat tinggal menggambarkan kepribadian si empunya?

Memasuki ruang kerja ini, saya seperti terbawa kembali ke masa kecil. Masa ketika kita mudah terpesona dengan beraneka ragam benda di sebuah warung, toko serba ada maupun museum. Seakan ingin menyentuh dan melihat-lihat semuanya. Maka, setelah dipersilakan duduk di kursi pesakitan dan dihibur dengan lagu-lagu dari koleksi CD nan unik, saya segera tidak tahan untuk tidak menggrataki segala macam benda yang ada di sana. Tentunya, dengan seizin pemilik ruangan yang baik hati dan tidak sombong.


ada buku, kamus, kartu remi, lengkap!

                
yang kiri cuma hiasan, perlengkapan sejati di sisi kanan

Pemilik ruangan, Paman Tyo, saat itu tengah beres-beres dalam rangka pindahan. Menurutnya, ruangan itu sedang berantakan. Menurut saya, itu justru menguntungkan. Saya jadi bisa melihat secara langsung berbagai benda yang pernah bikin para pembaca blog terhibur dan tertawa dengan kisah pengiringnya, meskipun Paman tidak pernah bermaksud melucu.


malam-malam buka jendela, apa nggak masuk angin?

 
ucapan ultah berupa lukisan unik
+ profil Paman di majalah nagri

Banyak benda pernah dibahas di blog lama Paman, maupun anak-anak blognya. Ini menimbulkan perasaan unik bagi saya. Biasanya cuma lihat di blog, lho ini kok ada barangnya sungguhan?


ternyata loyang kue bisa jadi stationery set


siapa pernah lihat barang-barang ini...?


bakiak antik bin nyentrik

 
harta karun koleksi buku dan CD, serta..kursi tamu pesakitan

Dengan seizin Paman Tyo pula, saya memotreti barang-barang unik koleksinya. Situasi ruang kerja ini, menurut saya, layak diabadikan. Kabarnya, si paman yang mengaku gombal ini akan hengkang dari ruang kantornya dan beralih profesi. Bukan, bukan sebagai pawang ular. Meskipun pernah terlontar ingin berbisnis mobil tinja, bahkan jadi produsen lingerie (untungnya gede, karena irit tekstil tapi bisa dijual mahal, katanya), tapi saya yakin beliau akan tetap gombal. Kita doakan saja bersama-sama, apa pun strategi Paman selanjutnya, semoga semangat gombal tetap langgeng, sekalipun tidak lagi diluncurkan dari ruang kerja ini.

PS : Paman tahu, saya ingin membantu meringankan beban pindahan. Makanya, beliau mengizinkan saya mengangkut sebuah buku panduan motret bergaya majalah, sebuah novel dan sekeping CD ke...rumah saya! Hehehe, rezeki nomplok! Terima kasih, Paman!


Apr 16, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Dokter Komik di Kota Hujan

dokter komik dan bekas pasien
dokter komik dan bekas pasien

Kalau sampai saat ini ada yang berharap bahwa dokter hewan komikus dari Yogya itu tidak punya wajah, atau wajahnya seperti kartun yang dicorat-coret, tentu akan kecewa. Pada hari Minggu kemarin, 15 April 2007, saya sendiri sudah membuktikan, ternyata wajahnya memang ada, dan bukan kartun. Menyenangkan sekali jalan kaki bersamanya. Tidak lekas mengeluh apalagi rewel, meskipun malam sebelumnya baru begadang di Puncak.

dokter komik pangku kucing

Sayang sekali Bung Dokter harus segera kembali ke Yogya. Saya pikir, belum sah hukumnya bila seseorang ke Bogor tanpa ke Kebun Raya. Maka, setelah mampir di Gramedia Botani Square (Bo-Ker, kata ABG Bogor), mencicipi hidangan vegetarian (baca : gado-gado) di warung masakan sunda dan menjajal otot kaki di jalanan Kebun Raya, maka saya antarkan dia dalam keadaan utuh kepada pamannya yang tidak gombal, untuk selanjutnya diambil alih oleh pamannya yang gombal.

dokter komik dan calon pasien
dokter komik dan calon pasien

PS : Ternyata, pamannya yang tidak gombal itu tetangga sekomplek kakak sulung saya. Hayaaah, dunia memang selebar daun kelor... Tongue


Apr 12, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Semoga proses beranakmu lancar, Mak!

Anda alergi kucing? Nggak mungkin alergi bisa kambuh karena gambarnya, kan? Kalau Anda bukan penggemar kucing, tahan-tahanin lihat gambar ini, ya? Entah kenapa si Emak yang lagi menunggu kelahiran bayi kesekian ini tiba-tiba jadi seperti trans melihat saya datang dan memotretnya. Tubuhnya diliuk-liukkan ke sana kemari seakan terbuat dari karet, cukup kooperatif dan tidak menunjukkan perilaku bermusuhan dengan kamera. Mungkinkah dia reinkarnasi dari seorang fotomodel?

mlungkertrendi
  seakan minta dipegang, ternyata menggigit
kalau dipegang perutnya!


sokmanja
hm, males-malesan..

duileh
pose apa sih, Mak?

ngapainsihmak
sayang-sayangan kok sama kursi..

ihmaluyak
kok kayak tersangka koruptor, Mak?



Apr 9, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kabar Gembira dari Lapak Sebelah

Lapak sebelah lagi punya gawe, mengadakan lomba desain koran. Sebagai tetangga, saya jadi penggembira saja. Melihat desain yang bagus-bagus, gembira. Melihat pemenang dapat hadiah, gembira. Apalagi kalau koran naik cetak betulan. Pasti lebih gembira. Serius? Ah, nggak tahu. Pokoknya, daripada Anda sekalian bengong nggak ketulungan, silakan ikutan lomba. Siapa tahu bisa ketularan gembira. Bang Jagalapak, terima kasih atas desain korannya yak! *gembira mode ON*


pingin lihat lebih jelas? klik di sini


Apr 3, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

cilukba berbahaya



Hidup memang penuh kejutan. Dan di antara kejutan itu terkadang ada permainan cilukba. Anak kecil paling suka ini. Coba saja, ajak anak kecil yang sedang menangis keras bermain cilukba. Kemungkinan besar dia akan tertawa. Tapi, cilukba yang ini tidak lucu. Ini permainan cilukba yang membahayakan, kalau tidak bisa dibilang kejam. Lokasinya di pertemuan antara Jl. Gatot Subroto dengan jalan keluar dari area Sudirman Central Bussiness District (SCBD), Jakarta. Persis di samping Polda Metro Jaya alias Komdak.

Masalah akan selesai kalau di jalur hijau yang membelah persimpangan (jalur hijau tertutup badan mobil) dipasang cermin, seperti halnya di jalan-jalan sempit bertikungan tajam. Atau, tembok dibuat mundur sehingga tidak menghabiskan trotoar di sampingnya. Sehingga, para pejalan kaki tidak harus berjalan sampai ujung trotoar untuk mengintip ke balik tembok sebelum menyeberang. Kadang ada petugas satpam berdiri di jalur hijau, mengawasi pertigaan tanpa zebra cross itu. Tapi, itu tidak efektif karena tidak mungkin Pak Satpam terus-menerus memberi tahu setiap pejalan kaki yang akan menyeberang bahwa ada mobil keluar dari balik tembok.

Non Bri, yang kantornya saya lewati dengan berjalan kaki setiap pagi, pernah kasih komentar, keluhan tentang hal semacam ini sebaiknya dijadikan surat pembaca di koran. Sayangnya, tidak semua surat pembaca yang berisi keluhan bisa dimuat di koran. Padahal saya yakin, tidak hanya seorang pembaca yang punya keluhan, pun seorang pembaca tidak hanya punya satu hal untuk dikeluhkan.

Lupakan koran. Misalkan para pejalan kaki mengambil jalan pintas, menggalang iuran bersama-sama untuk memasang sebuah tiang dan cermin di jalur hijau itu, tidak ada jaminan cermin tidak akan dicuri. Bukan semata karena bisa dijual, tapi karena keisengan. Duh, ini keluhan yang berkepanjangan. Terserah. Kalau tidak bisa uneg-uneg di tempat lain, di mana lagi selain di blog? Apakah harus selalu curhat sama orang lain? Kasihan si pendengar dong, ah!

PS : Sudah! Jangan dibahas!


Mar 30, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

geng kawan lama itu..


len, bin, na, mel, cit, lin, jox, queen

Beberapa bulan tidak bertemu kawan lama sudah cukup untuk membuat kita merasa ketinggalan info tentang mereka. Acara yang cuma beberapa jam rasanya jadi terlalu singkat. Apa perbedaan kumpul-kumpul bersama kawan baru dengan kawan lama? Yang jelas, bersama kawan lama kita tidak perlu berbasa-basi. Tidak ada maksud menyinggung dan tidak ada yang tersinggung. Setidaknya, itulah yang terlihat oleh saya malam itu, hehehe..

Foto di atas menampilkan sebagian dari kawan-kawan lama saya di kampus. Selama bertahun-tahun, mereka satu sama lain pernah sekelas, sejurusan, selab, sekelompok, sepondokan, sekamar, bahkan setempat tidur untuk belajar bersama, ditutup dengan ketiduran dan bangun kesiangan bersama Tongue. Pokoknya senasib sepenanggungan dan selalu bekerja sama. Teman saya yang memasang alarm jam weker, lalu saat berbunyi sayalah yang mematikannya, dilanjutkan dengan tidur lagi. Walhasil kami berempat kesiangan.

Kumpul bersama kawan-kawan lama cukup manjur untuk mengobati rasa bosan akibat rutinitas, juga kekesalan akibat hal-hal lainnya. Bernostalgi(l)a, membahas masa lalu yang semoga hanya menjadi kenangan manis, karena pahitnya sudah luntur terkikis waktu. Bukan begitu, bukan? Jadi, bagaimana kabar kawan lama Anda? Ada rencana untuk mengontaknya akhir pekan ini?



Mar 27, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

pada sepenggal jalan



Kalau semuanya serba teratur dan terarah, pasti kehidupan akan nyaman, meskipun itu bukan suatu jaminan bahwa manusia akan merasa cukup dan bahagia. Jalan yang lurus, datar dan lebar, semua orang menginginkannya. Dalam kenyataan, terkadang justru jalan sempit dan berliku yang terbentang di depan mata, bahkan sengaja kita cari, demi kehidupan yang lebih berwarna.


Mar 22, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kebun Milik Bersama

 

Bayangkan jika kaveling yang dibiarkan kosong ini ditanami pohon buah-buahan, dapur hidup atau apotek hidup.

Bayangkan jika secara swadaya penduduk setempat mengumpulkan bibit untuk ditanam.

Bayangkan jumlah pohon yang tumbuh jika satu kepala keluarga dalam satu rukun warga menyumbangkan satu bakal pohon, atau lebih.

Bayangkan jika Dinas Pertamanan menyisihkan anggaran untuk menggaji seorang pengawas taman dan kebun buah milik bersama.

Bayangkan jika siapa pun, termasuk para pejalan kaki yang melewati, boleh mengambil buah langsung dari pohonnya secara gratis(!)

Bayangkan sebuah kebun besar milik bersama.

Hanya satu bakal pohon per kepala keluarga.

  


Mar 16, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

ketika pohon tumbuh tak terkendali

"Suami Mbak X resmi jadi tersangka. Katanya di koran Jumat lalu ada beritanya," kata ibu saya. Setelah membolak-balik halaman koran, baru saya ngeh sebelumnya telah membaca kepala berita tentang korupsi di sebuah BUMN itu. Nilainya relatif kecil, "hanya 11 miliar rupiah". Masih dalam miliar, rupiah pula. Suami Mbak X rupanya sudah masuk rumah tahanan setelah ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana korupsi, tapi bukan tersangka utama. Sebelum mengajar di jurusan yang sama dengan Ibunda, Mbak X dulu salah satu mahasiswinya. Mbak X dan suaminya adalah teman sekampus. Selanjutnya, Mbak X menjadi dosen PTN dan suaminya bekerja di salah satu BUMN selama puluhan tahun hingga menduduki jabatan kunci.

Aneh rasanya ketika tertuduh tindak pidana korupsi adalah seseorang yang masih terkait dekat keluarga, teman, atau seseorang yang sehari-harinya bekerja bersama kita. Sebelumnya, ketika menyimak berita tentang kasus korupsi di koran atau TV, saya merasa begitu berjarak. Efek dari parahnya korupsi di negeri ini memang terasa dalam kehidupan sehari-hari, tapi bisa jadi obat bius apatisme sudah mulai merasuki saya. Setelah mendengar kabar tentang suami Mbak X, barulah terasa benar betapa pohon korupsi di Tanah Air telah tumbuh besar tak terkendali, bahkan ujung cabangnya telah menyentuh lingkungan orang-orang terdekat kita tanpa kita sadari. Reaksi pertama kita yang merasa mengenal orang itu adalah, "Masak sih? Dia kan alim, simpatik, pekerja keras, baik pada bawahan," dan berbagai ucapan lain yang mengungkapkan rasa tidak percaya bahwa orang itu "penjahat".

Kejahatan korupsi memang tidak seperti mencuri atau mencopet. Bahkan penggelapan dan menaikkan nilai proyek masih tergolong vulgar. Terlalu mudah ketahuan, dan hanya orang-orang berjabatan rendah yang kadang melakukannya. Misalnya, ketika mengurus paspor di kantor imigrasi, bisa jadi fotokopi selembar yang biasanya dihargai 500 perak jadi 1.000 perak, dan seterusnya. Jenis korupsi level petinggi dilakukan secara "lebih elegan", misalnya pemilihan rekanan tertentu dalam sebuah proyek, melalui proses tender yang sudah diatur. Atau, pengambilan keputusan yang mengakibatkan kerugian di satu pihak dan keuntungan di pihak lain, dengan cara "informasi orang dalam". Atau, menjual aset BUMN dengan nilai lebih rendah sehingga merugikan negara secara tidak langsung, penentuan kebijakan yang menguntungkan pihak tertentu, dan lain sebagainya.

Korupsi menjadi sulit diberantas, karena selama ini pelakunya tidak pernah tunggal. Biasanya, jika si pelaku menduduk jabatan strategis di sebuah lembaga negara, misalnya, maka dia akan melindungi kepentingannya dengan melibatkan jajaran bawahannya. Hubungan ini berlanjut terus sampai ke level paling bawah. Dan sampai di titik inilah si pelaku menjadi "orang baik" di mata orang lain. Di setiap kantor tempat pohon korupsi tumbuh, terbentuklah hutan yang terlindung di balik hukum rimba. Sejumlah orang kuat seakan menjadi Robin Hood yang tinggal di hutan, mencuri uang yang selain masuk kantong sendiri, juga dibagi-bagikan kepada orang lain. Di mata hukum, koruptor dan Robin Hood sama-sama mencuri. Bagaimanapun, koruptor tak bisa dibandingkan dengan Robin Hood. Robin Hood mencuri uang para penguasa untuk dibagikan pada rakyat jelata, sedangkan koruptor mencuri uang rakyat untuk dibagikan pada kelompoknya.

Bagaimana dengan bawahan yang ingin bersih dan tidak mau bersentuhan dengan korupsi? Mungkin dia akan dimusuhi oleh rekan-rekan sekerjanya, bahkan dianggap sok suci dan berkhianat. Mungkin dia pun langsung dimutasi oleh atasannya, karena dianggap menghambat kepentingan organisasi. Ketika dia merasa tidak bersalah dan mengajukan keberatan, dia akan dianggap melawan atasan. Di lingkungan yang korup dan sarat dengan orang-orang korup, berani melawan arus setara dengan bertaruh nyawa.


Mar 13, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Benarkah Mainan Sekadar Mainan?

kartu tenaga

Kalau ditanya saat ini, terus terang saya tidak tahu apakah saya ingin punya anak atau tidak. Dan kalaupun ingin, saya juga tidak tahu apakah keinginan itu benar-benar dari diri sendiri atau tidak, atau sekadar ikut-ikutan orang lain yang punya anak. Kata orang, membesarkan anak itu susah. Selain harus memerhatikan kesehatan fisik, kesehatan mental dan rohani juga penting, apalagi di tahun-tahun awal pertumbuhan. Guru kimia saya di SMA pernah bilang, pada usia 17 tahun, perkembangan seorang anak sudah final. Menurutnya, sifat dasar seseorang yang terbentuk sampai dia berusia 17 tahun itulah yang akan dibawanya sampai tua. Benar atau tidaknya, silakan Anda renungkan sendiri. Itu ucapan seorang guru kimia, bukan psikolog, dan kalau pun saya tulis di sini tidak ada maksud selain berbagi apa yang pernah saya dengar.

Masalah lain dan terbesar, tentu saja, dunia luar. Salah satu kesulitan saat mengajak jalan-jalan para kurcaci alias keponakan adalah jika mereka menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran di rumah. Contoh paling gampang adalah membuang sampah. Lho, memangnya di rumah mereka tidak pernah membuang sampah sembarangan? Tentu pernah. Tapi, protes yang dilontarkan oleh Mbak Oyik tempo hari membuat saya bertanya-tanya. Jangan-jangan anak-anak punya pikiran, bahwa di luar rumah keadaan serba disiplin dan teratur. Dan kalau di rumah dia masih "diperbolehkan" sedikit-sedikit melanggar aturan, pastilah berbagai ketentuan dan tata krama tersebut diajarkan sebagai bekal untuk membawa diri di luar rumah. Dengan demikian, Mbak Oyik ke luar rumah dengan harapan bahwa dunia di luar sana adalah tempat yang bersih, teratur dan disiplin. Kenyataan sebaliknya yang ditemukan, akhirnya membuatnya protes.

Tapi, di Timezone, gantian saya yang protes pada Mbak Oyik. Dari lima keping koin yang dia miliki, tiga keping dipakainya untuk permainan ekstra mudah. Dengan sekali memutar tuas, keluarlah beberapa lembar kupon hadiah sesuai nomor yang ditunjukkan panah. Mengandalkan untung-untungan, bukan ketangkasan atau kecermatan. "Mainan apa itu? Ah, itu namanya bukan main (ketangkasan). Nggak asik, Mbak. Masak cuma gitu langsung dapat kupon? Coba yang lain, yuk?" kata saya. Mbak Oyik cuma tertawa riang. "Nanti, dua koin sisanya baru aku main." Lalu dia melanjutkan berkeliling memilih-milih mesin mainan. Dari komentar-komentarnya, jelas sekali ketertarikannya untuk mendapatkan begitu banyak kupon dari mesin yang cuma sekali tekan tombol atau sekali putar tuas tadi. Dalam hati saya bingung, ini mainan anak-anak, tapi kok rasanya ada yang nggak bener. Anak-anak seperti diajari untuk berusaha mendapatkan banyak hadiah dengan permainan mudah. Sementara untuk permainan yang jauh lebih sulit, hadiah kuponnya malah sedikit.

Mungkin program mesin mainan yang bisa menghargai proses pengumpulan kupon akan jauh lebih rumit dan lebih mahal. Lagi pula, sekarang sudah ada berbagai gem komputer atau konsol kalau memang ingin yang lebih mendidik. Arena permainan anak-anak di luar rumah adalah ajang bagi-bagi hadiah. Kalau tidak, anak-anak tidak akan mau bermain. Hanya saja, akan lebih bagus kalau permainan itu memberi hadiah yang menghargai upaya dalam proses meraih tujuan, bukannya malah mengajari anak cari untung tanpa usaha.






Blogdrive