Kalau ditanya saat ini, terus terang saya tidak tahu apakah saya ingin
punya anak atau tidak. Dan kalaupun ingin, saya juga tidak tahu apakah
keinginan itu benar-benar dari diri sendiri atau tidak, atau sekadar
ikut-ikutan orang lain yang punya anak. Kata orang, membesarkan anak
itu susah. Selain harus memerhatikan kesehatan fisik, kesehatan mental
dan rohani juga penting, apalagi di tahun-tahun awal pertumbuhan. Guru
kimia saya di SMA pernah bilang, pada usia 17 tahun, perkembangan
seorang anak sudah final. Menurutnya, sifat dasar seseorang yang
terbentuk sampai dia berusia 17 tahun itulah yang akan dibawanya sampai
tua. Benar atau tidaknya, silakan Anda renungkan sendiri. Itu ucapan
seorang guru kimia, bukan psikolog, dan kalau pun saya tulis di sini
tidak ada maksud selain berbagi apa yang pernah saya dengar.
Masalah lain dan terbesar, tentu saja, dunia luar. Salah satu kesulitan
saat mengajak jalan-jalan para kurcaci alias keponakan adalah jika
mereka menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran di rumah.
Contoh paling gampang adalah
membuang sampah.
Lho, memangnya di rumah mereka tidak pernah membuang sampah
sembarangan? Tentu pernah. Tapi, protes yang dilontarkan oleh Mbak Oyik
tempo hari membuat saya bertanya-tanya. Jangan-jangan anak-anak punya
pikiran, bahwa di luar rumah keadaan serba disiplin dan teratur. Dan
kalau di rumah dia masih "diperbolehkan" sedikit-sedikit melanggar
aturan, pastilah berbagai ketentuan dan tata krama tersebut diajarkan
sebagai bekal untuk membawa diri di luar rumah. Dengan demikian, Mbak
Oyik ke luar rumah dengan harapan bahwa dunia di luar sana adalah
tempat yang bersih, teratur dan disiplin. Kenyataan sebaliknya yang
ditemukan, akhirnya membuatnya protes.
Tapi, di Timezone,
gantian saya yang protes pada Mbak Oyik. Dari lima keping koin yang dia
miliki, tiga keping dipakainya untuk permainan ekstra mudah. Dengan
sekali memutar tuas, keluarlah beberapa lembar kupon hadiah sesuai
nomor yang ditunjukkan panah. Mengandalkan untung-untungan, bukan
ketangkasan atau kecermatan. "Mainan apa itu? Ah, itu namanya bukan
main (ketangkasan). Nggak asik, Mbak. Masak cuma gitu langsung dapat
kupon? Coba yang lain, yuk?" kata saya. Mbak Oyik cuma tertawa riang.
"Nanti, dua koin sisanya baru aku main." Lalu dia melanjutkan
berkeliling memilih-milih mesin mainan. Dari komentar-komentarnya,
jelas sekali ketertarikannya untuk mendapatkan begitu banyak kupon dari
mesin yang cuma sekali tekan tombol atau sekali putar tuas tadi. Dalam
hati saya bingung, ini mainan anak-anak, tapi kok rasanya ada yang
nggak bener. Anak-anak seperti diajari untuk berusaha mendapatkan
banyak hadiah dengan permainan mudah. Sementara untuk permainan yang
jauh lebih sulit, hadiah kuponnya malah sedikit.
Mungkin
program mesin mainan yang bisa menghargai proses pengumpulan kupon akan
jauh lebih rumit dan lebih mahal. Lagi pula, sekarang sudah ada
berbagai gem komputer atau konsol kalau memang ingin yang lebih
mendidik. Arena permainan anak-anak di luar rumah adalah ajang
bagi-bagi hadiah. Kalau tidak, anak-anak tidak akan mau bermain. Hanya
saja, akan lebih bagus kalau permainan itu memberi hadiah yang
menghargai upaya dalam proses meraih tujuan, bukannya malah mengajari
anak cari untung tanpa usaha.