"Bra
tanpa kawat? Nggak ada, Mbak," jawab nona penunggu gerai pakaian dalam
beberapa hari yang lalu. Sekitar sebulan lalu, saat bertanya di salah
satu gerai merek langganan, muncul jawaban yang hampir sama. Masih ada,
tapi sudah bukan koleksi lengkap, karena barang baru tidak datang lagi.
Padahal, sebelumnya mereka menjual bra tanpa kawat (nirkawat?) model
bikini yang hanya punya satu model. Merek lain pun begitu. Kalaupun
ada, biasanya
sports bra (nggak
serta-merta bisa diterjemahkan sebagai bra olahraga, yak!) yang
bermodel simpel. Tidak seperti bra berkawat yang banyak berhias
ornamen, mulai dari motif bunga sampai renda. Modis.
Sebagai
penunjang penampilan, bra berkawat mungkin lebih disukai. Kalau tidak,
kehadirannya tidak mungkin menggusur popularitas bra nirkawat. Jarang
ada iklan atau katalog pakaian dalam yang menonjolkan sisi kenyamanan,
sebaliknya lebih sering menampilkan kelebihan dalam hal fesyen. Padahal
banyak perempuan tahu dan mengalami sendiri, kekurangan bra berkawat
adalah tidak semuanya nyaman dipakai, dan tidak semuanya baik bagi
kesehatan. Bayangkan saja, bagaimana rasanya jika tubuh Anda dililit
kawat sejak pagi hari hingga sore hari. Lebih tersiksa lagi jika tidur
semalaman mengenakan bra. Kulit bisa mengalami iritasi. Untung saja,
mulai ada
produsen bra yang menyadari hal ini.
Demi penampilan, kaum perempuan rela menyakiti diri sendiri.
Puasa sama sekali supaya
berat badan tidak naik, melakukan perawatan wajah dengan memencet paksa
pori-pori di salon, berpegal ria dengan sepatu hak tinggi sampai timbul
varises, menipiskan kulit wajah dengan obat tertentu sampai mengelupas
supaya seperti kulit bayi terus.. Daftar ini bertambah terus. Segala
hal dilakukan atas nama penampilan, karena konon penampilan cantik bisa
menambah rasa percaya diri. Kalau rasa percaya diri itu bisa menggiring
seseorang ke jalan mulus -mapun terjal- untuk mendapatkan uang,
popularitas, bahkan kebahagiaan, itu masalah lain. Bagaimanapun, ada
banyak jalan untuk merasa bahagia.
Seperti banyak perempuan
lain, saya juga kadang mencoba-coba produk maupun layanan perawatan
tubuh. Tapi, ternyata tidak semuanya mudah dan sesuai keinginan. Seumur
hidup, hampir tidak pernah kulit wajah saya menjalani
facial treatment di
salon. Kalau dihitung, rasanya tidak sampai empat kali, dan yang
terakhir kali benar-benar menyakitkan hingga membuat air mata saya
menitik. Sejak itu saya seperti kapok, dan belum berani lagi kembali ke
salon untuk diperlakukan seperti itu. Bagaimana dengan perawatan rambut
seperti
creambath? Terlalu lama duduk di salon ber-AC dengan rambut basah bisa membuat saya masuk angin

.
Balik lagi ke soal bra. Kalau tidak salah, dulu ada lelucon tetang
tidak adanya bra nirkawat di Singapura. Saking kepinginnya mengikuti
mode, semua perempuan di sana mengenakan bra berkawat. Perempuan yang
tidak suka, terpaksa mengenakannya juga karena tidak punya pilihan.
Saya pun mulai merasakannya sekarang, meskipun tidak separah itu. Toh,
kalau ingin merasakan "kebebasan memilih", saya bisa memperolehnya
ketika
membeli sampo. Yang penting, tidak seperti
kucing korban bencana mode.