<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Mar 23, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

daur ulang, pakai ulang

 
Konon, memakai kantong bekas belanjaan bukan sekadar untuk alasan fungsional, tapi juga fesyen. Gengsi? Entahlah. Yang jelas, sampai sekarang masih ada sebagian orang, baik pria maupun wanita, yang ogah membawa kantong plastik (bahasa gaulnya : kresek). Buat saya, alasan tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah, kalau seusai memakai kantong kertas atau kresek lantas kantongnya dibuang sembarangan, apalagi kalau dibuang di sungai. Meskipun orang se-Jabotabek memenuhi halaman rumahnya dengan liang biopori, tetap saja banjir terjadi karena luapan air yang tak tertampung.
Mengajak orang memakai kantong belanja berkali-kali demi penghematan bahan alami dan pelestarian lingkungan, sungguh mulia. Tentu saja akan lebih mulia kalau kita berbelanja dengan naik kendaraan umum atau berjalan kaki. Paling tidak meninggalkan kendaraan pribadi di rumah selama tiga hari seminggu untuk berkegiatan rutin dengan kendaraan umum. Salah satu rekan kantor saya mempraktikkannya. Dia meninggalkan sepeda motornya di rumah setiap dua hari sekali. Kira-kira, dalam lima hari kerja, dia hanya dua atau tiga kali naik sepeda motor. Sisanya naik bus, yang jelas-jelas "lebih mahal di ongkos" dan "lebih lama". Baginya, itulah kegiatan untuk menebus "dosa membuat polusi".

Bertindak untuk lingkungan tidak bisa dipaksakan dan disamakan, karena masing-masing orang punya alasan sendiri. Misalnya, kalau saya mau konsisten, seharusnya saya mencari tempat tinggal di Jakarta agar tidak perlu bolak-balik menghabiskan BBM sebagai penglaju Bogor - Jakarta. Atau, seperti disarankan oleh sejumlah orang, bekerja di Bogor saja. Tidak perlu bikin Jakarta tambah padat di siang hari sampai petang. Lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Pada akhirnya, yang disebut-sebut sebagai alasan itu akhirnya menjadi pembenaran belaka. Terima saja, dalam diri setiap manusia ada sosok makhluk bersifat egoistis dan egosentris. Tanpa regulasi yang mengebiri kedua sifat itu, larangan berbalik menjadi tantangan. Boro-boro ingat bahwa lingkungan saat ini adalah utang (!) yang harus dibayar pada generasi mendatang.

Mengemukakan visi adalah satu hal, mewujudkannya dengan menyertakan orang lain perlu kerja keras. Satu kampanye sederhana yang bahkan sampai sekarang masih sering gagal adalah ajakan untuk membuang sampah di tempatnya. Saya tidak tahu, mengapa kampanye ini tidak pernah benar-benar berhasil di Indonesia. Mungkin karena (dulu) kita bangsa agraris, dan alam bawah sadar kita mengira semua sampah bersifat organis, sehingga bisa segera menjadi humus ketika menyentuh tanah?


Mar 14, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kucing Beranak yang Suka Pindah



Meninggalkan tempat lama untuk pindah ke tempat baru, ternyata bisa bikin sedih juga. Itulah yang saya rasakan ketika harus bersiap-siap angkat kaki dari tempat bapuk ini. Gedung tua yang sudah puluhan tahun berdiri dan kondisinya mulai mengharukan, meskipun secara struktural ternyata cerdas juga, karena sewaktu gempa besar tempo hari, dia bisa ikut bergoyang, hehe.
 
Karena satu dan lain hal, tidak semua barang ikut diboyong ke lokasi warung yang baru, misalnya papan pesan di bawah ini. Padahal, kondisinya masih cukup baik. Boleh dibawa pulang oleh pekerja warung. Sayangnya, komputer dan AC tidak termasuk yang boleh dibawa pulang Tongue




Kata Bos Besar, warung tempat kerja saya itu seperti kucing beranak. Senangnya berpindah-pindah sambil menggondol anak-anaknya. Selama bergabung di warung, baru kali ini saya ikut mengalami kepindahan. Bisa jadi, inilah kepindahan untuk yang terakhir kalinya. Mungkin si induk kucing sudah berumur, nggak bisa beranak lagi dan sudah menemukan tempat yang nyaman.



PS : Baru kali ini saya melihat leluhur mouse alias tetikus Shocked


Mar 13, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Bandung - Purwokerto dan Google

Mpokb  : Sudah tahu harus lewat mana?
Kakanda Belgeduwelbeh (KB) : Nggak
Mpokb : Sudah bawa peta?
KB : Nggak
Mpokb : ........
KB : Tapi tadi gua sudah lihat Google Maps
Mpokb : Weleh, apa peta bisa sesuai dengan aslinya?
KB : Purwokerto itu di tengah. Lewat Cilacap bisa, lewat Cirebon bisa. Jangan tidur. Gua maunya nyetir, elu yang lihat penunjuk jalan
Mpokb : ........

Di sebuah warung di Purwokerto 4,5 jam kemudian, setelah terpontal-pontal oleh tikungan dan jeglongan.

Mpokb : Nih, hotel yang elu minta. Gua sudah dapat nomor teleponnya dari Google. Gampang carinya  *menunjukkan layar ponsel dengan bangga*
KB : Gua sudah tahu alamatnya, barusan tanya sama penunggu warung di belakang
Mpokb : .......

Pesan moral : Terlalu percaya pada teknologi bisa membikin Anda lupa bahwa bantuan bisa diperoleh dari orang lain Tongue



Mar 1, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Serunya Peluncuran "Lagak Jakarta"

 
Setelah sempat tersasar dan cari jalan tembus lewat Pasar Palmerah, akhirnya saya dan dua orang teman warung berhasil sampai di tempat perhelatan.
 
Meskipun terlambat akibat macet dan salah jalan, namun kami terhibur dengan acara tanya jawab yang kocak. Sempat pula muncul momen mengharukan saat menyimak kesaksian orang-orang dekat Benny dan Mice, yaitu dosen keduanya selama kuliah di IKJ, istri Benny dan ayah Mice.
Dian Sastro yang ditunggu-tunggu banyak orang tidak bisa datang, tapi tetap memberikan komentar via telepon. Celetukan Wimar dan petikan gitar Jubing lebih dari cukup untuk mengobati kekesalan hati pada sopir taksi yang, lagi-lagi, tidak tahu jalan.
Ternyata memotret di tengah orang banyak yang membawa kamera itu susahnya minta ampuuun! Walhasil, foto saya adalah "foto suasana" Tongue

PS : Terima kasih lagi buat KPG, Pak Undix dan Bu Endang atas undangannya Smile


Feb 26, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Lagak Jakarta, "100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta" (Asyiiiik...!)



Asyiiik..! Setelah menungguh dengan harap-harap tidak cemas selama kurang lebih tiga minggu, akhirnya yang dijanjikan sampai juga. Apa itu? Buku Seri "Lagak Jakarta" karya Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad alias Benny dan Mice yang baru. Judulnya "100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta". Tidak perlu antre, sudah langsung ditandatangani oleh penulisnya (eh, apa penggambarnya yak?). Selain buku, terlampir juga poster yang cihuy dan undangan peluncurannya.



Bagaimana isi bukunya? Tentu saja tentang tokoh-tokoh yang mewarnai Jakarta, hehe. Seru, kritis, menohok, sudah pasti. Lucu? Teman seruangan saya yang pendiam saja sampai hampir trans karena tertawa saat membacanya dan harus saya "eling"-kan. Kalau ingin lebih jelas, silakan meluncur ke toko buku. Nggak lucu dong kalau saya bahas semua di sini, padahal bukunya baru akan diluncurkan lusa, hehehe. Maksud postingan saya kali ini, merujuk pada istilah Paman Blogger, adalah ekshibisi alias pamer. Iyak. Nggak perlu menunggu untuk dituduh, saya akui, kali ini saya pamer. Persis kelakuan tokoh-tokoh "sok urban" yang sering disindir dalam kartun-kartun Benny dan Mice itu Tongue

Oh ya, menurut tulisan pada undangan, saat peluncuran nanti akan ada konser gitar dari Jubing Kristianto. Hadir juga dua pembicara yang termasuk kategori blogger tenar, tak lain dan tak bukan Wimar Witoelar dan Dian Sastro. Eh, ralat ding. Mereka itu sebelum jadi blogger sudah tenar duluan yak? Big Smile



PS : Terima kasih banyak buat KPG. Saya dan Luwak nggak kapok dikasih buku gratis kok. Sumpah deh! Smile


Feb 20, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Kota Satria yang Tenang


Meskipun kepergian dilakukan secara mendadak, akhirnya tiba jugalah saya di Purwokerto. Kota yang tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Kota sepi, bersih, rapi, jauh lebih tertata ketimbang Kota Hujan tempat saya lahir yang belakangan ini semakin amburadul dan kotor.
 
Sepengamatan saya, di Purwokerto proses mal-isasi belum terjadi. Toko-toko yang bersaing menarik konsumen bukanlah jaringan waralaba internasional. Yang saya ingat cuma "Moro" dan "Rita", dua nama yang konon cukup akrab di telinga warga Banyumas, atau bahkan Jawa Tengah.

Di alun-alunnya Sabtu pagi (16/02) yang lalu, hampir tidak ada petak lapangan rumput yang tidak diisi murid-murid berseragam olahraga beraneka warna. Menandakan bahwa mereka berasal dari sekolah yang berlainan, namun mengikuti pelajaran di lapangan yang sama, di alun-alun besar yang dikelilingi kantor bupati, Masjid Agung Baitussalam dan Rita Bakery (penting banget hehe). Purwokerto cocok untuk dijadikan kota seminar atau lokakarya. Sewaktu saya ke sana, kompetisi antar-SMK se-Jawa Tengah tengah berlangsung. Semua penginapan penuh.



Kota ini terasa sepi ditinggal para warganya yang merantau entah ke mana, namun denyutnya tidak pernah berhenti. Kota yang layak dirindukan, didatangi lagi dan lagi, untuk menikmati manisnya serabi di alun-alun dan gurihnya soto ayam berbumbu saus kacang di Jalan Bank, atau untuk sekadar berjalan menyusuri trotoar yang bersih manusiawi, dan minim polusi.

PS : Konon buah tangan yang biasa dibawa pulang para pelancong adalah nopia, mendoan dan getuk goreng. Tempatnya? Di Jalan Sawangan, dekat alun-alun juga Smile


Feb 13, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Biri-biri Lentik yang Panik

"Tante, punya software untuk terjemahin bahasa Inggris, nggaaak?" Suara panik Oyik, keponakan yang duduk di kelas 1 SMP, mengusir kantuk kemarin pagi. Tumben dia menelepon, apalagi pagi-pagi di hari kerja. Yang membikin kaget bukan suara paniknya, melainkan isi permintaannya itu. "Tante nggak punya, tapi masak bikin PR pakai software? Mbak Oyik kan harus belajar bahasa Inggris?" jawab saya.

Waks, sepertinya dia sempat sebal pada saya karena malah dikasih wejangan jadul saat minta tolong. Padahal, saya cuma tidak ingin dia terbiasa mencari jalan pintas dalam menghadapi masalah. Kebetulan saat dia menelepon, saya sedang bekerja keras, eh, blogwalking di kantor. Lewat telepon, Oyik yang sedang berinternet di sekolahnya menuntun saya ke sebuah situs perusahaan IT tempatnya magang, meminta saya membaca pengantar berbahasa Inggris dari direktur perusahaan tersebut. Buset... Tugas anak SMP kelas 1 kok susah amat? Sementara saya membaca pengantar itu, Oyik terus setengah merajuk di telepon. "Kalau nggak punya software-nya, Tante aja deh yang terjemahin. Aku nggak ngerti. Susah banget.." Waktu saya tanya kenapa tidak minta pada gurunya untuk diterangkan, Oyik tidak bisa menjawab dengan jelas. Yang saya tangkap, antara si guru tidak paham atau tidak sanggup menjawab pertanyaan dari sekian banyak murid. Saya juga tidak mungkin mengusut lebih lanjut, apalagi minta bicara dengan si guru di telepon. Takut kalau dianggap melanggar batas kewenangan. Saya kan...cuma tantenya, hehe *ngeles*.

Itulah kemalangan saya kemarin, terjepit di antara keyakinan bahwa seorang murid hanya akan memahami pelajaran kalau dia mengerjakan tugasnya sendiri, dan keinginan seorang tante agar keponakannya tumbuh jadi orang mandiri dan bertanggung jawab, namun di sisi lain saya terbayang mimiknya yang panik dan sedih tapi ngomel-ngomel di ujung telepon, bulu matanya yang lentik dan matanya yang sipit tapi dipaksakan mendelik kalau sedang ngotot. Aaaargh! Akhirnya saya kabulkan juga permintaannya. Sayalah yang akan menerjemahkan teks itu. "Ya sudah. Kamu hari Sabtu ke rumah, ya? Kita kerjakan sama-sama," kata saya.

Selang beberapa menit kemudian, Oyik menelepon lagi. "Tante, itu buat bahan presentasi Oyik hari Jumat." Duh *tepuk jidat*. Setelah sedikit argumentasi, lagi-lagi, saya gagal membujuknya menerjemahkan teks itu sendiri "pakai kamus". Mungkin juga ada unsur tidak tega, karena sebenarnya saya tahu, teks itu terlampau sulit untuk anak SMP kelas 1. Bahkan setelah dialihbahasakan pun belum tentu bisa dipahami. Apa urusannya anak SMP kelas 1 dengan makroekonomi, liberalisasi pasar dan GDP? Duh, duh, duh!

Begitulah. Kalau selama ini saya merasa geli melihat teman-teman yang browsing internet di kantor untuk membantu mengerjakan PR sang anak, ternyata demi keponakan pun saya melakukannya. Di dalam e-mail berisi terjemahan, saya membubuhkan pesan sok menggurui. "Ini sudah Tante terjemahkan poin-poinnya. Mbak Oyik minta dijelaskan sama guru sampai ngerti, ya? Ingat, malu bertanya sesat di jalan. Kalau nggak ngerti, Mbak Oyik nggak akan bisa presentasi." Setelah terkirim, muncul konfirmasi. E-mail sent to : Biri_biri_100@yahoo.com. Duh, Oyik!



Feb 6, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

pisau

Kemampuanmu menggunakan pisau sungguh mengagumkan. Sebilah pisau tajam itu bisa kamu gunakan untuk memotong sebatang kayu dan menghaluskannya. Menjadikannya sebuah benda yang sangat berguna bagimu dan orang lain. Tapi, kamu ternyata memilih untuk menghunuskan pisaumu, sehingga setiap orang yang lewat harus berhati-hati agar tidak merasakan sayatan pisaumu. Padahal kamu tidak mengenal mereka dan mereka tidak mengenalmu. Mereka hanyalah orang-orang yang kebetulan lewat dan berpapasan di jalan yang sama denganmu. Kamu tahu, pada akhirnya seseorang di luar sana akan terluka, bahkan juga dirimu. Aku tidak tahu, mengapa kamu begitu mencintai pisaumu tapi tidak menggunakannya untuk hal-hal yang lebih masuk akal. Sebegitu rendahkah kau memandang dirimu?


Feb 3, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

dagdigdug!!!


Sejak kedatangan sampai kepulangan, acara ini memang berhasil bikin saya dagdigdug. Di tengah ketidakpastian tentang maksud undangan kopi darat dadakan, keunikan lokasi di Taman Menteng yang belum pernah saya datangi dan kemampuan saya untuk hadir karena jalanan yang macet dan taksi-taksi yang kerap menghilang ketika dibutuhkan, toh akhirnya saya tiba juga di sana dan menemukan jawaban, meskipun baru sebagian. Ternyata benar dugaan saya, bahwa acara yang digelar pada Jumat malam, 1 Februari 2007 ini, meskipun santai dan penuh "hehehe" dengan sesama blogger, tapi bukan sebuah kopi darat (tanpa kopi) yang biasa.

dagdigdug akan berusaha menularkan virus ngeblog. Setidaknya itu yang dilontarkan oleh salah satu penggagasnya, Paman Tyo. Sekarang ini, karena terbatasnya akses internet, bagi kebanyakan orang ngeblog adalah sesuatu yang mewah. Padahal dengan ngeblog orang bisa mendapatkan banyak peluang dan mengembangkan potensi apa saja. Yang diperlukan hanyalah menulis dan akses internet.

Mengapa saya sebut menulis sebagai "hanya"? Buat saya, menulis kadang lebih mudah dan lebih efektif ketimbang bicara. Tidak semua orang bisa artikulat ketika berbicara, dan tidak semua orang yang pandai berbicara mampu mengartikulasikan ide-ide mereka dengan baik.

Setuju dengan Ipul, bahwa lewat blog, semua orang bisa menyalurkan ketidakpuasan (maupun kepuasan) serta uneg-uneg mereka. Namun, lewat program "Bloggers for Bangsari", Ipul dkk juga telah membuktikan bahwa kemampuan blog jauh lebih dari itu. Sejumlah komunitas telah membuktikan efektivitas blog sebagai katalis dan komunikator bagi sebuah kegiatan atau kepedulian. Memang, tidak perlu sebegitu parahnya sehingga melarang orang membuang sampah sembarangan harus lewat blog. Tapi, blog memiliki kelebihan sebagai pembangkit kesadaran dan inspirasi yang terus-menerus dan berantai.

Sebuah tulisan ringkas namun dalam muncul di koran hari ini. Bisa jadi banyak orang resah karena merasa dicekoki, didikte oleh media, terutama televisi, tanpa bisa memberi respons. Kita terpaksa memaklumi keterbatasan jam tayang dan jumlah lembaran koran, meskipun kita tahu bahwa masalahnya bukan hanya itu. Di sinilah blog mengambil alih peran sebagai penyuara bagi semua orang, sebagai pribadi, terpisah dari institusi mana pun.

Keinginan untuk mengabadikan ingatan dan bersuara telah ada sejak manusia tinggal di gua-gua, sejak para leluhur kita memahat relief di candi-candi. Ada tulisan dan kadang ada gambar. Salah satu misi dagdigdug adalah memasyarakatkan ngeblog, dan kabarnya mereka akan punya kegiatan visioner untuk melakukan roadshow ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia demi mewujudkannya. Saya bermimpi, kelak ketika akses internet semakin terbuka, orang Indonesia tidak harus selalu membuang energi untuk turun ke jalan, berteriak-teriak, membuang bahan bakar atau menambah jalanan macet tanpa hasil optimal. Masyarakat yang beradab seharusnya tidak anarkis. Mereka bersuara dan meniupkan perubahan dengan menulis.


PS :
1. Maaf, saya keasyikan menikmati suasana hingga tak memotret sekalipun. Silakan berkunjung ke sini, ke sini dan ke sini untuk catatan para blogger lain tentang acara ini Smile
2. Foto di atas cocoknya untuk Cerita Kaos kali, yak? Big Smile


Jan 30, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

benarkah rumput tetangga lebih hijau?

Setiap negeri punya masalahnya sendiri-sendiri. Tapi, seperti kata pepatah, rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau. Lantas, kalau kamu tidak betah tinggal di sini, apakah di negeri lain kamu sudah yakin akan betah dan senang? Coba deh, kamu sekarang mau pilih tinggal di mana?

  • Di Amerika? Di negeri impian yang kebebasannya bikin iri tapi kebijakan pemerintahnya kerap bikin orang seluruh dunia mencaci-maki itu?
  • Di Jepang? Kalau tidak kuat hati, bisa-bisa sebelum remaja kamu sudah mati bunuh diri karena stres menghadapi ujian.
  • Di Palestina? Duh, perang terus. Bom lagi, bom lagi. Kapan mulai membangun?
  • Di Israel? Sedikit lebih baik daripada di Palestina, tapi ada risiko kena bom plus dimaki-maki orang sedunia (kecuali Amerika).
  • Di Kenya? Sekarang lagi perang saudara. Mirip-mirip pedagang kaki lima di negeri ini. Rakyat digusur dengan ancaman terbunuh.
  • Di Australia? Lha kalau kamu terlahir jadi orang Aborigin dan mendapat perlakuan diskriminatif, bagaimana?
  • Di Jerman? Kamu akan terstigmatisasi sebagai biangnya rasis. Bahkan karya Goethe maupun Bach sekalipun sulit melunturkan stigma itu.
  • Di Rusia? Yakin kamu akan tahan untuk hidup dalam suhu minus sekian di bawah nol? Kamu nggak akan bisa tidur sembarangan pakai sarung atau daster tanpa risiko mati kaku lho.
  • Di Singapura? Apa nggak bosan dan sumpek, keliling seluruh negeri saja bisa dilakukan dalam waktu nggak sampai setengah hari? Lalu, kamu yang jorok nggak akan bisa membuang sampah atau meludah sembarangan, lho. Apalagi merokok!
  • Di Cina? Duh, ini benar-benar seperti hidup dalam TV. Kamu tidak akan tahu, mana yang nyata, mana yang rekayasa. Terima saja dengan lapang dada kalau tidak mau dibungkam.
  • Di Kuba? Wah, enak. Gaji kecil tapi kesehatan dan pangan terjamin. Tapi, kalau kamu jadi dokter bedah dan gajimu sama dengan tukang pos, padahal selera jajanmu tinggi, jangan marah, ya?

Bersyukurlah jadi orang Indonesia. Di negeri tempat kamu bisa tidak melakukan apa-apa tapi tetap bisa makan, dan tidur di mana saja tapi tetap hidup karena tanahnya subur, orang-orangnya murah hati dan cuacanya tidak pernah ekstrem Big Smile






Blogdrive