"Tante, punya
software
untuk terjemahin bahasa Inggris, nggaaak?" Suara panik Oyik, keponakan
yang duduk di kelas 1 SMP, mengusir kantuk kemarin pagi. Tumben dia
menelepon, apalagi pagi-pagi di hari kerja. Yang membikin kaget bukan
suara
paniknya, melainkan isi permintaannya itu. "Tante nggak punya, tapi
masak bikin PR pakai
software? Mbak Oyik kan harus belajar bahasa
Inggris?" jawab saya.
Waks, sepertinya dia sempat sebal pada saya karena
malah dikasih wejangan jadul saat minta tolong. Padahal, saya cuma
tidak ingin dia terbiasa mencari jalan pintas dalam menghadapi masalah.
Kebetulan saat dia menelepon, saya sedang bekerja keras, eh,
blogwalking di kantor. Lewat telepon, Oyik yang sedang berinternet di
sekolahnya menuntun saya ke sebuah situs perusahaan IT tempatnya
magang, meminta saya membaca pengantar berbahasa Inggris dari direktur
perusahaan tersebut. Buset... Tugas anak SMP kelas 1 kok susah amat?
Sementara saya membaca pengantar itu, Oyik terus setengah merajuk di
telepon. "Kalau nggak punya
software-nya,
Tante aja deh yang terjemahin. Aku nggak ngerti. Susah banget.." Waktu
saya tanya kenapa tidak minta pada gurunya untuk diterangkan, Oyik
tidak bisa menjawab dengan jelas. Yang saya tangkap, antara si guru
tidak paham atau tidak sanggup menjawab pertanyaan dari sekian banyak
murid. Saya juga tidak mungkin mengusut lebih lanjut, apalagi minta
bicara dengan si guru di telepon. Takut kalau dianggap melanggar batas
kewenangan. Saya kan...cuma tantenya, hehe *ngeles*.
Itulah
kemalangan saya kemarin, terjepit di antara keyakinan bahwa seorang
murid hanya akan memahami pelajaran kalau dia mengerjakan tugasnya
sendiri, dan keinginan seorang tante agar keponakannya tumbuh jadi
orang mandiri dan bertanggung jawab, namun di sisi lain saya terbayang
mimiknya yang panik dan sedih tapi ngomel-ngomel di ujung telepon, bulu
matanya yang lentik dan matanya yang sipit tapi dipaksakan mendelik
kalau sedang ngotot. Aaaargh! Akhirnya saya kabulkan juga
permintaannya. Sayalah yang akan menerjemahkan teks itu. "Ya sudah.
Kamu hari Sabtu ke rumah, ya? Kita kerjakan sama-sama," kata saya.
Selang beberapa menit kemudian, Oyik menelepon lagi. "Tante, itu buat
bahan presentasi Oyik hari Jumat." Duh *tepuk jidat*. Setelah sedikit argumentasi,
lagi-lagi, saya gagal membujuknya menerjemahkan teks itu sendiri "pakai
kamus". Mungkin juga ada unsur tidak tega, karena sebenarnya saya tahu,
teks itu terlampau sulit untuk anak SMP kelas 1. Bahkan setelah
dialihbahasakan pun belum tentu bisa dipahami. Apa urusannya anak SMP
kelas 1 dengan makroekonomi, liberalisasi pasar dan GDP? Duh, duh, duh!
Begitulah. Kalau selama ini saya merasa geli melihat teman-teman yang browsing
internet di kantor untuk membantu mengerjakan PR sang anak, ternyata
demi keponakan pun saya melakukannya. Di dalam e-mail berisi
terjemahan, saya membubuhkan pesan sok menggurui. "Ini sudah Tante
terjemahkan poin-poinnya. Mbak Oyik minta dijelaskan sama guru sampai
ngerti, ya? Ingat, malu bertanya sesat di jalan. Kalau nggak ngerti,
Mbak Oyik nggak akan bisa presentasi." Setelah terkirim, muncul
konfirmasi. E-mail sent to : Biri_biri_100@yahoo.com. Duh, Oyik!