Feb 6, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
Kemampuanmu menggunakan pisau sungguh
mengagumkan. Sebilah pisau tajam itu bisa kamu gunakan untuk memotong
sebatang kayu dan menghaluskannya. Menjadikannya sebuah benda yang
sangat berguna bagimu dan orang lain. Tapi, kamu ternyata memilih untuk
menghunuskan pisaumu, sehingga setiap orang yang lewat harus
berhati-hati agar tidak merasakan sayatan pisaumu. Padahal kamu tidak
mengenal mereka dan mereka tidak mengenalmu. Mereka hanyalah
orang-orang yang kebetulan lewat dan berpapasan di jalan yang sama
denganmu. Kamu tahu, pada akhirnya seseorang di luar sana akan terluka,
bahkan juga dirimu. Aku tidak tahu, mengapa kamu begitu mencintai
pisaumu tapi tidak menggunakannya untuk hal-hal yang lebih masuk akal.
Sebegitu rendahkah kau memandang dirimu?
Feb 3, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
dagdigdug!!!

Sejak
kedatangan sampai kepulangan, acara ini memang berhasil bikin saya
dagdigdug. Di tengah ketidakpastian tentang maksud undangan kopi darat
dadakan, keunikan lokasi di Taman Menteng yang belum pernah saya
datangi dan kemampuan saya untuk hadir karena jalanan yang macet dan
taksi-taksi yang kerap menghilang ketika dibutuhkan, toh akhirnya saya
tiba juga di sana dan menemukan jawaban, meskipun baru sebagian.
Ternyata benar dugaan saya, bahwa acara yang digelar pada Jumat malam,
1 Februari 2007 ini, meskipun santai dan penuh "hehehe" dengan sesama
blogger, tapi bukan sebuah kopi darat (tanpa kopi) yang biasa.
dagdigdug akan berusaha menularkan virus ngeblog. Setidaknya itu yang dilontarkan oleh salah satu penggagasnya, Paman Tyo. Sekarang ini, karena terbatasnya akses internet, bagi kebanyakan orang ngeblog adalah sesuatu yang mewah. Padahal dengan ngeblog orang bisa mendapatkan banyak peluang dan mengembangkan potensi apa saja. Yang diperlukan hanyalah menulis dan akses internet.
dagdigdug akan berusaha menularkan virus ngeblog. Setidaknya itu yang dilontarkan oleh salah satu penggagasnya, Paman Tyo. Sekarang ini, karena terbatasnya akses internet, bagi kebanyakan orang ngeblog adalah sesuatu yang mewah. Padahal dengan ngeblog orang bisa mendapatkan banyak peluang dan mengembangkan potensi apa saja. Yang diperlukan hanyalah menulis dan akses internet.
Mengapa saya sebut menulis sebagai "hanya"? Buat saya, menulis kadang lebih mudah dan lebih efektif ketimbang bicara. Tidak semua orang bisa artikulat ketika berbicara, dan tidak semua orang yang pandai berbicara mampu mengartikulasikan ide-ide mereka dengan baik.
Setuju dengan Ipul, bahwa lewat blog, semua orang bisa menyalurkan ketidakpuasan (maupun kepuasan) serta uneg-uneg mereka. Namun, lewat program "Bloggers for Bangsari", Ipul dkk juga telah membuktikan bahwa kemampuan blog jauh lebih dari itu. Sejumlah komunitas telah membuktikan efektivitas blog sebagai katalis dan komunikator bagi sebuah kegiatan atau kepedulian. Memang, tidak perlu sebegitu parahnya sehingga melarang orang membuang sampah sembarangan harus lewat blog. Tapi, blog memiliki kelebihan sebagai pembangkit kesadaran dan inspirasi yang terus-menerus dan berantai.
Sebuah tulisan ringkas namun dalam muncul di koran hari ini. Bisa jadi banyak orang resah karena merasa dicekoki, didikte oleh media, terutama televisi, tanpa bisa memberi respons. Kita terpaksa memaklumi keterbatasan jam tayang dan jumlah lembaran koran, meskipun kita tahu bahwa masalahnya bukan hanya itu. Di sinilah blog mengambil alih peran sebagai penyuara bagi semua orang, sebagai pribadi, terpisah dari institusi mana pun.
Keinginan untuk mengabadikan ingatan dan bersuara telah ada sejak manusia tinggal di gua-gua, sejak para leluhur kita memahat relief di candi-candi. Ada tulisan dan kadang ada gambar. Salah satu misi dagdigdug adalah memasyarakatkan ngeblog, dan kabarnya mereka akan punya kegiatan visioner untuk melakukan roadshow ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia demi mewujudkannya. Saya bermimpi, kelak ketika akses internet semakin terbuka, orang Indonesia tidak harus selalu membuang energi untuk turun ke jalan, berteriak-teriak, membuang bahan bakar atau menambah jalanan macet tanpa hasil optimal. Masyarakat yang beradab seharusnya tidak anarkis. Mereka bersuara dan meniupkan perubahan dengan menulis.

PS :
1. Maaf, saya keasyikan menikmati suasana hingga tak memotret sekalipun. Silakan berkunjung ke sini, ke sini dan ke sini untuk catatan para blogger lain tentang acara ini
2. Foto di atas cocoknya untuk Cerita Kaos kali, yak?
1. Maaf, saya keasyikan menikmati suasana hingga tak memotret sekalipun. Silakan berkunjung ke sini, ke sini dan ke sini untuk catatan para blogger lain tentang acara ini
2. Foto di atas cocoknya untuk Cerita Kaos kali, yak?
Jan 30, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
benarkah rumput tetangga lebih hijau?
Setiap negeri punya masalahnya
sendiri-sendiri. Tapi, seperti kata pepatah, rumput di halaman tetangga
selalu tampak lebih hijau. Lantas, kalau kamu tidak betah tinggal di
sini, apakah di negeri lain kamu sudah yakin akan betah dan senang?
Coba deh, kamu sekarang mau pilih tinggal di mana?
Bersyukurlah jadi orang Indonesia. Di negeri tempat kamu bisa tidak melakukan apa-apa tapi tetap bisa makan, dan tidur di mana saja tapi tetap hidup karena tanahnya subur, orang-orangnya murah hati dan cuacanya tidak pernah ekstrem
- Di Amerika? Di negeri impian yang kebebasannya bikin iri tapi kebijakan pemerintahnya kerap bikin orang seluruh dunia mencaci-maki itu?
- Di Jepang? Kalau tidak kuat hati, bisa-bisa sebelum remaja kamu sudah mati bunuh diri karena stres menghadapi ujian.
- Di Palestina? Duh, perang terus. Bom lagi, bom lagi. Kapan mulai membangun?
- Di Israel? Sedikit lebih baik daripada di Palestina, tapi ada risiko kena bom plus dimaki-maki orang sedunia (kecuali Amerika).
- Di Kenya? Sekarang lagi perang saudara. Mirip-mirip pedagang kaki lima di negeri ini. Rakyat digusur dengan ancaman terbunuh.
- Di Australia? Lha kalau kamu terlahir jadi orang Aborigin dan mendapat perlakuan diskriminatif, bagaimana?
- Di Jerman? Kamu akan terstigmatisasi sebagai biangnya rasis. Bahkan karya Goethe maupun Bach sekalipun sulit melunturkan stigma itu.
- Di Rusia? Yakin kamu akan tahan untuk hidup dalam suhu minus sekian di bawah nol? Kamu nggak akan bisa tidur sembarangan pakai sarung atau daster tanpa risiko mati kaku lho.
- Di Singapura? Apa nggak bosan dan sumpek, keliling seluruh negeri saja bisa dilakukan dalam waktu nggak sampai setengah hari? Lalu, kamu yang jorok nggak akan bisa membuang sampah atau meludah sembarangan, lho. Apalagi merokok!
- Di Cina? Duh, ini benar-benar seperti hidup dalam TV. Kamu tidak akan tahu, mana yang nyata, mana yang rekayasa. Terima saja dengan lapang dada kalau tidak mau dibungkam.
- Di Kuba? Wah, enak. Gaji kecil tapi kesehatan dan pangan terjamin. Tapi, kalau kamu jadi dokter bedah dan gajimu sama dengan tukang pos, padahal selera jajanmu tinggi, jangan marah, ya?
Bersyukurlah jadi orang Indonesia. Di negeri tempat kamu bisa tidak melakukan apa-apa tapi tetap bisa makan, dan tidur di mana saja tapi tetap hidup karena tanahnya subur, orang-orangnya murah hati dan cuacanya tidak pernah ekstrem
Jan 24, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
"ter"
aku ingin menjadi yang tercepat, mendapat yang terbanyak, membuat yang terbesar, meraih yang tertinggi, menggapai yang ter ter ter..
lalu, apa untungnya buat orang lain, dul?
lalu, apa untungnya buat orang lain, dul?
Jan 18, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
neraka dalam sejarah

Sewaktu melihat buku ini di rak toko, aku langsung teringat padamu, Oyik. Kelak, kalau semua buku anak-anak karya Roald Dahl
yang hebat itu sudah kamu baca, akan kuserahkan buku ini padamu.
Bacalah, dan biarkan sejarah memaparkan dirinya di depanmu. Sejarah
negeri ini, sejarah keluargamu, dan sejarah keluarga-keluarga lain.
Sejarah yang kerap berulang. Bagi sementara orang, buku ini mungkin
tidak berarti apa-apa, namun mau tidak mau telah menjadi bagian dari
lembaran kelam untuk yang lain. Ketika seorang anak pergi dan tidak
pernah kembali. Ketika seorang ayah direnggut dari tengah keluarganya
dan harus mati di balik jeruji. Buku ini, bagaimana pengaruhnya
terhadap pemahamanmu akan kehidupanmu kelak, itulah yang harus kamu
renungkan sendiri. Kenali sejarah keluargamu, dan kenali hidupmu.
Sungguh disayangkan jika kamu harus hidup dalam warisan rasa takut, padahal kamu tidak tahu apa-apa. Rasa takut yang dibuat begitu parah dan bisa membikin seseorang harus menimbang berkali-kali sekadar untuk bicara. Sungguh disayangkan jika kamu hidup terkekang prasangka, padahal kamu tidak tahu apa-apa. Prasangka yang bisa membuat seseorang merasa telah menjadi pahlawan, padahal dirinya dimanfaatkan, lalu dikambinghitamkan.
Kelak, ketika proses penumpulan terjadi padamu, seperti yang telah terjadi pada sekian generasi sebelummu, dan mungkin mulai terjadi padaku, serahkan lagi buku ini kepada generasi di bawahmu. Biarkan mereka tahu sejarah. Biarkan kalimat demi kalimat berkisah.
Judul buku : Neraka Rezim Suharto
Penulis : Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto
Penerbit : Spasi & VHR Book
Cetakan : November 2007
Tebal : xv + 156 hlm
PS : Buku ini akan diluncurkan hari ini, 18 Januari 2008. Info selengkapnya di sini.
Sungguh disayangkan jika kamu harus hidup dalam warisan rasa takut, padahal kamu tidak tahu apa-apa. Rasa takut yang dibuat begitu parah dan bisa membikin seseorang harus menimbang berkali-kali sekadar untuk bicara. Sungguh disayangkan jika kamu hidup terkekang prasangka, padahal kamu tidak tahu apa-apa. Prasangka yang bisa membuat seseorang merasa telah menjadi pahlawan, padahal dirinya dimanfaatkan, lalu dikambinghitamkan.
Kelak, ketika proses penumpulan terjadi padamu, seperti yang telah terjadi pada sekian generasi sebelummu, dan mungkin mulai terjadi padaku, serahkan lagi buku ini kepada generasi di bawahmu. Biarkan mereka tahu sejarah. Biarkan kalimat demi kalimat berkisah.
Judul buku : Neraka Rezim Suharto
Penulis : Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto
Penerbit : Spasi & VHR Book
Cetakan : November 2007
Tebal : xv + 156 hlm
PS : Buku ini akan diluncurkan hari ini, 18 Januari 2008. Info selengkapnya di sini.
Jan 14, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
terlahir mati
Tuhan,
kasihanilah kami yang bicara namun tanpa makna
Tuhan,
kasihanilah kami yang berjalan namun tanpa tujuan
Tuhan,
kasihanilah kami yang bernyawa namun tak merasa
Tuhan,
kasihanilah kami yang cendekia namun teperdaya
Tuhan,
kasihanilah kami yang tidak kunjung terlahir
Tuhan,
kasihanilah kami yang terlahir mati tanpa hati
kasihanilah kami yang bicara namun tanpa makna
Tuhan,
kasihanilah kami yang berjalan namun tanpa tujuan
Tuhan,
kasihanilah kami yang bernyawa namun tak merasa
Tuhan,
kasihanilah kami yang cendekia namun teperdaya
Tuhan,
kasihanilah kami yang tidak kunjung terlahir
Tuhan,
kasihanilah kami yang terlahir mati tanpa hati
Jan 10, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
berjualan, bakat atau keterampilan?
Buat orang yang tidak bisa berjualan
seperti saya, melihat seseorang berani memulai usaha sendiri selalu
memunculkan rasa kagum. Ada orang yang semata berdagang karena mencari
nafkah, mulai dari tukang sayur, pemilik toko kelontong, hingga pemilik
"resto" (beda nuansa dengan restoran dan rumah makan) yang seumur-umur
tidak pernah pegang alat masak, hanya mengandalkan para lulusan sekolah
boga. Ada pula orang yang berusaha sendiri karena tidak merasa nyaman
"ikut orang". Kalaupun pernah, biasanya tidak betah berlama-lama.
Golongan kedua ini biasanya mereka yang terlahir dengan jiwa wirausaha
: ulet, mandiri, disiplin dan...tidak gengsian
.
Seorang teman SMA yang bertahun-tahun bekerja di bidang konstruksi di perusahaan ritel, akhirnya berpikir untuk banting setir mendirikan rumah produksi. Kalau dilihat, sebenarnya posisinya di perusahaan itu aman dan nyaman. Tapi, ya itu tadi, katanya, "Biar gimana-gimana, lebih enak usaha sendiri." Latar belakang keluarganya yang memang terbiasa punya usaha sendiri menjadi dasar pemakluman bagi mereka yang menyayangkan keputusannya.
Berjualan, buat saya juga membutuhkan keterampilan pendekatan terhadap calon konsumen atau klien. Mana ada orang tertarik membeli satu barang atau jasa, kalau yang menawarkan judes atau terlampau agresif? Atau, kalau terlampau pasif, barang dagangan bisa tidak laku dan belum-belum sudah gulung tikar. Semasa sekolah dan kuliah, pernah saya menjajal berjualan kue dengan menitip di koperasi sebuah kantor atau berjualan kosmetik direct selling. Tapi, yah, hasilnya begitu-begitu saja. Mungkin saya juga yang tidak sepenuh hati. Kemudian, di tempat saya kecebur menjadi teknisi penjual (anggap saja ini terjemahan dari marketing engineer, hehe), ada pak bos yang bekerja seperti tidak punya udel, tidak mengenal lelah. Para anak buah kerap terseok-seok menyusul laju kerjanya. Dia bisa sangat persuasif dan pandai sekali merayu klien yang ngambek. Kadang saya meniru caranya menjawab klien saat ditelepon, tapi ya itu, jadinya saya merasa aneh sendiri
Ada salah satu blogger yang kini tengah merintis berjualan lulur di internet. Satu langkah yang cerdas, karena dengan internet, pasar seakan tak terbatas. Saya sudah pesan dan sudah menerima paketnya, termasuk bonus, hehe. Selamat, Non Mimi. Laris manis tanjung kimpul. Kalau halaman dibikin dalam bahasa Inggris juga, pesanan bisa datang dari mana saja lho.
Seorang teman SMA yang bertahun-tahun bekerja di bidang konstruksi di perusahaan ritel, akhirnya berpikir untuk banting setir mendirikan rumah produksi. Kalau dilihat, sebenarnya posisinya di perusahaan itu aman dan nyaman. Tapi, ya itu tadi, katanya, "Biar gimana-gimana, lebih enak usaha sendiri." Latar belakang keluarganya yang memang terbiasa punya usaha sendiri menjadi dasar pemakluman bagi mereka yang menyayangkan keputusannya.
Berjualan, buat saya juga membutuhkan keterampilan pendekatan terhadap calon konsumen atau klien. Mana ada orang tertarik membeli satu barang atau jasa, kalau yang menawarkan judes atau terlampau agresif? Atau, kalau terlampau pasif, barang dagangan bisa tidak laku dan belum-belum sudah gulung tikar. Semasa sekolah dan kuliah, pernah saya menjajal berjualan kue dengan menitip di koperasi sebuah kantor atau berjualan kosmetik direct selling. Tapi, yah, hasilnya begitu-begitu saja. Mungkin saya juga yang tidak sepenuh hati. Kemudian, di tempat saya kecebur menjadi teknisi penjual (anggap saja ini terjemahan dari marketing engineer, hehe), ada pak bos yang bekerja seperti tidak punya udel, tidak mengenal lelah. Para anak buah kerap terseok-seok menyusul laju kerjanya. Dia bisa sangat persuasif dan pandai sekali merayu klien yang ngambek. Kadang saya meniru caranya menjawab klien saat ditelepon, tapi ya itu, jadinya saya merasa aneh sendiri
Ada salah satu blogger yang kini tengah merintis berjualan lulur di internet. Satu langkah yang cerdas, karena dengan internet, pasar seakan tak terbatas. Saya sudah pesan dan sudah menerima paketnya, termasuk bonus, hehe. Selamat, Non Mimi. Laris manis tanjung kimpul. Kalau halaman dibikin dalam bahasa Inggris juga, pesanan bisa datang dari mana saja lho.

Jan 3, 2008
uneg-uneg si mpokb >>>>
belajar dari kartu pos
Selalu menyenangkan setiap kali menengok PostSecret.
Ada satu dua hal yang mengingatkan pada pengalaman pribadi, ada pula
realitas menyentuh namun acap tak terjangkau oleh kedangkalan jiwa.
Ketika setiap orang mengalami proses penumpulan, sehingga kerap
terseret arus yang melenakan. Ketika terpampang jelas bahwa hidup bukan
pilihan. Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia tidak pernah
benar-benar merdeka, sejak lahir hingga mati. Kewarasan hanyalah bagi
mereka yang bisa menjaga keseimbangan. Belajar dari rahasia orang lain.
Belajar dari rahasia diri sendiri. Belajar bangkit setelah jatuh,
belajar berpijak setelah mengawang. Begitu seterusnya, selagi kita
ditunggu.


Dec 29, 2007
uneg-uneg si mpokb >>>>
gantungkan bintang setinggi cita-cita

bicara
soal keinginan, satu-satunya keinginan yang paling sulit dipenuhi
adalah keinginan untuk tidak punya keinginan. benar. keinginan yang
tidak habis-habisnya itu. bermiliar-miliar bintang di langit, tidak
akan cukup untuk memenuhi bermiliar-miliar keinginan. tapi, tenang
saja, kawan. dengan atau tanpa keinginan, cepat atau lambat, dunia
memang tengah menuju kehancuran. maka, silakan kejar keinginanmu,
kawan. tinggalkan aku sendiri yang ingin menikmati ketenangan tanpa
ambisimu yang membosankan. tanpa keinginanmu untuk selalu membuktikan
diri dan pengakuan.
Dec 18, 2007
uneg-uneg si mpokb >>>>
"The Third Wave"
Berbeda
dengan kejahatan mafia yang menyerupai gurita dengan banyak kaki,
kejahatan masa kini menyerupai sel raksasa yang bereproduksi dengan
cepat. Tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanan.
Bahkan, si pemilik tangan pun tidak diketahui. (Komisaris Sellberg)
Gara-gara menonton "The Third Wave" yang disutradarai Anders Nillson, saya jadi tahu sedikit tentang pencucian uang. Meskipun tidak secara terperinci diceritakan, namun penonton mendapat gambaran tentang salah satu modelnya. Misalkan seseorang punya bisnis narkoba, pembajakan DVD, pembalakan hutan liar, penjualan manusia atau bisnis ilegal lainnya, tapi kesulitan saat ingin membelanjakan keuntungan yang dia peroleh, maka dia cukup mencari rekanan pemilik bisnis legal yang mau menampung keuntungan itu dalam pembukuan perusahaan legal, misalnya jaringan restoran. Uang kotor pun tampil sebagai keuntungan bisnis restoran. Untuk mengelabui petugas pajak, kedua rekanan ini lantas mengajukan pinjaman pada bank. Uang pinjaman itu dipakai untuk mendirikan perusahaan baru (fiktif) yang membeli jaringan restoran tadi. Setelah transaksi pembelian terjadi, uang pinjaman langsung dikembalikan ke bank, karena jumlah pinjaman yang diberikan nilainya jauh lebih kecil daripada saldo perusahaan lama. Ingat, pembelian jaringan restoran oleh perusahaan baru ini hanya terjadi di atas kertas. Lantas, keuntungan dari pembelian perusahaan langsung ditransfer ke sebuah bank di Pulau Pelikan, misalnya. Di film ini disebutkan, jumlah bank di Pulau Pelikan jauh lebih banyak daripada jumlah penduduknya
. Seluruh transaksi pemberian pinjaman dan pembelian ini hanya berlangsung dalam hitungan menit, berkat teknologi internet.
Tentu saja prosesnya tidak sesederhana di atas. Tetap diperlukan perusahaan dengan performa baik untuk meyakinkan pihak bank, meskipun pihak bank menginginkan sebanyak mungkin uang melewati sistem mereka (seperti kata tokoh Rebecca di film ini, kalau Bank A tidak mau, Bank B atau Bank C sudah mengantre).
Lantas, apa kaitan cerita di atas dengan kejahatan yang menyerupai sel raksasa dan bereproduksi dengan cepat itu? Di film ini dicontohkan, uang hasil pencucian itu ujung-ujungnya digunakan untuk bisnis legal juga. Antara lain, institusi keuangan dan jasa pengamanan. Dilukiskan, ketika salah satu dari rekanan merasa terancam karena pacarnya (yang mengetahui kejahatannya) kabur, rekanan lain memerintahkan pembunuh bayaran untuk menghabisi wanita itu. Di lain pihak, ada sekelompok pegawai jasa pengamanan yang disewa sebuah institusi keuangan untuk mencari wanita yang sama. Si pembunuh bayaran maupun si pegawai jasa pengamanan tidak tahu bahwa sebenarnya mereka bekerja untuk sekelompok orang yang sama, dan akhirnya saling tembak sendiri.
Untuk penyuka film aksi dengan intrik yang tidak terlalu berbelit, film yang di dalamnya terdapat dialog empat bahasa ini layak tonton. Jangan lihat tahun 2003-nya, karena aktualitas tidak bisa diukur dengan waktu
PS :
1. Ternyata sudah ada yang bikin posting soal cuci uang. Sekadar info, bukan rekomendasi
2. Berita terkait penghindaran pajak
Gara-gara menonton "The Third Wave" yang disutradarai Anders Nillson, saya jadi tahu sedikit tentang pencucian uang. Meskipun tidak secara terperinci diceritakan, namun penonton mendapat gambaran tentang salah satu modelnya. Misalkan seseorang punya bisnis narkoba, pembajakan DVD, pembalakan hutan liar, penjualan manusia atau bisnis ilegal lainnya, tapi kesulitan saat ingin membelanjakan keuntungan yang dia peroleh, maka dia cukup mencari rekanan pemilik bisnis legal yang mau menampung keuntungan itu dalam pembukuan perusahaan legal, misalnya jaringan restoran. Uang kotor pun tampil sebagai keuntungan bisnis restoran. Untuk mengelabui petugas pajak, kedua rekanan ini lantas mengajukan pinjaman pada bank. Uang pinjaman itu dipakai untuk mendirikan perusahaan baru (fiktif) yang membeli jaringan restoran tadi. Setelah transaksi pembelian terjadi, uang pinjaman langsung dikembalikan ke bank, karena jumlah pinjaman yang diberikan nilainya jauh lebih kecil daripada saldo perusahaan lama. Ingat, pembelian jaringan restoran oleh perusahaan baru ini hanya terjadi di atas kertas. Lantas, keuntungan dari pembelian perusahaan langsung ditransfer ke sebuah bank di Pulau Pelikan, misalnya. Di film ini disebutkan, jumlah bank di Pulau Pelikan jauh lebih banyak daripada jumlah penduduknya
Tentu saja prosesnya tidak sesederhana di atas. Tetap diperlukan perusahaan dengan performa baik untuk meyakinkan pihak bank, meskipun pihak bank menginginkan sebanyak mungkin uang melewati sistem mereka (seperti kata tokoh Rebecca di film ini, kalau Bank A tidak mau, Bank B atau Bank C sudah mengantre).
Lantas, apa kaitan cerita di atas dengan kejahatan yang menyerupai sel raksasa dan bereproduksi dengan cepat itu? Di film ini dicontohkan, uang hasil pencucian itu ujung-ujungnya digunakan untuk bisnis legal juga. Antara lain, institusi keuangan dan jasa pengamanan. Dilukiskan, ketika salah satu dari rekanan merasa terancam karena pacarnya (yang mengetahui kejahatannya) kabur, rekanan lain memerintahkan pembunuh bayaran untuk menghabisi wanita itu. Di lain pihak, ada sekelompok pegawai jasa pengamanan yang disewa sebuah institusi keuangan untuk mencari wanita yang sama. Si pembunuh bayaran maupun si pegawai jasa pengamanan tidak tahu bahwa sebenarnya mereka bekerja untuk sekelompok orang yang sama, dan akhirnya saling tembak sendiri.
Untuk penyuka film aksi dengan intrik yang tidak terlalu berbelit, film yang di dalamnya terdapat dialog empat bahasa ini layak tonton. Jangan lihat tahun 2003-nya, karena aktualitas tidak bisa diukur dengan waktu
PS :
1. Ternyata sudah ada yang bikin posting soal cuci uang. Sekadar info, bukan rekomendasi
2. Berita terkait penghindaran pajak






