alas kaki di kota alas

selop cantik, sepatu hak, selop multiguna dan sendal jepit
Seandainya trotoar yang ditawarkan Pak Pulisi itu layak disebut trotoar, bukan berupa permukaan aspal perkerasan tipis yang dipenuhi tonjolan kerikil dan koral campur tanah, tentu saya dengan senang hati jalan di trotoar. Bagi para pejalan kaki, apa yang lebih membahagiakan daripada sepotong trotoar yang "enak dijalani", apalagi kalau teduh dirindangi pepohonan? Oh, ya. Ditambah tidak ditintin-tintin dari belakang oleh para motoris yang kadang galaknya melebihi kolektor utang padahal di trotoar mereka numpang..
Kali pertama ditegur Pak Pulisi, saya tetap melenggang di jalan aspal sampai ke perempatan tempat menyeberang. Sepatu berhak, meskipun tidak terlalu tinggi, tidak bisa dipakai untuk berjalan di atas trotoar kerikil itu. Kali kedua ditegur (saya tidak tahu apakah Pak Pulisi-nya orang yang sama), entah kenapa saya naik ke trotoar, tapi setelah melewati Pak Pulisi beberapa meter, kembali lagi berjalan di jalan aspal. Nggak tahan sakitnya! Telapak kaki saya seperti tertusuk-tusuk saat menginjak trotoar berkerikil, meskipun lapisan bawah sepatu tidak terlalu tipis. Baiklah, pilihan untuk membeli sepatu berhak mungkin memang salah. Itu artinya saya lebih cocok mengenakan sepatu mokasin yang bersol tebal. Lagi pula, sepatu mokasin bagus untuk orang-orang yang suka berjalan kaki dengan kecepatan tinggi. Maksudnya, sekalian olahraga.
Begitu musim hujan masuk, sepatu mokasin kehilangan keampuhannya sebagai pelindung kaki. Kalau air hujan masuk sedikit saja, lapisan dalam sepatu yang basah bisa bikin masuk angin. Setiba di kantor saya harus ganti kaos kaki, atau tidak pakai sama sekali. Akhirnya saya mengikuti kebiasaan kebanyakan pekerja wanita di Betawi, yaitu berangkat dari rumah pakai selop. Meskipun bisa juga bikin masuk angin, tapi selop tidak membutuhkan kaos kaki dan membikin jempol bebas bernapas. Di Betawi yang kota alas ini, lebih masuk akal kalau selop tidak terlalu tinggi dan tidak banyak hiasan, karena tidak semua trotoar layak disebut trotoar dan pejalan kaki harus siap sedia meloncat pagar atau meniti penyeberangan darurat
Sampai sekarang alas kaki saya pakai secara bergantian, sesuai kebutuhan dan "kondisi lapangan". Sebelum punya selop multiguna, sendal jepit sempat menjadi alas kaki favorit saya di kantor. Di kantor lama beberapa tahun lalu, saya nekat memakai sendal jepit meskipun karyawan lain tidak berani. Juragan bertemu tidak menegur, saya anggap sebagai pemakluman. Kaki sumpek terkekang membuat saya sulit berhitung dan berpikir.








. Ternyata 








