Hai,
nama gua.. Penting nggak sih, nama gua? Kalaupun kita berkenalan dengan
menyebutkan nama dan menggunakan nama samaran, apa itu lebih baik?
Tapi, itu yang biasa dilakukan orang-orang, kan? Dan..yah, setidaknya
akan lebih memudahkan kalau-kalau kita ketemu lagi di jalan, atau di
bus ini lagi, atau di mal. Elu suka ke Plangi, kan? Gua pernah lihat
elu dan teman-teman sekantor elu, setidaknya itu perkiraan gua, makan
di food court. Gua juga
sering ke sana. Makanya, kalau elu lain kali lihat gua, panggil gua
Santi aja ya? Dan elu akan gua panggil Sinta. Gampang, kan? Dalam
bayangan gua, Sinta itu kuat, anggun, wanita yang setia dan penuh
pengharapan terhadap Rama, meskipun gua nggak tahu dalam kasus elu
Rama-nya ada atau nggak, dan apakah namanya memang Rama atau bukan.
Haha! Kalau gua sih, nggak bakal dapat lelaki kesatria seperti Rama
begitu. Dia mengelus-elus perutnya yang terlihat membuncit.
Bukan.. Ini bukan hamil di luar nikah seperti perkiraan elu dan banyak
orang lain. Gua resmi menikah, kok. Surat-suratnya lengkap. Dulu, waktu
gua kenalan sama laki gua di Jepang, gua duluan yang dekatin dia. Biasa
deh, namanya juga ditugasin kantor ke luar negeri, jauh dari teman dan
saudara. Ketemu sesama orang Indonesia, wajar dong kalau jadi akrab?
Tadinya gua sempat pingin mundur waktu tahu dia sudah berkeluarga, tapi
gua telanjur jatuh cinta. Dia juga nggak mau pisah dari gua. Istrinya
dulu nggak curiga, tapi rupanya orang kantor gua ada yang lapor ke dia.
Jadi deh, gua kena omelan si istri. Katanya gua tukang ganggu suami
orang. Padahal yang gua lakukan cuma jatuh cinta..
Laki gua
juga sih, yang nggak tegas. Masa nomor dan SMS gua yang masuk ke
ponselnya nggak ada yang dihapus? Giliran istrinya baca dan protes,
dianya juga diam aja. Akhirnya gua ikut kena omelan istrinya. Berapa
kali aja tuh, gua ditelepon dan di-SMS, disuruh ninggalin suaminya. Eh,
malah suaminya ngajakin gua nikah siri. Wah, nggak mau lah gua.
Memangnya gua nggak mikirin nasib anak gua? Lha iya, gua menikah kan
antara lain karena ingin punya anak juga. Terus, kalau nikah siri,
bagaimana cara mengurus akte anak gua nantinya? Dan hak-haknya bakal
nggak terjamin dong? Enak aja. Gua nggak mau kalau nikah siri. Dalam bayanganku, nikah siri telah disalahgunakan banyak orang sebagai cara untuk mengelabui Tuhan.
Akhirnya, biarpun agak susah ngurusnya, gua berhasil lho nikah resmi.
Maksudnya, ada buku nikah, gitu. Gua bikin aja KTP baru untuk dia
dengan status belum menikah, jadi seakan-akan dia baru menikah untuk
pertama kalinya dengan gua. Memang sih, sebaiknya untuk menikah lagi,
dia minta izin dari istri pertamanya. Sampai sekarang pun istrinya
belum tahu kalau kami sudah menikah. Dia kira, kami hanya pacaran. Tapi
seharusnya dia nggak usah takut. Lagi pula, gua juga mandiri, bekerja
dengan penghasilan yang nggak jauh beda dengan laki gua. Kalaupun dia
memberi sebagian penghasilannya buat gua, itu karena keinginannya
sendiri. Bahkan gua nggak menuntut dia untuk menginap di rumah
kontrakan gua. Sehari-harinya dia tetap bermalam di rumah sendiri.
Sulit ya, membayangkannya? Bingung? Nggak usah bingung. Gua cuma
berusaha beradaptasi dengan keadaan saat ini kok. Siapa yang bisa
beradaptasi, dia pasti bakal bertahan. Kalau nggak, punah aja lu. Yah,
gua memang harus kuat. Akan gua buktikan bahwa gua nggak selemah atau
sebodoh yang orang-orang kira. Lihat saja.
Bus
berhenti di halte dekat kantorku. Aku turun meninggalkan perempuan yang
mengaku bernama Santi itu. Sudut mataku menangkap gerakan tangannya
mengelus-elus perut yang membuncit. Dia tersenyum.
PS : Mbak Adwi, terima kasih buat hiasan dindingnya, ya
