<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Feb 12, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

dua puluh lima tahun dari sekarang

Dua puluh lima tahun dari sekarang, apakah yang akan Anda lakukan?
1. Berusaha menjadi kakek atau nenek yang baik dengan mendampingi cucu di rumah ketika orang tuanya sedang bekerja?
2. Menikmati masa pensiun dengan mengembangkan hobi yang tertunda, beternak ikan, menanam anggrek, membuat kue?
3. Bercengkerama bersama teman-teman sebaya di panti wreda?
4. Memandangi matahari terbenam di Pantai Senggigi, Lombok, setiap hari?



Feb 8, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

kacang atom yang lagi ngebom

cocok buat hiasan meja

Ada nggak ya, orang yang nggak suka ngemil kacang? Tanpa bermaksud kurang ajar, mungkin cuma para bayi dan para lansia yang tidak pernah makan kacang. Saya yakin, jumlah orang Indonesia pengemil kacang sangat tinggi. Kalau tidak, mana mungkin ada idiom "laris bak kacang goreng" atau "paling-paling dijadikan bungkus kacang goreng"? Huh, yang terakhir ini pernah diucapkan ibu profesor matematika yang sangat berpengaruh dan ditakuti di kampus saya dulu. Saking galaknya, para  mahasiswa jadi enggan mengikuti kuliah beliau, termasuk saya yang cuma ikut kuliahnya satu kali dan langsung keder. Beliau pun tidak memusingkan persentase absen. Kelulusan hanya ditentukan berdasarkan nilai ujian.  Bagi beliau, ya itu, kertas absensi "paling-paling dijadikan bungkus kacang goreng".

Kembali ke kacang! Ungkapan "laris bak kacang goreng" itu tetap bertahan, meskipun saya tidak pernah melihat gerobak kacang goreng maupun tukangnya (lha iya dong ah!). Yang ada sekarang kacang bawang tanpa kulit maupun kulit ari. Padahal, dalam khayalan saya, zaman dulu orang menjual kacang goreng masih lengkap dengan kulit arinya dan dibubuhi sedikit garam. Sekarang, kertas pembungkus kacang goreng sudah berganti dengan plastik (wah, apa sih yang sekarang tidak dibungkus plastik?).


selalu ada embel-embel "non-kolesterol"

Selain kacang bawang, yang masih lazim ditemui sehari-hari adalah kacang rebus yang pakai gerobak itu. Masih banyak penggemarnya, dan belum tergeser oleh kacang bermerek dan berkemasan resik. Di tengah merek-merek keluaran produsen besar, belakangan banyak bermunculan kacang atom, berasal dari industri rumahan. Sejauh ini, menurut tulisan di bungkus, kebanyakan berlokasi di Jakarta Timur. Semua merek dikemas serupa dan harganya pun sama, seribu perak. Penjualannya dari bus ke bus, maksudnya, dibagikan kepada para penumpang bus. Yang tidakberkenan membeli, silakan kembalikan pada pengasong.

Entah siapa penemu resep kacang atom. Katanya sih, pembuatannya cukup mudah, tapi saya belum pernah membuktikan. Saya cuma suka beli, sesekali. Rasanya? Manis, gurih, bikin ketagihan meskipun nggak sampai sakaw. Kalau Anda ingin ikut jadi produsen kacang atom, ini ada resepnya.

Ada banyak produsen kacang atom seceng, tapi rasanya belum ada kartel kacang atom. Kalau Anda bercita-cita mendorong industri dalam negeri dengan bahan baku lokal dan merek lokal, belilah kacang atom. Atau sekalian, berinvestasilah di bidang kacang atom, hitung-hitung membantu geliat industri kecil dan rumahan yang selama ini lebih sering dianaktirikan di negeri sendiri. Siapa tahu jadi juragan kacang atom lebih enak daripada jadi pegawai kantor? Shades

nyam nyam nyam


Feb 3, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

ternyata sikilku kuat

Bayangkan banjir yang menimbulkan kemacetan di sejumlah titik di Jakarta. Naik bus? Penuh, lama! Naik ojek? Pegal, bahaya! Naik taksi? Mana taksinya? Dijamin nggak dirampok atau diperas, ya?

Ah, sudahlah. Pada akhirnya, satu-satunya alat transportasi yang bisa saya andalkan dalam situasi ekstrem ternyata....anggota badan sendiri, alias kaki tercinta! Terima kasih, Tuhan, sudah memberi saya kaki yang sehat dan kuat. Terima kasih, Andi, yang sabar menunda bersih-bersih ruangan karena menunggu saya pulang. Terima kasih, Faris, yang tahu-tahu muncul dari belakang saat saya sedang menyusuri Jl. Gatot Subroto sehingga ada teman mengobrol di sepanjang perjalanan dua jam menuju perempatan UKI. Jalan kaki dua jam ini cocok sebagai hadiah wisuda, bukan? Tongue  Oh, ya. Terima kasih, Pengamen, yang lagu-lagunya menghibur para penumpang kecapaian dalam bus menuju Bogor. Kalaupun ada satu hal yang disayangkan, itu adalah ketidakberanian saya mengeluarkan kamera untuk memotret hiruk pikuk di jalanan semalam. Bagaimanapun, yang penting selamat sampai di rumah. Banjir membuktikan, sikil saya kuat. Selamat berakhir pekan. Jaga kesehatan kaki Anda. Hidup sikil!*

*Sikil itu bahasa moyang saya, artinya kaki



PS : Foto sengaja dipasang ulang sebagai bentuk penghargaan terhadap sikil Big Smile


Jan 30, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

mimpi korek api




Kamu ingat lamunanmu, ketika satu per satu batang korek api kamu nyalakan untuk merokok?
Ketika api pada batang korek terakhir padam dan menyisakan asap, menyisakan sebuah kotak kosong?
"Semuanya akan dan harus habis, seperti batang-batang korek api"
"Menandakan akhir dari sebuah perjalanan, titik"

PS : Aku tidak percaya omong kosong itu keluar dari benak seorang pemimpi


Jan 26, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

dengan gocap (semoga) gatal hilang



Sudah hampir dua minggu alergi gatal-gatal saya kambuh. Tidak menyakitkan, tapi menyebalkan. Saat seharusnya tidur nyenyak tanpa mimpi di malam hari, saya jadi terbangun bukan karena gonggongan anjing tetangga atau bunyi motor lewat, tapi karena garukan tangan sendiri. Kemarin saya sempat istirahat di rumah karena gatalnya tak tertahankan dan kulit merah-merah karena garukan. Tapi, justru karena alergi kumat inilah saya jadi tahu bahwa obat alergi bernama CTM itu ternyata sangat murah. Murah! Dengan uang Rp. 500,- Anda bisa mendapatkan 10 butir CTM Smile. Ternyata gocap bin uang tidak bernasib seapes yang saya kira. Masih ada benda yang bisa dibeli dengan uang 50 perak itu. Kalau 25 perak? Hm, trenyuh saya membayangkannya. Berani memberi uang receh 25 perak pada penjaga warung? Bisa-bisa Anda malah kena semprot, atau yang lebih menohok ulu hati, si penjaga warung yang menyumbang 100 perak pada Anda Big Smile. Wajar kalau dia kesal, karena uang 25 perak 'tidak ada harganya'. Bukan berarti benar-benar tidak berharga karena tentu saja masih ada harganya, tapi nyaris tidak bisa ditukar dengan barang apa pun.

Beberapa minggu lalu, saya bercerita pada adik saya tentang kesuksesan membebaskan dompet dari kumpulan uang receh. Dia heran, tapi saya bangga. Hm.. Apa, ya? Sulit lah menjelaskan kebanggaan macam apa yang diperoleh dengan membelanjakan uang gocap. Atau mungkin tidak sulit, cuma sebagian orang mungkin akan menganggapnya aneh. Ih, membingungkan. Singkat kata, para mbak kasir berwajah manis dan bersikap sopan dari sebuah toko swalayan yang hanya punya cabang di Semarang dan Bogor itu (huh, subjek kalimatnya saja sudah nggak singkat..) mau menerima uang gocap ketika total pembelanjaan saya mengandung pecahan 50 perak. Katakanlah waktu itu saya harus membayar Rp. 50.150,-. Maka, saya menyiapkan sehelai goban (Rp. 50.000,-) dan tiga keping gocap (Rp. 50,-) sehingga tidak perlu menerima kembalian lagi. Memang, setiap kali belanja di toko itu, mereka tidak pernah memberi kembalian dalam bentuk permen, melainkan uang receh sampai pecahan terkecil (setahu saya yang terkecil Rp. 25,-). Ternyata receh saya diterima oleh mbak kasir. Demikian pula saat belanja berikutnya, diterima juga. Bahkan pegawai yang lain bilang, "Kalau masih ada, belanjakan saja lagi di sini mbak, soalnya uang 50 dan 25 sudah susah dicari." Waktu itu uang receh saya sudah habis, tapi dalam hati saya bilang, "Tentu! Dengan senang hatiiii...!"

Mungkin ada yang suka memberi uang logam, termasuk pecahan gocap pada pengamen. Tapi, saya kira itu malah merepotkan saat dia harus belanja, kecuali kalau dia belanja di toko swalayan seperti di atas.


Jan 22, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Asyiknya Sejarah dalam Kartun



Apa hasilnya jika matematikawan lulusan Harvard bercerita tentang sejarah? Ternyata, sebuah "Kartun Riwayat Peradaban". Jika Anda seperti saya, kurang begitu paham sejarah dunia semasa diajarkan di sekolah dan ingin belajar lagi dengan cara yang menyenangkan, buku ini mungkin layak buat Anda. Buku ini juga layak untuk mereka yang sangat paham sejarah tapi ingin melihatnya dari sisi yang berbeda dengan pelajaran semasa Anda bersekolah. Tentu saja, selama sekian tahun ajaran, selalu ada bagian dari pelajaran sejarah yang harus direvisi. Jumlah planet saja bisa dikurangi, kok.

Karena novel ini 'ngomik, maka cocok juga untuk Anda yang ingin tetap tersenyum sambil belajar. Banyak bagian-bagian yang cukup kocak meskipun di beberapa tempat dibutuhkan kebesaran jiwa untuk bisa menganggapnya lucu. Hehe, maksud saya, namanya juga buku. Isinya kan pendapat penulis. Kalau ada yang dirasa tidak sreg, ya jangan 'ngambek. Taruh dulu sebentar, tarik napas, lalu mulai baca lagi. Atau, kalau masih tidak sreg, jangan dibaca terus. Buat saja karya sendiri yang lebih mewakili pendapat Anda. Lho, ini kok jadi ke mana-mana sih?





Kartun Riwayat Peradaban ini merupakan trilogi. Jilid I menguraikan sejarah Bumi sejak peristiwa Big Bang atau Ledakan Besar sampai masa kejayaan Iskandar Agung. Jilid II mengisahkan peradaban Tiongkok sampai keruntuhan Kekaisaran Roma, dan jilid III tentang kebangkitan Dunia Islam sampai gerakan Renaissance. Saya sendiri baru punya jilid I dan II. Jilid III sengaja belum beli, karena toh saya tetap akan membacanya satu per satu.

Meskipun bentuknya kartun, tapi rasanya lebih cocok dibaca oleh remaja atau dewasa. Ada beberapa materi bahasan yang bisa membingungkan anak-anak. Mengenai asal-usul spesies manusia, misalnya, merupakan topik yang akan selalu diperdebatkan. Saran saya, nikmati sajalah penuturan Larry Gonick lewat kartun kocaknya. Anda bisa menyegarkan kembali pemahaman tentang sejarah, dan tertawa adalah bonusnya.



Judul : "Kartun Riwayat Peradaban Jilid I"
Pengarang : Larry Gonick (1990)
Penerjemah : Frans Kowa
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2006
Tebal : VIII + 362 halaman


Jan 17, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

Maka, Bacalah! (Dan Menulislah)

Ngeblog sekaligus berarti berbagi info. Saya tidak tahan untuk tidak berbagi cuplikan wawancara Kim Clarke Champniss dengan Alan Lightman, seorang fisikawan, pengajar, esais dan penulis novel, dalam serial The Word This Week episode 5-17 produksi Book Television. Tulisan di bawah merupakan terjemahan dari penjelasan Pak Lightman. Maka, bacalah! Smile

Eksplorasi dunia, baik sisi dalam maupun sisi luarnya adalah bagian yang menjadikan kita manusia. Keingintahuan tentang diri kita dan posisi kita di alam semesta. Keingintahuan yang mendalam. Dunia merupakan tempat yang rumit. Alangkah menakutkan membayangkan ketiadaan aturan, makna atau rasionalitas. Upaya ilmu untuk menemukan aturan dan pemahaman merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk menemukan makna kehidupan. Ini upaya yang sama dengan filsuf, teolog dan penulis. Untuk menemukan makna.

Ilmuwan punya cara khusus untuk menemukan makna. Cerita sama pentingnya dengan mimpi. Cerita merupakan satu cara untuk menata pengalaman kita dengan dunia. Sebuah cerita bagi saya merupakan struktur pengatur. Manusia punya otak yang hebat, dan strategi pertahanan kita adalah mampu berpikir dengan baik. Tapi, berpikir mendatangkan masalah. Lebih menyadari kehidupan dan kerumitan dunia bisa membuat Anda gila. Menurut saya, manfaat evolusioner dari sebuah cerita adalah mencegah kita menjadi gila.

Ilmu sangat mirip dengan seni. Sebagian aspek estetikanya sama. Ilmuwan dan seniman sama-sama mencari kebenaran, meskipun jenis kebenarannya berbeda. Ilmuwan mencari kebenaran dalam dunia fisik, dunia massa dan tenaga. Seniman mencari kebenaran dalam dunia emosi, dunia pikiran dan hati. Tapi, keduanya sama-sama mencari kebenaran dan sama-sama terdorong untuk melakukan pekerjaan mereka. Mereka mencintai pekerjaan mereka. Walt Whitman, seorang penyair Amerika, mengucapkan sesuatu yang indah semasa kecilnya. Dia sadar bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi penyair. Ucapannya adalah, "Takkan lagi diriku mengelak." Ilmuwan dan seniman melakukan pekerjaan mereka karena mereka merasa terdorong untuk itu. Karena, mereka tidak sanggup untuk tidak melakukannya.

PS : Alangkah senangnya para penerjemah buku. Dapat bacaan gratis, dibayar pula. Kalau saya boleh menerjemahkan buku Pak Lightman, mungkin bisa gila saking senangnya


Jan 11, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

(sok) pentingnya ngeblog dan belajar bicara lagi

Lama tidak posting, bukan berarti saya tidak punya uneg-uneg. Uneg-uneg saya ada segudang, cuma sulit untuk menguraikannya, mungkin karena saling menjerat seperti benang ruwet. Memangnya penting ya, ngeblog itu? Berhubung fungsi ngeblog buat saya adalah sekaligus mengungkapkan hal-hal yang tidak selalu bisa dikatakan, jadi saya jadikan penting saja.

Beberapa bulan lalu, saya mendengar sedikit obrolan di bus malam-malam sepulang kerja. Iya, itulah salah satu sebab saya belum memilih jadi penglaju dengan car pool. Naik angkutan umum massal membuat saya selalu bisa melihat orang-orang baru, atau menguping pembicaraan yang penting, kayaknya penting, sok penting, bahkan nggak penting tapi dipenting-pentingkan. Penumpang lain tidak punya pilihan untuk tidak menguping kalau obrolan dilakukan secara bersemangat. Atau mendengar ring tone unik seperti "Sungguh teganya teganya teganyaaaaa, ada telepon kok nggak diangkaaaat!" dari ponsel seorang kakek. Alasan lain lagi adalah, dengan tidak ikut car pool, saya jadi punya keharusan untuk sedikit berjalan kaki sambil menghirup udara Jakarta yang membusuk dan mengimbangi kesadaran saya supaya tidak mengira bahwa Jakarta selalu sewangi mal-mal yang kadang saya datangi. Kembali ke percakapan yang saya kupingi tadi. Entah dua atau tiga orang, tapi sepertinya semua orang itu punya akun friendster. Salah seorang lalu bertanya, "Lu nggak ikutan bikin blog?" Temannya menjawab, "Oh, yang nulis-nulis itu? Ih, nggak lah. Ngapain. Narsis banget." Jawaban yang menurut saya bisa salah dan bisa benar, meskipun si penjawab sendiri belum tentu pernah mengunjungi blog dan melakukan riset tentang blog. Tapi, ya sudahlah, itu cuma salah satu opini.

Menurut saya, tanpa bikin blog, seseorang pun bisa (dianggap) narsistis. Dengan blog, kita jadi tahu isi kepala seseorang atau sedikit keunikannya melalui gayanya berbahasa. Lewat blogging, saya menemukan banyak sekali tulisan mengasyikkan yang tidak akan ditemukan di media lain -padahal menurut saya tulisan itu bagus dan menyegarkan- hanya karena tidak memenuhi selera si editor media tersebut. Bahkan, bisa dibilang saya sering menemukan tulisan di blog yang jauh lebih bagus daripada tulisan orang ternama di media lain. Dan, saya tidak harus membayar untuk membacanya. Saya senang, karena "barang gratisan dijamin jelek" tidak berlaku di dunia blog. Makanya, kadang saya merasa prihatin kalau ada blog yang tiba-tiba mati atau bahkan menghilang, padahal tulisannya bernas dan unik.

Tentu saja, mengingat hampir tidak ada persensoran di dunia blog, tulisan apa pun bisa muncul di sana. Hal ini mengingatkan saya pada ucapan bijak seorang penyanyi hip hop bernama Rochester aka Juice (belajar bisa dari mana saja, kan?). Katanya, hip hop adalah ekspresi diri. Mungkin berisi hal-hal yang tidak ingin dikatakan orang lain. Tapi, dalam kebebasan berekspresi itu harus ada tanggung jawab. "Aku tahu, jika aku mengatakan sesuatu, pasti akan ada akibatnya. Benarkah aku ingin mengatakan hal itu?" ujarnya. Ingatan saya pun kembali terbawa kepada sekian peristiwa yang menghiasi negeri ini. Kehebohan yang dipicu oleh satu kalimat, atau pengungkapan satu peristiwa. Berita-berita yang dirilis sesegera mungkin tanpa pengecekan keabsahan, sekadar untuk diralat keesokan harinya. Sungguh membingungkan.

Sejak masyarakat Indonesia punya kebebasan berekspresi pasca-keruntuhan Orba (atau hanya mengendap?), semua berhak bicara. Munculnya hal-hal yang dianggap nyeleneh, atau "tidak ingin dikatakan orang lain", meminjam istilah Rochester, seperti tidak bisa dibendung lagi. Kebablasan. Seperti anak-anak yang diizinkan berlari-lari sesuka hati setelah sekian lama dikurung di kamar. Berlari boleh saja, tapi ketika seorang anak jatuh atau terluka, maka dia sendirilah yang akan merasakan sakitnya. Konsekuensi yang tidak semua orang siap menerimanya inilah yang ingin ditekankan oleh Rochester. Jangan sampai yang terjadi belakangan adalah saling tuding dan melemparkan kesalahan. Bahkan untuk bicara, kita pun masih harus banyak belajar.

PS :
1. Sampai sekarang saya belum bisa menikmati hip hop
2. Semoga foto saya nggak dianggap narsistis atau kebablasan, karena saya sudah lupa cara main gitar



Jan 2, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

berbagi rahasia, menolong sesama

Sudah pernah lihat blog ini? Katanya sih, ini blog populer ketiga di internet, dikunjungi  lebih dari 3 juta pengunjung dalam sebulan, dan sudah dibukukan juga. Tapi, bukan itu saja yang menjadikannya mengesankan. Blog ini ternyata telah membantu banyak orang dalam mengatasi krisis dengan langkah awal : mengungkapkan rahasia pribadi.

Ide yang menjadi proyek seni memasyarakat ini bisa terwujud karena partisipasi dari orang banyak yang mengirimkan kartu pos kepada si blogger, Frank Warren. Sejak Oktober 2004, Warren menerima ribuan kartu pos anonim berisi rahasia si pengirim yang belakangan ditampilkan dalam berbagai pameran. Beberapa di antaranya muncul di salah satu video clip grup All American Rejects, "Dirty Little Secret".

Melihat kartu pos-kartu pos yang terpajang di blog itu sungguh mengasyikkan. Keren! Beberapa kartu didesain begitu kreatif dan orisinal, lucu, membangkitkan optimisme, tapi ada pula yang menyentuh dan mengharukan. Tidak bisa tidak, kita akan selalu membandingkan masalah kita sendiri dengan masalah orang lain, bahkan berkata, "Ternyata saya masih lebih beruntung." Dengan mengetahui rahasia orang lain yang tak dikenalnya, Warren memberi bantuan pada orang itu secara tidak langsung. Blog ini terkait dengan hotline yang membantu pencegahan kasus bunuh diri, membantu mereka (kebanyakan para remaja) mengungkapkan masalah dan mendampingi mereka dalam menghadapinya. Menurut Warren, penting bagi seseorang untuk mengenali suatu masalah, menerimanya dan menentukan sikap, bukan berusaha menyangkalnya. Dalam kegiatan pameran ribuan kartu pos yang diterimanya, sering kali para pengirim kartu mendatangi dan menyapa Warren. Unik juga, ya? Bukankah pada awalnya mereka hanya ingin dikenal sebagai anonim?

Setelah menerbitkan "Postsecret : Extraordinary Confessions from Ordinary Lives" pada Desember 2005, Warren menerbitkan "My Secret : A Postsecret Book" pada November 2006 dan akan menerbitkan "The Secret Lives of Men and Women : A Postsecret Book" tanggal 7 Januari 2007. Duh, kapan ya buku ini tiba di Indonesia? Siapa tahu saya bisa ikutan baca?

-- info diambil dari berbagai sumber


Dec 28, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

perut

Hai, nama gua.. Penting nggak sih, nama gua? Kalaupun kita berkenalan dengan menyebutkan nama dan menggunakan nama samaran, apa itu lebih baik? Tapi, itu yang biasa dilakukan orang-orang, kan? Dan..yah, setidaknya akan lebih memudahkan kalau-kalau kita ketemu lagi di jalan, atau di bus ini lagi, atau di mal. Elu suka ke Plangi, kan? Gua pernah lihat elu dan teman-teman sekantor elu, setidaknya itu perkiraan gua, makan di food court. Gua juga sering ke sana. Makanya, kalau elu lain kali lihat gua, panggil gua Santi aja ya? Dan elu akan gua panggil Sinta. Gampang, kan? Dalam bayangan gua, Sinta itu kuat, anggun, wanita yang setia dan penuh pengharapan terhadap Rama, meskipun gua nggak tahu dalam kasus elu Rama-nya ada atau nggak, dan apakah namanya memang Rama atau bukan. Haha! Kalau gua sih, nggak bakal dapat lelaki kesatria seperti Rama begitu. Dia mengelus-elus perutnya yang terlihat membuncit.

Bukan.. Ini bukan hamil di luar nikah seperti perkiraan elu dan banyak orang lain. Gua resmi menikah, kok. Surat-suratnya lengkap. Dulu, waktu gua kenalan sama laki gua di Jepang, gua duluan yang dekatin dia. Biasa deh, namanya juga ditugasin kantor ke luar negeri, jauh dari teman dan saudara. Ketemu sesama orang Indonesia, wajar dong kalau jadi akrab? Tadinya gua sempat pingin mundur waktu tahu dia sudah berkeluarga, tapi gua telanjur jatuh cinta. Dia juga nggak mau pisah dari gua. Istrinya dulu nggak curiga, tapi rupanya orang kantor gua ada yang lapor ke dia. Jadi deh, gua kena omelan si istri. Katanya gua tukang ganggu suami orang. Padahal yang gua lakukan cuma jatuh cinta..

Laki gua juga sih, yang nggak tegas. Masa nomor dan SMS gua yang masuk ke ponselnya nggak ada yang dihapus? Giliran istrinya baca dan protes, dianya juga diam aja. Akhirnya gua ikut kena omelan istrinya. Berapa kali aja tuh, gua ditelepon dan di-SMS, disuruh ninggalin suaminya. Eh, malah suaminya ngajakin gua nikah siri. Wah, nggak mau lah gua. Memangnya gua nggak mikirin nasib anak gua? Lha iya, gua menikah kan antara lain karena ingin punya anak juga. Terus, kalau nikah siri, bagaimana cara mengurus akte anak gua nantinya? Dan hak-haknya bakal nggak terjamin dong? Enak aja. Gua nggak mau kalau nikah siri. Dalam bayanganku, nikah siri telah disalahgunakan banyak orang sebagai cara untuk mengelabui Tuhan.

Akhirnya, biarpun agak susah ngurusnya, gua berhasil lho nikah resmi. Maksudnya, ada buku nikah, gitu. Gua bikin aja KTP baru untuk dia dengan status belum menikah, jadi seakan-akan dia baru menikah untuk pertama kalinya dengan gua. Memang sih, sebaiknya untuk menikah lagi, dia minta izin dari istri pertamanya. Sampai sekarang pun istrinya belum tahu kalau kami sudah menikah. Dia kira, kami hanya pacaran. Tapi seharusnya dia nggak usah takut. Lagi pula, gua juga mandiri, bekerja dengan penghasilan yang nggak jauh beda dengan laki gua. Kalaupun dia memberi sebagian penghasilannya buat gua, itu karena keinginannya sendiri. Bahkan gua nggak menuntut dia untuk menginap di rumah kontrakan gua. Sehari-harinya dia tetap bermalam di rumah sendiri. Sulit ya, membayangkannya? Bingung? Nggak usah bingung. Gua cuma berusaha beradaptasi dengan keadaan saat ini kok. Siapa yang bisa beradaptasi, dia pasti bakal bertahan. Kalau nggak, punah aja lu. Yah, gua memang harus kuat. Akan gua buktikan bahwa gua nggak selemah atau sebodoh yang orang-orang kira. Lihat saja.

Bus berhenti di halte dekat kantorku. Aku turun meninggalkan perempuan yang mengaku bernama Santi itu. Sudut mataku menangkap gerakan tangannya mengelus-elus perut yang membuncit. Dia tersenyum.

 

PS : Mbak Adwi, terima kasih buat hiasan dindingnya, ya Smile






Blogdrive