Ternyata jaket ini masih ada. Saya
mendapatkannya dengan memesan bersama-sama sembilan orang lain,
teman-teman sekelas saya di SMA. Entah bagaimana sekarang, apakah masih
musim memesan jaket seragam dengan sekelompok teman. Lho, memangnya
anak SMA tidak bisa tidak berkelompok, ya? Nggak tahu ya, dulu
sepertinya banyak teman-teman saya yang punya semacam kelompok, atau
geng, untuk melakukan apa saja. Lebih seringnya sih untuk nge-
band,
main basket, menari atau sekadar berkumpul sepulang sekolah. Geng itu
jadi besar bukan karena semuanya bermusik atau bermain basket, tapi
mungkin juga ada kategori sekadar penggemar atau pengagum yang ikut
jadi 'anggota' geng.
Seingat saya, ada beberapa teman di bangku SD yang sudah mulai
coba-coba membuat geng atau ikut jadi anggota geng anak-anak yang lebih
besar dan sudah sekolah di SMP. Tapi, saya rasa baru di bangku SMA-lah
geng jadi begitu terasa penting bagi ABG.
Tawuran pada masa saya di SMA, hampir 20 tahun lalu, belum begitu
marak. Berkelahi antarmurid atau antarsekolah memang ada, bahkan pihak
sekolah saya sempat melarang para murid mengenakan emblem alamat
sekolah di bahu kanan untuk seragam Senin sampai Kamis atau rok
bermotif
tartan untuk seragam
Jumat dan Sabtu bagi para siswi. Tapi, perkelahian di masa lalu tidak
sebrutal sekarang. Suatu hal yang mengherankan bagi saya, karena
semestinya di masa sekarang para murid punya lebih banyak pilihan untuk
berkegiatan. Semestinya perhatian ke arah perkelahian lebih teralihkan.
Semestinya energi para murid sudah habis untuk hal-hal lain. Menurut
perkiraan saya, orang yang banyak kegiatan dan kecapekan tentunya tidak
akan punya tenaga untuk berkelahi. Begitu juga murid SMA. Satu hal yang
saya lihat sangat berbeda adalah, murid SMA sekarang mudah tersulut
amarahnya hanya dengan tatapan mata dari murid SMA lain. Kenapa, ya?
Kembali ke jaket, tulisan "Hysteria" di punggung jaket itu benar-benar menjiplak dari album "Hysteria" milik
Def Leppard
yang memang sedang nge-hit saat itu. Bukan nekat, tapi memang tidak
terpikir bahwa hal itu melanggar hak cipta. Adalah Hansen Tancil, teman
SMA "anak dari Benteng" yang memperkenalkan saya pada grup musik ini.
Tapi, teman-teman yang mengusulkan pembuatan jaket ini punya maksud
sendiri dengan "Hysteria". Kata mereka, ini singkatan dari "himpunan
siswa suka teriak-teriak".
Jadilah jaket ini selama beberapa saat menemani saya ke sekolah. Selain
udara Bogor memang cenderung dingin, saya suka tulisan "Hysteria"-nya.
Saya suka jaket ini bukan karena suka nge-geng atau ingin diakui
sebagai anggota kelompok tertentu (wah, harus dibahas nih kenapa ada
orang-orang yang sangat suka jadi anggota kelompok tertentu atau bangga
sekali mengenakan jaket tertentu

).
Saya punya jaket ini pun bukan karena terlampau suka teriak-teriak.
Kata sohib saya di kelas 1 SMA dulu, pemesanan jaket minimal untuk 10
orang. Karena pacar sohib saya dan teman-teman yang suka teriak-teriak
itu baru berdelapan, akhirnya sohib saya diajak ikutan bikin, dan saya
jadi penggenap, alias pembikin jaket yang terakhir

.
PS : Harap maklum, saya belum sempat
blogwalking. Duh, Telkomnet Instan..
