dengan gocap (semoga) gatal hilang

. Ternyata gocap bin uang
tidak bernasib seapes yang saya kira. Masih ada benda yang bisa dibeli
dengan uang 50 perak itu. Kalau 25 perak? Hm, trenyuh saya
membayangkannya. Berani memberi uang receh 25 perak pada penjaga
warung? Bisa-bisa Anda malah kena semprot, atau yang lebih menohok ulu
hati, si penjaga warung yang menyumbang 100 perak pada Anda Beberapa minggu lalu, saya bercerita pada adik saya tentang kesuksesan membebaskan dompet dari kumpulan uang receh. Dia heran, tapi saya bangga. Hm.. Apa, ya? Sulit lah menjelaskan kebanggaan macam apa yang diperoleh dengan membelanjakan uang gocap. Atau mungkin tidak sulit, cuma sebagian orang mungkin akan menganggapnya aneh. Ih, membingungkan. Singkat kata, para mbak kasir berwajah manis dan bersikap sopan dari sebuah toko swalayan yang hanya punya cabang di Semarang dan Bogor itu (huh, subjek kalimatnya saja sudah nggak singkat..) mau menerima uang gocap ketika total pembelanjaan saya mengandung pecahan 50 perak. Katakanlah waktu itu saya harus membayar Rp. 50.150,-. Maka, saya menyiapkan sehelai goban (Rp. 50.000,-) dan tiga keping gocap (Rp. 50,-) sehingga tidak perlu menerima kembalian lagi. Memang, setiap kali belanja di toko itu, mereka tidak pernah memberi kembalian dalam bentuk permen, melainkan uang receh sampai pecahan terkecil (setahu saya yang terkecil Rp. 25,-). Ternyata receh saya diterima oleh mbak kasir. Demikian pula saat belanja berikutnya, diterima juga. Bahkan pegawai yang lain bilang, "Kalau masih ada, belanjakan saja lagi di sini mbak, soalnya uang 50 dan 25 sudah susah dicari." Waktu itu uang receh saya sudah habis, tapi dalam hati saya bilang, "Tentu! Dengan senang hatiiii...!"
Mungkin ada yang suka memberi uang logam, termasuk pecahan gocap pada pengamen. Tapi, saya kira itu malah merepotkan saat dia harus belanja, kecuali kalau dia belanja di toko swalayan seperti di atas.












