Maka, Bacalah! (Dan Menulislah)
Eksplorasi dunia, baik sisi dalam maupun sisi luarnya adalah bagian yang menjadikan kita manusia. Keingintahuan tentang diri kita dan posisi kita di alam semesta. Keingintahuan yang mendalam. Dunia merupakan tempat yang rumit. Alangkah menakutkan membayangkan ketiadaan aturan, makna atau rasionalitas. Upaya ilmu untuk menemukan aturan dan pemahaman merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk menemukan makna kehidupan. Ini upaya yang sama dengan filsuf, teolog dan penulis. Untuk menemukan makna.
Ilmuwan punya cara khusus untuk menemukan makna. Cerita sama pentingnya dengan mimpi. Cerita merupakan satu cara untuk menata pengalaman kita dengan dunia. Sebuah cerita bagi saya merupakan struktur pengatur. Manusia punya otak yang hebat, dan strategi pertahanan kita adalah mampu berpikir dengan baik. Tapi, berpikir mendatangkan masalah. Lebih menyadari kehidupan dan kerumitan dunia bisa membuat Anda gila. Menurut saya, manfaat evolusioner dari sebuah cerita adalah mencegah kita menjadi gila.
Ilmu sangat mirip dengan seni. Sebagian aspek estetikanya sama. Ilmuwan dan seniman sama-sama mencari kebenaran, meskipun jenis kebenarannya berbeda. Ilmuwan mencari kebenaran dalam dunia fisik, dunia massa dan tenaga. Seniman mencari kebenaran dalam dunia emosi, dunia pikiran dan hati. Tapi, keduanya sama-sama mencari kebenaran dan sama-sama terdorong untuk melakukan pekerjaan mereka. Mereka mencintai pekerjaan mereka. Walt Whitman, seorang penyair Amerika, mengucapkan sesuatu yang indah semasa kecilnya. Dia sadar bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi penyair. Ucapannya adalah, "Takkan lagi diriku mengelak." Ilmuwan dan seniman melakukan pekerjaan mereka karena mereka merasa terdorong untuk itu. Karena, mereka tidak sanggup untuk tidak melakukannya.
PS : Alangkah senangnya para penerjemah buku. Dapat bacaan gratis, dibayar pula. Kalau saya boleh menerjemahkan buku Pak Lightman, mungkin bisa gila saking senangnya










