<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Jan 2, 2007

uneg-uneg si mpokb >>>>

berbagi rahasia, menolong sesama

Sudah pernah lihat blog ini? Katanya sih, ini blog populer ketiga di internet, dikunjungi  lebih dari 3 juta pengunjung dalam sebulan, dan sudah dibukukan juga. Tapi, bukan itu saja yang menjadikannya mengesankan. Blog ini ternyata telah membantu banyak orang dalam mengatasi krisis dengan langkah awal : mengungkapkan rahasia pribadi.

Ide yang menjadi proyek seni memasyarakat ini bisa terwujud karena partisipasi dari orang banyak yang mengirimkan kartu pos kepada si blogger, Frank Warren. Sejak Oktober 2004, Warren menerima ribuan kartu pos anonim berisi rahasia si pengirim yang belakangan ditampilkan dalam berbagai pameran. Beberapa di antaranya muncul di salah satu video clip grup All American Rejects, "Dirty Little Secret".

Melihat kartu pos-kartu pos yang terpajang di blog itu sungguh mengasyikkan. Keren! Beberapa kartu didesain begitu kreatif dan orisinal, lucu, membangkitkan optimisme, tapi ada pula yang menyentuh dan mengharukan. Tidak bisa tidak, kita akan selalu membandingkan masalah kita sendiri dengan masalah orang lain, bahkan berkata, "Ternyata saya masih lebih beruntung." Dengan mengetahui rahasia orang lain yang tak dikenalnya, Warren memberi bantuan pada orang itu secara tidak langsung. Blog ini terkait dengan hotline yang membantu pencegahan kasus bunuh diri, membantu mereka (kebanyakan para remaja) mengungkapkan masalah dan mendampingi mereka dalam menghadapinya. Menurut Warren, penting bagi seseorang untuk mengenali suatu masalah, menerimanya dan menentukan sikap, bukan berusaha menyangkalnya. Dalam kegiatan pameran ribuan kartu pos yang diterimanya, sering kali para pengirim kartu mendatangi dan menyapa Warren. Unik juga, ya? Bukankah pada awalnya mereka hanya ingin dikenal sebagai anonim?

Setelah menerbitkan "Postsecret : Extraordinary Confessions from Ordinary Lives" pada Desember 2005, Warren menerbitkan "My Secret : A Postsecret Book" pada November 2006 dan akan menerbitkan "The Secret Lives of Men and Women : A Postsecret Book" tanggal 7 Januari 2007. Duh, kapan ya buku ini tiba di Indonesia? Siapa tahu saya bisa ikutan baca?

-- info diambil dari berbagai sumber


Dec 28, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

perut

Hai, nama gua.. Penting nggak sih, nama gua? Kalaupun kita berkenalan dengan menyebutkan nama dan menggunakan nama samaran, apa itu lebih baik? Tapi, itu yang biasa dilakukan orang-orang, kan? Dan..yah, setidaknya akan lebih memudahkan kalau-kalau kita ketemu lagi di jalan, atau di bus ini lagi, atau di mal. Elu suka ke Plangi, kan? Gua pernah lihat elu dan teman-teman sekantor elu, setidaknya itu perkiraan gua, makan di food court. Gua juga sering ke sana. Makanya, kalau elu lain kali lihat gua, panggil gua Santi aja ya? Dan elu akan gua panggil Sinta. Gampang, kan? Dalam bayangan gua, Sinta itu kuat, anggun, wanita yang setia dan penuh pengharapan terhadap Rama, meskipun gua nggak tahu dalam kasus elu Rama-nya ada atau nggak, dan apakah namanya memang Rama atau bukan. Haha! Kalau gua sih, nggak bakal dapat lelaki kesatria seperti Rama begitu. Dia mengelus-elus perutnya yang terlihat membuncit.

Bukan.. Ini bukan hamil di luar nikah seperti perkiraan elu dan banyak orang lain. Gua resmi menikah, kok. Surat-suratnya lengkap. Dulu, waktu gua kenalan sama laki gua di Jepang, gua duluan yang dekatin dia. Biasa deh, namanya juga ditugasin kantor ke luar negeri, jauh dari teman dan saudara. Ketemu sesama orang Indonesia, wajar dong kalau jadi akrab? Tadinya gua sempat pingin mundur waktu tahu dia sudah berkeluarga, tapi gua telanjur jatuh cinta. Dia juga nggak mau pisah dari gua. Istrinya dulu nggak curiga, tapi rupanya orang kantor gua ada yang lapor ke dia. Jadi deh, gua kena omelan si istri. Katanya gua tukang ganggu suami orang. Padahal yang gua lakukan cuma jatuh cinta..

Laki gua juga sih, yang nggak tegas. Masa nomor dan SMS gua yang masuk ke ponselnya nggak ada yang dihapus? Giliran istrinya baca dan protes, dianya juga diam aja. Akhirnya gua ikut kena omelan istrinya. Berapa kali aja tuh, gua ditelepon dan di-SMS, disuruh ninggalin suaminya. Eh, malah suaminya ngajakin gua nikah siri. Wah, nggak mau lah gua. Memangnya gua nggak mikirin nasib anak gua? Lha iya, gua menikah kan antara lain karena ingin punya anak juga. Terus, kalau nikah siri, bagaimana cara mengurus akte anak gua nantinya? Dan hak-haknya bakal nggak terjamin dong? Enak aja. Gua nggak mau kalau nikah siri. Dalam bayanganku, nikah siri telah disalahgunakan banyak orang sebagai cara untuk mengelabui Tuhan.

Akhirnya, biarpun agak susah ngurusnya, gua berhasil lho nikah resmi. Maksudnya, ada buku nikah, gitu. Gua bikin aja KTP baru untuk dia dengan status belum menikah, jadi seakan-akan dia baru menikah untuk pertama kalinya dengan gua. Memang sih, sebaiknya untuk menikah lagi, dia minta izin dari istri pertamanya. Sampai sekarang pun istrinya belum tahu kalau kami sudah menikah. Dia kira, kami hanya pacaran. Tapi seharusnya dia nggak usah takut. Lagi pula, gua juga mandiri, bekerja dengan penghasilan yang nggak jauh beda dengan laki gua. Kalaupun dia memberi sebagian penghasilannya buat gua, itu karena keinginannya sendiri. Bahkan gua nggak menuntut dia untuk menginap di rumah kontrakan gua. Sehari-harinya dia tetap bermalam di rumah sendiri. Sulit ya, membayangkannya? Bingung? Nggak usah bingung. Gua cuma berusaha beradaptasi dengan keadaan saat ini kok. Siapa yang bisa beradaptasi, dia pasti bakal bertahan. Kalau nggak, punah aja lu. Yah, gua memang harus kuat. Akan gua buktikan bahwa gua nggak selemah atau sebodoh yang orang-orang kira. Lihat saja.

Bus berhenti di halte dekat kantorku. Aku turun meninggalkan perempuan yang mengaku bernama Santi itu. Sudut mataku menangkap gerakan tangannya mengelus-elus perut yang membuncit. Dia tersenyum.

 

PS : Mbak Adwi, terima kasih buat hiasan dindingnya, ya Smile


Dec 17, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Himpunan Siswa Suka Teriak-Teriak




Ternyata jaket ini masih ada. Saya mendapatkannya dengan memesan bersama-sama sembilan orang lain, teman-teman sekelas saya di SMA. Entah bagaimana sekarang, apakah masih musim memesan jaket seragam dengan sekelompok teman. Lho, memangnya anak SMA tidak bisa tidak berkelompok, ya? Nggak tahu ya, dulu sepertinya banyak teman-teman saya yang punya semacam kelompok, atau geng, untuk melakukan apa saja. Lebih seringnya sih untuk nge-band, main basket, menari atau sekadar berkumpul sepulang sekolah. Geng itu jadi besar bukan karena semuanya bermusik atau bermain basket, tapi mungkin juga ada kategori sekadar penggemar atau pengagum yang ikut jadi 'anggota' geng.

Seingat saya, ada beberapa teman di bangku SD yang sudah mulai coba-coba membuat geng atau ikut jadi anggota geng anak-anak yang lebih besar dan sudah sekolah di SMP. Tapi, saya rasa baru di bangku SMA-lah geng jadi begitu terasa penting bagi ABG.

Tawuran pada masa saya di SMA, hampir 20 tahun lalu, belum begitu marak. Berkelahi antarmurid atau antarsekolah memang ada, bahkan pihak sekolah saya sempat melarang para murid mengenakan emblem alamat sekolah di bahu kanan untuk seragam Senin sampai Kamis atau rok bermotif tartan untuk seragam Jumat dan Sabtu bagi para siswi. Tapi, perkelahian di masa lalu tidak sebrutal sekarang. Suatu hal yang mengherankan bagi saya, karena semestinya di masa sekarang para murid punya lebih banyak pilihan untuk berkegiatan. Semestinya perhatian ke arah perkelahian lebih teralihkan. Semestinya energi para murid sudah habis untuk hal-hal lain. Menurut perkiraan saya, orang yang banyak kegiatan dan kecapekan tentunya tidak akan punya tenaga untuk berkelahi. Begitu juga murid SMA. Satu hal yang saya lihat sangat berbeda adalah, murid SMA sekarang mudah tersulut amarahnya hanya dengan tatapan mata dari murid SMA lain. Kenapa, ya?

Kembali ke jaket, tulisan "Hysteria" di punggung jaket itu benar-benar menjiplak dari album "Hysteria" milik Def Leppard yang memang sedang nge-hit saat itu. Bukan nekat, tapi memang tidak terpikir bahwa hal itu melanggar hak cipta. Adalah Hansen Tancil, teman SMA "anak dari Benteng" yang memperkenalkan saya pada grup musik ini. Tapi, teman-teman yang mengusulkan pembuatan jaket ini punya maksud sendiri dengan "Hysteria". Kata mereka, ini singkatan dari "himpunan siswa suka teriak-teriak".

Jadilah jaket ini selama beberapa saat menemani saya ke sekolah. Selain udara Bogor memang cenderung dingin, saya suka tulisan "Hysteria"-nya. Saya suka jaket ini bukan karena suka nge-geng atau ingin diakui sebagai anggota kelompok tertentu (wah, harus dibahas nih kenapa ada orang-orang yang sangat suka jadi anggota kelompok tertentu atau bangga sekali mengenakan jaket tertentu Shades). Saya punya jaket ini pun bukan karena terlampau suka teriak-teriak. Kata sohib saya di kelas 1 SMA dulu, pemesanan jaket minimal untuk 10 orang. Karena pacar sohib saya dan teman-teman yang suka teriak-teriak itu baru berdelapan, akhirnya sohib saya diajak ikutan bikin, dan saya jadi penggenap, alias pembikin jaket yang terakhir Big Smile.

PS : Harap maklum, saya belum sempat blogwalking. Duh, Telkomnet Instan.. Tongue


Dec 12, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

1212

dua belas desember

;-)


Dec 11, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

kepada mereka kita berutang tidur...

Mungkin kita memang suka melihat kejatuhan orang lain, terutama mereka yang selama ini dianggap orang baik-baik. Kita senang melihat orang terpandang dan terhormat berbuat salah atau bersikap miring, agar kita bisa berkata sambil mengangguk-angguk, "Ternyata dia tidak sempurna." Atau, "Tuh, dia tidak sebegitu hebatnya, kan?"

Kemudian kita merasa diri kita sendiri lebih baik daripada si terpandang yang berbuat salah atau si terhormat yang berlaku hina. Kemudian kita merasa nyaman, senyaman yang kita rasakan ketika meraih saku baju dalam-dalam untuk memberikan sekeping atau selembar uang pada si peminta-minta di pinggir jalan.

Kemudian kita bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa menyadari bahwa kepada merekalah -si terhormat yang berbuat nista dan si peminta-minta di pinggir jalan- kita berutang atas tidur nyenyak kita, karena merekalah yang membuat kita merasa sebagai orang baik-baik dan beruntung.

PS : Semoga kita bukan tergolong orang berperilaku sadistis yang menikmati kemalangan orang lain, ya?


Dec 7, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Komoditas Nomor Wahid

Kenapa sih harus memberitakan selangkangan orang lain?
Apa nggak ada berita lain yang lebih layak?
Bosan sama lumpur, pupuk dan BBM, ya?

Ya, ya. Seluruh alam semesta ini memang berpangkal mula dari seks. Seks-lah yang menjadi motor penggerak utama dunia ini. Kalau nggak, bagaimana manusia pertama bisa ada di Bumi? Kemajuan teknologi di bidang komputer, telekomunikasi, medis, semuanya ujung-ujungnya untuk apa? Untuk seks! Reproduksi! Supaya spesies yang namanya homo sapiens ini bisa terus ngejogrok di muka Bumi sampai kiamat, kagak punah sebelum waktunya!

Bad news is good news? Lantas kabar selangkangan itu jadi komoditas, diperjualbelikan. Melupakan proporsi dan hak-hak konsumen (lho, memangnya ada?) Lihatlah siapa saja yang menuai rupiah dari sana. Oooh.. Ternyata melacur pun nggak harus berdiri di pinggir jalan atau mengandalkan selangkangan, ya?



Dec 1, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

menyeberanglah lewat jembatan, lalu berkubanglah



Ealah... Percuma juga ya, dari rumah berangkat dengan pakaian rapi dan bersih, serta sepatu baru disemir. Turun dari bus adem ber-AC (air conditioner maupun angin cendela), lalu berusaha tertib dengan nyabrang di jembatan penyeberangan yang hampir setiap hari dibersihkan petugas tanpa lembaga. Apa? Tertib? Terpaksa juga sih. Gimana caranya menyeberang kalau nggak lewat jembatan, wong di tengah-tengah jalan ada jalan tol dalam kota?

Tapi jembatan di dekat gedung kantor saya sekarang jadi unik. Di kakinya, kini tersedia kubangan air hujan cokelat yang membuat pejalan kaki harus ekstra hati-hati kalau tidak mau celana panjang atau sepatunya kena cipratan. Jadi di sekitar situ orang harus mlaku timik-timik seperti lagu "Dondong Opo Salak" itu. Tadi pagi saya nggak ambil jalan seperti orang di atas yang begitu sampai di kaki jembatan langsung balik kiri. Mungkin karena tubuh saya nggak seluwes orang itu atau kaki saya nggak sepanjang kakinya, maka saya lebih milih melangkah ke pecahan batu-batu di dekat tiang di depannya (tiang apa sih, ya? uh, nggak perhatian saking seringnya lewat sana), lalu ke pelataran yang agak kering di depannya. Jadi saya ambil jalan memutar dulu sebelum ke arah kanan. Bayangin kalau tubuh saya nggak seimbang dan tiba-tiba tercebur di kubangan. Hayah! Katanya ngantor di gedongan, kok kaki seperti habis nyawah sih? Malu-maluin perusahaan saja! Gitu kali yak?

Lho, terus, apa maksudnya menjelaskan hal nggak penting panjang lebar begitu? Iya, apa ya? Ah, saya lupa. Namanya juga manusia, boleh dong lupa. Kalau berharap bakal ada yang mendandani pelataran di kaki jembatan ini supaya nggak becek dan nyaman bagi pejalan kaki, boleh juga nggak?

PS : Sudahlah. Lupakan saja memakai sepatu trendi dan selop cantik kalau bakal bertemu yang seperti ini...


Nov 27, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Sesekali Ikut Arus Motor



Bukan sekadar untuk gengsi-gengsian atau malas-malasan. Tapi buat kota sepadat Bogor dengan semakin banyaknya perumahan tanpa prasarana dan sarana transportasi yang memadai, jasa kurir semakin dibutuhkan. Apalagi bagi para warga kota senior dan mereka yang memiliki keterbatasan gerak. Oh ya, ongkos angkutan juga semakin melonjak.

Yah, apa boleh buat. Kemajuan pembangunan ternyata tidak serta-merta menciptakan ruang publik yang ramah dan nyaman, bahkan bisa jadi sebaliknya. Jalanan di kota Bogor bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi warga kota senior dan anak-anak. Kalau dulu semasa kecil saya dan para saudara sekandung sering diajak Ibunda berjalan kaki, naik becak, bemo atau delman di seputar kota dengan leluasa, maka sebaliknya sekarang saya malah menyarankan agar Ibunda tidak terlalu sering bepergian sendirian. Buku katalog pemesanan makanan ini saya anggap salah satu penyelesaian, meskipun mungkin masih belum setepat yang saya inginkan.

Pelanggan senang, pemilik warung makan senang, pengusaha jasa kurir senang, pengusaha otomotif apalagi. Yang kurang senang mungkin pengojek di perumahan seputar Bogor dan sopir angkot, karena orang jadi lebih jarang bepergian. Suka atau tidak, mungkin ada saatnya orang harus mengikuti arus, atau menyesuaikan diri dengan perkembangan di sekitarnya. Buku katalog juga tidak bisa seenaknya dipersalahkan atas kemalasan seseorang untuk bergerak, bukan?

PS : Ini bukan iklan, lho Angel


Nov 22, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

Karena Nggak Dimuat Di Koran, Ya Di Sini Saja...

Pada tanggal 10 Oktober 2006 sekitar pukul 19.00, kartu ATM BCA saya tertelan di ATM gedung Argo Manunggal, Jl. Gatot Subroto Kav. 22, Jakarta. Begitu kartu tertelan (saya belum mengetik nomor PIN), di layar ATM muncul tulisan bahwa ATM tidak bisa beroperasi untuk sementara (sebelumnya tidak). Saya langsung menelepon Halo BCA dan diberi penjelasan oleh Sdr. Timothy bahwa pengecekan tentang tertelan atau tidaknya kartu ATM hanya bisa diketahui paling cepat 5 (lima) hari setelah kejadian dengan mendatangi BCA cabang terdekat.

Keesokan harinya (11 Oktober 2006), saya ke BCA cabang Gatot Subroto di gedung BIP untuk coba menanyakan hal tersebut. Dijelaskan oleh petugas customer service (Sdr. Hendi), bahwa untuk pengecekan paling cepat 7 (tujuh) hari setelah kejadian. Dijelaskan pula, ada dua proses penggantian kartu. Pertama, menunggu sampai 7 hari untuk memastikan bahwa kartu tertelan. Kalau benar tertelan, biasanya langsung dimusnahkan dan nasabah bisa membuat kartu baru di cabang terdekat itu. Kedua, kalau tidak ingin menunggu, saya harus membuat surat keterangan dari polsek terdekat yang menyatakan bahwa kartu ATM saya hilang. Karena saya yakin benar kartu ATM tersebut tertelan mesin (bukan karena dicuri atau tercecer), maka saya memilih menunggu untuk melakukan pengecekan tersebut.

Pada tanggal 18 Oktober 2006, saya kembali mendatangi BCA di gedung BIP, tapi ternyata data kartu saya belum ada. Petugas tidak bisa memastikan apakah kartu saya sudah dimusnahkan oleh pihak BCA Pusat atau belum, sehingga tidak bisa langsung mengganti dengan kartu baru. Dijelaskan oleh kedua petugas customer service (Sdr. Hendi dan Sdr. Ika), bahwa ATM di gedung Argo Manunggal memang berkali-kali menelan kartu ATM, tapi kadang ‘dimuntahkan’ kembali setelah beberapa saat. Bahkan ada yang dalam waktu setengah jam sudah ‘dimuntahkan’ lagi. Sewaktu saya menanyakan mengapa tidak coba cek lewat kamera pengawas, menurut mereka itu harus ditanyakan ke Halo BCA. Mereka juga meyakinkan saya bahwa setiap kartu yang tertinggal pasti dikembalikan ke BCA Pusat oleh pihak penyelenggara ATM.

Sungguh tidak mungkin kalau setelah kartu ATM tertelan saya harus berlama-lama menunggu kartu ‘dimuntahkan’ kembali tanpa kepastian, apalagi saat itu sudah pukul 19.00. Sampai esok harinya di layar ATM masih muncul tulisan bahwa mesin tak bisa beroperasi. Pengalaman teman sekantor saya dengan mesin yang sama, untuk mendapatkan kartu baru dia harus berbohong di depan polisi bahwa kartu tersebut hilang. Seharusnya lewat sekian pengaduan yang terjadi, bisa diketahui bahwa mesin itu sudah harus diganti. Sebagai nasabah saya ingin memercayai BCA, tapi rupanya BCA lebih memercayai mitra kerja yang tidak kompeten dengan menyediakan ATM yang sudah tidak layak beroperasi.

PS : Ada satu hikmah yang saya petik dari peristiwa ini. Kehilangan sesuatu membuat kita tidak perlu lagi merasa khawatir akan kehilangan benda itu.



Nov 17, 2006

uneg-uneg si mpokb >>>>

TAMU DATANG, MARI BERI SAMBUTAN

Seorang tamu yang berkunjung ke rumah kita, entah itu saudara, teman atau lainnya, selayaknya mendapat perlakuan ramah dan penghormatan. Sejak kecil, setiap dari kita pasti diajari, bagaimana cara menghargai tamu. Bukan karena kita orang timur, bukan karena ajaran agama atau etika, karena tentu sikap menghargai tamu bersifat universal. Tamu, baik datang dengan perjanjian atau tidak, apa pun keperluannya, mulai dari minta utangan maupun sekadar memperlihatkan ponsel barunya, berhak menerima penghormatan. Dan dengan demikian tuan rumah berkewajiban untuk memberikan layanan yang terbaik bagi si tamu.

Bagaimana kalau tamu itu seorang teman sejawat, dengan kedudukan setara? Bagaimana Anda menempatkannya, menyambutnya di rumah Anda? Sulit membayangkannya? Kalau sulit, tempatkanlah diri Anda di posisinya. Lalu bayangkan, bagaimana Anda ingin diperlakukan jika ganti Anda yang bertandang ke rumahnya. Memang kita tidak selalu berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi alangkah kurang ajarnya mengharapkan sambutan karpet merah panjang jika bertamu ke rumah teman. Teman dengan kedudukan setara, sama-sama manusia, dengan kebutuhan serupa.

Bagaimana kalau sang tamu itu berkedudukan tinggi, tamu agung? Ya, tentu saja kita hormati. Kita tetap menghargai tamu itu, bukan karena kedudukannya, tapi karena dia adalah tamu. Dan kita adalah tuan rumah yang siap memberikan penghormatan terbaik. Dan itu tidak seharusnya menjadikan kita seorang kacung bagi seorang teman (bukan Kacung Marijan yang punya tulisan keren ini). Apalagi sampai membuat rumah kita berantakan acak-acakan karena kedatangan teman. Eits, tunggu dulu. Kalau kita juga punya kedudukan tinggi, bisakah seorang rekan sejawat yang berkedudukan sama-sama tinggi disebut tamu agung?

Bagaimana kalau teman kita ternyata takuuuuuut datang ke rumah kita, karena katanya rumah kita terletak di daerah rawan, banyak pencopetnya? Mintalah agar dia berhati-hati, jangan pakai perhiasan berlebihan, jangan pamer kekayaan, maka kita tidak perlu mempersiapkan mobil lapis baja untuk sekadar menghadapi pencopet. Lagi pula, pencopet tidak perlu mencopet jika dia kenyang. Uang yang bisa dipakai untuk membeli mobil lapis baja, lebih baik dibagikan kepada para pencopet yang kelaparan sehingga daerah rumah kita aman. Tamu bisa datang dengan nyaman tanpa ketakutan. Lain halnya kalau rasa takut itu diciptakan sendiri oleh sang tamu. Saya cuma bisa menyarankan agar dia introspeksi, pasrah dan banyak-banyak berdoa untuk keselamatannya.

PS : Selamat menyambut tamu agung hari Senin 20 November 2006. Saya cuma numpang brojol dan napas di Bogor. Bagi yang belum ngeh, mencintai kota kita bukan berarti bisa memilikinya.






Blogdrive