Gelas Raksasa Gelas Simbah

Gelas beling raksasa plus tutup tanpa merek ini baru saja diantarkan oleh rekan kantor yang baik hati, tidak sombong dan suka jalan-jalan ke meja kerja saya. Gelas pembagian, jatah karyawan. Rumor tentang pembagian gelas pribadi ini memang sudah lama beredar di ruang rihat. Rencananya, setiap karyawan akan punya gelas minum masing-masing yang harus diperlakukan sebagaimana mestinya secara pribadi, tanpa pandang bulu. Artinya, bisa jadi rencana untuk membebaskan opisboi dan klining serpis dari kewajiban mencuci gelas karyawan akan segera terwujud dan mereka bisa lebih berkonsentrasi pada apa yang merupakan tugas mereka sebenar-benarnya.
Gelas beling ini mengingatkan saya pada almarhum kakek saya, yang dipanggil Mbah Kung oleh cucunya (beliau tidak mau dipanggil "eyang"). Kesehatan ginjal Mbah Kung sudah terganggu sejak perut beliau merasakan injakan sepatu bot tentara Jepang selama di bui. Semasa Mbah Kung masih hidup, beliau selalu minum air putih dari gelas yang persis dengan gelas ini. Dalam bayangan saya, pemakai gelas besar adalah seorang ayah dalam sebuah keluarga. Meskipun si ayah sering turne berminggu-minggu, atau hanya minum bersama keluarga pada pagi dan malam hari, gelas yang disediakan hampir selalu gelas terbesar di rumah.
Begitulah, karena karyawan tidak punya punuk seperti unta yang bisa menyimpan air berlama-lama dalam jumlah besar, demi ketertiban dan demi efisiensi (tenaga opisboi dan klining serpis, tenaga karyawan untuk bolak-balik ke ruang rihat ambil minum, meskipun yang terakhir ini bisa dipertanyakan), maka gelas beling raksasa ini dibagikan. Bagi penggemar segala seragam dan kepraktisan, bahkan kaum minimalis yang bersahaja, gelas semacam ini adalah sebuah kemajuan. Bagi yang ingin selalu tampil beda dan trendi, gelas polos adalah peluang untuk menuangkan kreativitas
PS : Kira-kira ada pembagian piring makan dan sendok garpu, nggak ya?







