tape jadoel kediri bikinan bogor

Tape ("tapai", dalam KBBI) ini masih baru, bikinan Agustus 2008, bukan Agustus 1945. Namun, bahasa yang dipergunakan di labelnya mengingatkan saya pada majalah dan batjaan tempo doeloe peninggalan Simbah. Ini bukan mau menyaingi Pemulung, lho. Gara-gara labelnya pula saya memilih tape ini, bukan yang lain. Lho, kok seperti iklan apa gitu, yak? Memang ini sekalian iklan, meskipun saya tidak dibayar, karena berbagi informasi tidak harus selalu mengharap uang... Tapi, tape? Bukan! Bukan pula ingin dibilang sok pendukung industri rumahan. Saya hanya kagum dengan orang-orang yang berani berwirausaha, di tengah serbuan produk global kok ya masih berani-beraninya lho (!), tampil dengan kudapan lokal yang bersahaja ini setelah... Hm, siapa penemu tape alias peuyeum, dan pada tahun berapa? Celaka dua belas! Jangan-jangan setelah ini tape dipatenkan oleh orang asing? Bergeraklah, Juragan tape! Jangan sampai nanti Anda harus membayar perusahaan besar ribuan dolar hanya untuk membikin tape.

Lalu, bagaimanakah rasa si Tiga Goenoeng Mas produksi Kemang, Bogor, yang bikin mbak pramuniaga cekikikan saat kesulitan baca mereknya ini? Soal koealitas yang "Soeper Premium", saya angkat topi (pura-puranya, karena jarang pakai topi). Kurang paham apa yang dimaksud dengan "Green Label". Duh.. Jadi ikut bangga dan terharu, orang Bogor bisa bikin yang beginian. Hehe, mungkin "terharu" itu hiperbolis. Yang tidak hiperbolis, tape ini mengingatkan saya pada tape bondowoso dari Jawa Timur yang sudah lama tersohor itu. Bedanya, tape bondowoso berwarna putih, sedangkan tape yang ini kuning, karena dibuat dari singkong mentega. Lalu, kenapa ada tulisan "Kediri" segala? Nah, itu saya kurang paham.

PS : Jangan khawatir, meskipun sudah ada peuyeum kemasan, saya akan tetap beli juga peuyeum pikulan si mamang kok. Eh, peuyeum pikulan? Masih adakah?







