Le Strategy de Fatale
Menurut
David Walker, ancaman ekonomi terbesar yang menghadang AS adalah
ketidakacuhan. Selama hampir dua tahun ini, Walker melakukan perjalanan
ke seluruh AS, mendesak masyarakat agar sadar sebelum terlambat.,
“Ancaman terbesar bagi AS bukan seseorang yang bersembunyi di gua di
Afghanistan maupun Pakistan, melainkan keteledoran fisik kita sendiri,”
ujar Walker.
David Walker adalah Comptroller General (= pengawas keuangan tertinggi)
Amerika Serikat, Direktur Badan Akuntabilitas Pemerintah atau GAO
(semacam Badan Pemeriksa Keuangan di Indonesia) yang menghitung
pemasukan dan kerugian pemerintah serta kewajibannya di masa depan.
Walker menyimpulkan, standar kehidupan rakyat AS saat ini tidak akan
bisa dipertahankan kecuali jika diambil suatu langkah drastis.
Walker tidak sendirian. Hal ini disebut "rahasia kecil nan kotor yang
diketahui semua pejabat Washington".
Dalam “tur penyadaran” yang didampingi ekonom dari Yayasan
Heritage yang konservatif, Lembaga Brooking’s yang kekiri-kirian
dan Koalisi Concord yang nonpartisan, Walker menyampaikan sejumlah
realitas finansial yang begitu menohok, hingga membuat mayoritas
pejabat terpilih tak ingin membicarakannya. Justru karena itulah David
Walker membicarakannya. Begitu buruknya, hingga Walker menyerah dengan
para pejabat. Dia memutuskan untuk meneruskan pesannya secara langsung
pada para pembayar pajak dan pengamat. Walker bercerita pada komunitas
sipil, forum universitas dan dewan redaksi surat kabar, bahwa AS telah
mempertaruhkan, menjaminkan dan meminjamkan diri ke lubang utang yang
begitu dalam, hingga tidak akan bisa keluar jika tidak bertindak
sekarang juga. Menurut Walker, keberlangsungan AS sedang dipertaruhkan.
“Masyarakat AS kehilangan dua hal. Kebenaran dan kepemimpinan,”
katanya. “Yang terjadi sekarang, kita menghabiskan lebih banyak uang
daripada yang kita peroleh. Kita membebankannya pada kartu kredit dan
berharap cucu kita yang melunasinya. Itu sungguh keterlaluan.”
Presiden Bush menilai perekonomian AS sedang baik. Jumlah pengangguran
menurun, defisit lebih rendah daripada perkiraan. Faktanya, AS tidak
menghadapi krisis dalam waktu dekat. Maka orang berkata, "Apa
masalahnya?"
Menurut Walker, AS mengidap ‘kanker fisik’ yang tumbuh dalam diri
masyarakat. Jika tidak diobati, ‘kanker’ itu akan menimbulkan
malapetaka bagi AS. ‘Kanker’ yang dimaksud Walker adalah program
tunjangan masif yang tak lagi bisa dibiayai oleh masyarakat, diperparah
dengan kegagalan demografis sejak lebih dari 60 tahun lalu, yaitu
lonjakan dramatis angka kelahiran yang disebut "Baby Boom". Mulai tahun
depan dan 20 tahun setelahnya, sebanyak 78 juta penduduk AS akan
menjalani pensiun dan menjadi beban para pembayar pajak AS. Pada
tanggal 1 Januari 2008, Baby Boomer pertama akan berusia 62 tahun,
berhak atas pensiun dini dan menerima jaminan sosial. Tiga tahun
kemudian, mereka berhak atas Medicare (= asuransi kesehatan). Ketika
kelompok Boomer ini pensiun dalam jumlah besar, akan terjadi
pengeluaran besar-besaran yang bisa melumpuhkan perekonomian AS jika
tidak diantisipasi. Jika ‘kanker’ ini dibiarkan terus-menerus, di masa
depan pemerintah federal tak akan bisa berbuat banyak selain melunasi
bunga utang yang menumpuk dan sejumlah tunjangan. AS bisa bangkrut, tak
punya uang untuk hal lain seperti pertahanan nasional, keamanan dalam
negeri atau pendidikan.
Menurut Walker, AS bisa menghilangkan pemborosan dalam anggaran
Pentagon. Tapi, masalah anggaran jangka panjang akan tetap ada.
Anggaran takkan cukup untuk membayar tunjangan kelompok Baby Boomer.
Itu hanya sebagian masalah. Masalah sebenarnya adalah tunjangan
kesehatan. Masalah tunjangan kesehatan AS lebih berat daripada
tunjangan sosial. Masalah timbul karena usia orang lebih panjang dan
biaya obat terus naik hingga inflasi jadi dua kali lipat. Alih-alih
mengatasinya, Presiden dan Kongres justru memperburuk keadaan pada
tahun 2003. Mereka memperluas program Medicare untuk membiayai obat
yang diresepkan. Mereka menjanjikan lebih banyak daripada yang bisa
dipenuhi. Tambahan $ 8 triliun pada $ 15 - 20 triliun yang tak
terbiayai. Dengan sekali teken, pemerintah federal menambah kewajiban
Medicare nyaris 40% selama 75 tahun mendatang.
Walker bukan ingin AS mengabaikan Medicare atau tunjangan obat. Dia
yakin, sistem pengobatan di AS saat ini terlalu mahal, bahkan termahal
di dunia. AS memakai 50% lebih banyak dari anggaran nasional untuk
kesehatan dibanding negara mana pun. Dan AS punya persentasi populasi
tanpa asuransi terbesar di antara negara-negara industri utama. Tingkat
kematian anak AS di atas rata-rata, harapan hidup di bawah rata-rata.
Dan kesalahan medis jauh lebih tinggi di atas rata-rata negara
industri. Pemerintah AS menjanjikan pengobatan nyaris tak terbatas pada
manula yang tak pernah melihat tagihannya.
Menurut Senator Ken Conrad dari North Dakota, mayoritas pejabat Washington menyadari buruknya masalah ini, tapi tak ada yang bertindak karena akan lebih mudah untuk tidak bertindak.
Lebih mudah untuk menunda, menyembunyikan masalah itu dan menghindari
penentuan pilihan. Pejabat bisa rugi secara politis jika menentukan
pilihan. Namun, politikus yang berkata bahwa masalah bisa teratasi
tanpa reformasi tunjangan sosial, Medicare dan Medicaid, berarti tidak
berkata jujur.
Tahun depan, David Walker akan melakukan tur penyadaran ke sejumlah
negara bagian utama. Menyampaikan pentingnya kenaikan pajak atau
pemasukan pemerintah. Dan membatasi pengeluaran federal jika ingin
mempertahankan keamanan ekonomi dan standar kehidupan saat ini.
“Semakin lama kita menunggu, semakin kita terancam krisis keuangan.
Jika Anda mengatakan kebenaran dan memberi fakta pada mereka, jika Anda
menjelaskan bukan dengan angka, melainkan nilai, rakyat akan paham dan
mendukung pejabat pilihan mereka untuk menentukan pilihan,” ujar Walker.
Ketika ditanya apakah Walker mengenal politikus yang tak mau menaikkan
pajak dan memotong tunjangan, Walker menjawab, “Saya tak mengenal
politikus yang suka menaikkan pajak atau memotong pengeluaran. Tapi,
yang harus kita pahami, ini bukan sekadar tentang angka. Kita
menggadaikan masa depan anak dan cucu kita. Itu bukan hanya masalah
keteledoran fisik, melainkan masalah amoralitas.”
PS : Bagaimana dengan Indonesia? Akankah kita melakukan le strategy de fatale : tidak berbuat apa-apa, dan mewariskan utang pada anak cucu, bahkan sebelum mereka lahir?






