ternyata sikilku kuat
Bayangkan banjir yang menimbulkan
kemacetan di sejumlah titik di Jakarta. Naik bus? Penuh, lama! Naik
ojek? Pegal, bahaya! Naik taksi? Mana taksinya? Dijamin nggak dirampok
atau diperas, ya?
Ah, sudahlah. Pada akhirnya, satu-satunya alat transportasi yang bisa saya andalkan dalam situasi ekstrem ternyata....anggota badan sendiri, alias kaki tercinta! Terima kasih, Tuhan, sudah memberi saya kaki yang sehat dan kuat. Terima kasih, Andi, yang sabar menunda bersih-bersih ruangan karena menunggu saya pulang. Terima kasih, Faris, yang tahu-tahu muncul dari belakang saat saya sedang menyusuri Jl. Gatot Subroto sehingga ada teman mengobrol di sepanjang perjalanan dua jam menuju perempatan UKI. Jalan kaki dua jam ini cocok sebagai hadiah wisuda, bukan?
Oh, ya. Terima kasih, Pengamen, yang lagu-lagunya menghibur para
penumpang kecapaian dalam bus menuju Bogor. Kalaupun ada satu hal yang
disayangkan, itu adalah ketidakberanian saya mengeluarkan kamera untuk
memotret hiruk pikuk di jalanan semalam. Bagaimanapun, yang penting
selamat sampai di rumah. Banjir membuktikan, sikil saya kuat. Selamat
berakhir pekan. Jaga kesehatan kaki Anda. Hidup sikil!*
*Sikil itu bahasa moyang saya, artinya kaki

PS : Foto sengaja dipasang ulang sebagai bentuk penghargaan terhadap sikil
Ah, sudahlah. Pada akhirnya, satu-satunya alat transportasi yang bisa saya andalkan dalam situasi ekstrem ternyata....anggota badan sendiri, alias kaki tercinta! Terima kasih, Tuhan, sudah memberi saya kaki yang sehat dan kuat. Terima kasih, Andi, yang sabar menunda bersih-bersih ruangan karena menunggu saya pulang. Terima kasih, Faris, yang tahu-tahu muncul dari belakang saat saya sedang menyusuri Jl. Gatot Subroto sehingga ada teman mengobrol di sepanjang perjalanan dua jam menuju perempatan UKI. Jalan kaki dua jam ini cocok sebagai hadiah wisuda, bukan?
*Sikil itu bahasa moyang saya, artinya kaki

PS : Foto sengaja dipasang ulang sebagai bentuk penghargaan terhadap sikil






