Melempem Akibat Gemar Kerupuk?

Lagi-lagi
kecewa dan sedih menonton berita orang berebut mengantre beras. Seorang
kawan yang bekerja sebagai kamerawan menceritakan kebingungannya ketika
menyaksikan seorang nenek yang jatuh dan hampir terinjak-injak di
tengah operasi pasar beras Bulog di Pasar Jambul, Jakarta Timur.
Bingung di antara keinginan untuk menjatuhkan kamera dan menolong si
nenek, akhirnya kawan ini memutuskan untuk tetap merekam peristiwa
tersebut. Setelah gambar diambil, dia ganti mengantrekan sekarung beras
demi menghibur hati si nenek.
Suka atau tidak suka, kita sudah menjadi bangsa pengimpor. Padahal, dulu di zaman SD, kita selalu diajari bahwa Indonesia adalah negeri agraris dan nenek moyang bangsa adalah pelaut. Kita juga tahu dengan melihat ke sekeliling, betapa tanah yang subur dapat dengan mudah menghasilkan sayur mayur dan buah-buahan berharga murah tapi kaya vitamin. Pohon pisang, contohnya, bisa tumbuh di mana-mana tanpa kesulitan. Toh, belakangan ini saya menemukan pisang impor bermerek di supermarket. Pisang impor? Apa dikirim dengan kapal laut? Bukan! Pisang bermerek ini berasal dari kebun pisang di Lampung. Pisang yang tidak semanis pisang ambon biasa, tapi lebih awet meskipun berhari-hari terpajang di supermarket. Semakin nyata terbukti bahwa Indonesia, dengan segala nilai luhur dan kebanggaannya, ternyata sudah dijadikan banana republic.
Apa hubungannya beras dengan pisang? Keduanya sama-sama hasil bumi yang berlimpah di tanah air, tapi toh pada kenyataannya dianggap masih kurang sehingga harus diimpor. Dan dua hari yang lalu saya baru ngeh bahwa garam pun kita impor. Kita punya pulau penghasil garam, bukan? Suatu saat, atau mungkin sudah, kerupuk yang hanya ada di Indonesia pun ternyata bukan asli buatan Indonesia
PS :
1. Maaf, kenyataan sedang membuat saya malas berkata-kata panjang
2. Setahu saya, hanya orang Indonesia yang menyertakan kerupuk di dalam banyak menunya. Itukah yang membuat kita gampang melempem?
3. Saya suka kerupuk
Suka atau tidak suka, kita sudah menjadi bangsa pengimpor. Padahal, dulu di zaman SD, kita selalu diajari bahwa Indonesia adalah negeri agraris dan nenek moyang bangsa adalah pelaut. Kita juga tahu dengan melihat ke sekeliling, betapa tanah yang subur dapat dengan mudah menghasilkan sayur mayur dan buah-buahan berharga murah tapi kaya vitamin. Pohon pisang, contohnya, bisa tumbuh di mana-mana tanpa kesulitan. Toh, belakangan ini saya menemukan pisang impor bermerek di supermarket. Pisang impor? Apa dikirim dengan kapal laut? Bukan! Pisang bermerek ini berasal dari kebun pisang di Lampung. Pisang yang tidak semanis pisang ambon biasa, tapi lebih awet meskipun berhari-hari terpajang di supermarket. Semakin nyata terbukti bahwa Indonesia, dengan segala nilai luhur dan kebanggaannya, ternyata sudah dijadikan banana republic.
Apa hubungannya beras dengan pisang? Keduanya sama-sama hasil bumi yang berlimpah di tanah air, tapi toh pada kenyataannya dianggap masih kurang sehingga harus diimpor. Dan dua hari yang lalu saya baru ngeh bahwa garam pun kita impor. Kita punya pulau penghasil garam, bukan? Suatu saat, atau mungkin sudah, kerupuk yang hanya ada di Indonesia pun ternyata bukan asli buatan Indonesia
PS :
1. Maaf, kenyataan sedang membuat saya malas berkata-kata panjang
2. Setahu saya, hanya orang Indonesia yang menyertakan kerupuk di dalam banyak menunya. Itukah yang membuat kita gampang melempem?
3. Saya suka kerupuk






