(sok) pentingnya ngeblog dan belajar bicara lagi
Lama
tidak posting, bukan berarti saya tidak punya uneg-uneg. Uneg-uneg saya
ada segudang, cuma sulit untuk menguraikannya, mungkin karena saling
menjerat seperti benang ruwet. Memangnya penting ya, ngeblog itu?
Berhubung fungsi ngeblog buat saya adalah sekaligus mengungkapkan
hal-hal yang tidak selalu bisa dikatakan, jadi saya jadikan penting
saja.
Beberapa bulan lalu, saya mendengar sedikit obrolan di bus malam-malam sepulang kerja. Iya, itulah salah satu sebab saya belum memilih jadi penglaju dengan car pool. Naik angkutan umum massal membuat saya selalu bisa melihat orang-orang baru, atau menguping pembicaraan yang penting, kayaknya penting, sok penting, bahkan nggak penting tapi dipenting-pentingkan. Penumpang lain tidak punya pilihan untuk tidak menguping kalau obrolan dilakukan secara bersemangat. Atau mendengar ring tone unik seperti "Sungguh teganya teganya teganyaaaaa, ada telepon kok nggak diangkaaaat!" dari ponsel seorang kakek. Alasan lain lagi adalah, dengan tidak ikut car pool, saya jadi punya keharusan untuk sedikit berjalan kaki sambil menghirup udara Jakarta yang membusuk dan mengimbangi kesadaran saya supaya tidak mengira bahwa Jakarta selalu sewangi mal-mal yang kadang saya datangi. Kembali ke percakapan yang saya kupingi tadi. Entah dua atau tiga orang, tapi sepertinya semua orang itu punya akun friendster. Salah seorang lalu bertanya, "Lu nggak ikutan bikin blog?" Temannya menjawab, "Oh, yang nulis-nulis itu? Ih, nggak lah. Ngapain. Narsis banget." Jawaban yang menurut saya bisa salah dan bisa benar, meskipun si penjawab sendiri belum tentu pernah mengunjungi blog dan melakukan riset tentang blog. Tapi, ya sudahlah, itu cuma salah satu opini.
Menurut saya, tanpa bikin blog, seseorang pun bisa (dianggap) narsistis. Dengan blog, kita jadi tahu isi kepala seseorang atau sedikit keunikannya melalui gayanya berbahasa. Lewat blogging, saya menemukan banyak sekali tulisan mengasyikkan yang tidak akan ditemukan di media lain -padahal menurut saya tulisan itu bagus dan menyegarkan- hanya karena tidak memenuhi selera si editor media tersebut. Bahkan, bisa dibilang saya sering menemukan tulisan di blog yang jauh lebih bagus daripada tulisan orang ternama di media lain. Dan, saya tidak harus membayar untuk membacanya. Saya senang, karena "barang gratisan dijamin jelek" tidak berlaku di dunia blog. Makanya, kadang saya merasa prihatin kalau ada blog yang tiba-tiba mati atau bahkan menghilang, padahal tulisannya bernas dan unik.
Tentu saja, mengingat hampir tidak ada persensoran di dunia blog, tulisan apa pun bisa muncul di sana. Hal ini mengingatkan saya pada ucapan bijak seorang penyanyi hip hop bernama Rochester aka Juice (belajar bisa dari mana saja, kan?). Katanya, hip hop adalah ekspresi diri. Mungkin berisi hal-hal yang tidak ingin dikatakan orang lain. Tapi, dalam kebebasan berekspresi itu harus ada tanggung jawab. "Aku tahu, jika aku mengatakan sesuatu, pasti akan ada akibatnya. Benarkah aku ingin mengatakan hal itu?" ujarnya. Ingatan saya pun kembali terbawa kepada sekian peristiwa yang menghiasi negeri ini. Kehebohan yang dipicu oleh satu kalimat, atau pengungkapan satu peristiwa. Berita-berita yang dirilis sesegera mungkin tanpa pengecekan keabsahan, sekadar untuk diralat keesokan harinya. Sungguh membingungkan.
Sejak masyarakat Indonesia punya kebebasan berekspresi pasca-keruntuhan Orba (atau hanya mengendap?), semua berhak bicara. Munculnya hal-hal yang dianggap nyeleneh, atau "tidak ingin dikatakan orang lain", meminjam istilah Rochester, seperti tidak bisa dibendung lagi. Kebablasan. Seperti anak-anak yang diizinkan berlari-lari sesuka hati setelah sekian lama dikurung di kamar. Berlari boleh saja, tapi ketika seorang anak jatuh atau terluka, maka dia sendirilah yang akan merasakan sakitnya. Konsekuensi yang tidak semua orang siap menerimanya inilah yang ingin ditekankan oleh Rochester. Jangan sampai yang terjadi belakangan adalah saling tuding dan melemparkan kesalahan. Bahkan untuk bicara, kita pun masih harus banyak belajar.
PS :
1. Sampai sekarang saya belum bisa menikmati hip hop
2. Semoga foto saya nggak dianggap narsistis atau kebablasan, karena saya sudah lupa cara main gitar
Beberapa bulan lalu, saya mendengar sedikit obrolan di bus malam-malam sepulang kerja. Iya, itulah salah satu sebab saya belum memilih jadi penglaju dengan car pool. Naik angkutan umum massal membuat saya selalu bisa melihat orang-orang baru, atau menguping pembicaraan yang penting, kayaknya penting, sok penting, bahkan nggak penting tapi dipenting-pentingkan. Penumpang lain tidak punya pilihan untuk tidak menguping kalau obrolan dilakukan secara bersemangat. Atau mendengar ring tone unik seperti "Sungguh teganya teganya teganyaaaaa, ada telepon kok nggak diangkaaaat!" dari ponsel seorang kakek. Alasan lain lagi adalah, dengan tidak ikut car pool, saya jadi punya keharusan untuk sedikit berjalan kaki sambil menghirup udara Jakarta yang membusuk dan mengimbangi kesadaran saya supaya tidak mengira bahwa Jakarta selalu sewangi mal-mal yang kadang saya datangi. Kembali ke percakapan yang saya kupingi tadi. Entah dua atau tiga orang, tapi sepertinya semua orang itu punya akun friendster. Salah seorang lalu bertanya, "Lu nggak ikutan bikin blog?" Temannya menjawab, "Oh, yang nulis-nulis itu? Ih, nggak lah. Ngapain. Narsis banget." Jawaban yang menurut saya bisa salah dan bisa benar, meskipun si penjawab sendiri belum tentu pernah mengunjungi blog dan melakukan riset tentang blog. Tapi, ya sudahlah, itu cuma salah satu opini.
Menurut saya, tanpa bikin blog, seseorang pun bisa (dianggap) narsistis. Dengan blog, kita jadi tahu isi kepala seseorang atau sedikit keunikannya melalui gayanya berbahasa. Lewat blogging, saya menemukan banyak sekali tulisan mengasyikkan yang tidak akan ditemukan di media lain -padahal menurut saya tulisan itu bagus dan menyegarkan- hanya karena tidak memenuhi selera si editor media tersebut. Bahkan, bisa dibilang saya sering menemukan tulisan di blog yang jauh lebih bagus daripada tulisan orang ternama di media lain. Dan, saya tidak harus membayar untuk membacanya. Saya senang, karena "barang gratisan dijamin jelek" tidak berlaku di dunia blog. Makanya, kadang saya merasa prihatin kalau ada blog yang tiba-tiba mati atau bahkan menghilang, padahal tulisannya bernas dan unik.
Tentu saja, mengingat hampir tidak ada persensoran di dunia blog, tulisan apa pun bisa muncul di sana. Hal ini mengingatkan saya pada ucapan bijak seorang penyanyi hip hop bernama Rochester aka Juice (belajar bisa dari mana saja, kan?). Katanya, hip hop adalah ekspresi diri. Mungkin berisi hal-hal yang tidak ingin dikatakan orang lain. Tapi, dalam kebebasan berekspresi itu harus ada tanggung jawab. "Aku tahu, jika aku mengatakan sesuatu, pasti akan ada akibatnya. Benarkah aku ingin mengatakan hal itu?" ujarnya. Ingatan saya pun kembali terbawa kepada sekian peristiwa yang menghiasi negeri ini. Kehebohan yang dipicu oleh satu kalimat, atau pengungkapan satu peristiwa. Berita-berita yang dirilis sesegera mungkin tanpa pengecekan keabsahan, sekadar untuk diralat keesokan harinya. Sungguh membingungkan.
Sejak masyarakat Indonesia punya kebebasan berekspresi pasca-keruntuhan Orba (atau hanya mengendap?), semua berhak bicara. Munculnya hal-hal yang dianggap nyeleneh, atau "tidak ingin dikatakan orang lain", meminjam istilah Rochester, seperti tidak bisa dibendung lagi. Kebablasan. Seperti anak-anak yang diizinkan berlari-lari sesuka hati setelah sekian lama dikurung di kamar. Berlari boleh saja, tapi ketika seorang anak jatuh atau terluka, maka dia sendirilah yang akan merasakan sakitnya. Konsekuensi yang tidak semua orang siap menerimanya inilah yang ingin ditekankan oleh Rochester. Jangan sampai yang terjadi belakangan adalah saling tuding dan melemparkan kesalahan. Bahkan untuk bicara, kita pun masih harus banyak belajar.
PS :
1. Sampai sekarang saya belum bisa menikmati hip hop
2. Semoga foto saya nggak dianggap narsistis atau kebablasan, karena saya sudah lupa cara main gitar






