Sengsara Membawa Nikmat
Sewaktu masih di bangku SMP dan SMA,
pelajaran sastra Indonesia yang saya terima lebih banyak menghafal
aturan pantun, judul buku, pengarang dan angkatannya. Saya tidak
mengerti mengapa dulu pelajaran sastra jadi begitu tidak menarik.
Belakangan ini saya jadi ingin mencari buku-buku lama yang dulu hanya
saya ketahui judul dan pengarangnya, tanpa tahu bentuknya seperti apa.
Salah satunya "Sengsara Membawa Nikmat" karya Tulis Sutan Sati yang
sudah dicetak oleh Balai Pustaka sebanyak 16 kali. Tanpa alur cerita
berbelit-belit, latar belakang dan permasalahan yang sederhana, pun
buku ini bisa sangat mengasyikkan. Apa sih patokan saya untuk menyebut
sebuah buku mengasyikkan atau tidak? Gampang. Karena saya kebanyakan
membaca di atas bus, patokan saya hanya satu : kalau macet tidak
terasa, berarti buku yang saya baca benar-benar mengasyikkan. Dangkal,
ya? Hehehehehehe.. Apa? Bukaaan.. Saya bukan mau membandingkan buku
jadul dengan buku-buku zaman sekarang lho. Kompleksitas pun
(kadang-kadang) bisa punya keindahan tersendiri, menghibur, menyentuh,
sembari membuat kening pembaca berkerut. Itu baru bener-bener sengsara membawa nikmat. Ah, saya teruskan dulu membaca, ya?
P.S. : Apakah Anda sekalian juga mengalami hal yang sama dengan saya? Belajar sastra di sekolah tanpa pernah membaca satu pun buku yang dijadikan bahan pelajaran?
P.S. : Apakah Anda sekalian juga mengalami hal yang sama dengan saya? Belajar sastra di sekolah tanpa pernah membaca satu pun buku yang dijadikan bahan pelajaran?






