Menghemat Listrik? Gimana, ya..
"Sudah kuduga," bisik tiang listrik
pada seutas kabel yang baru disangkutkan pada tubuhnya. "Sudah kuduga
papan reklame baru itu akan mengambil tenaga dari tubuhku. Mana bisa
dia bersinar dengan sendirinya tanpa ada lampu? Mana bisa lampunya
menyala tanpa ada listrik yang dicomot dari tubuhku? Bahkan sejak
pemasangan tiang pertama di seberang sana, aku sudah tahu. Di tempat
itu bakal ada papan reklame baru. Yang tidak aku tahu adalah, papan
reklame itu bisa sampai sebesar itu. Sungguh mengganggu penglihatanku!
Gemas aku!"
"Psst, dasar tiang listrik tidak tahu diri. Itu sudah tugasmu!" balas kabel dengan sengit. "Kau pikir aku senang menempel-nempel di tubuhmu yang dingin, lurus dan hitam pekat ini? Kau pikir aku senang kalau tubuhku sendiri diiris-iris, diplintir, lalu disambung kembali untuk menyalurkan listrik? Memang nasibku masih lebih baik daripada kabel gelap milik pencuri listrik kelas teri. Mereka itu, sudah dipaksa mengalirkan listrik tidak sesuai kemampuan, sewaktu-waktu bisa mampus ikut gosong, juga tidak punya kebanggaan apa-apa. Entah mereka didatangkan dari mana, mungkin juga mereka itu cuma hasil curian. Kalau aku kan.."
"Apa kamu? Mau menyombongkan diri? Kamu ini cuma perantara. Bisa diganti sewaktu-waktu. Aku lebih penting! Aku ini tiang listrik! Resmi! Milik pemerintah! Kalau aku tidak ada, mana bisa lampu jalanan menyala di malam hari? Mana bisa lampu merah di sana itu mengatur lalu lintas?"
"Mana bisa reklame yang membuatmu cemburu itu menyala dengan cemerlang? Mana bisa tukang nasi goreng menggelar tenda setiap malam?" tukas kabel tergesa.
Tiang listrik merengut. "Aku sudah capai. Bertahun-tahun aku berdiri, semakin tua justru bebanku semakin bertambah. Bos besarku sudah mengingatkan agar orang-orang menghemat listrik, tapi entah siapa bermain mata, justru semakin banyak gedung tinggi dibangun dan semakin memboroskan listrik. Ya. Begitu kata burung gereja yang suka hinggap di kabelku. Eeeeh, malah sekarang seutas kabel besar cerewet ditambahkan membebaniku," keluhnya sambil melirik tajam pada si kabel. "Heh, kamu ini sebenarnya bayar atau tidak, menempel-nempel di tubuhku?"
"Kalau bukan aku, tentu temanku yang akan ditempelkan di sini. Seperti kubilang, tugasku hanya menyalurkan listrik. Seperti kaubilang, aku hanya perantara. Aku tahu, sebenarnya kau iri karena orang-orang lebih memerhatikan reklame keren yang terang benderang itu, tapi melupakanmu. Penghargaan yang kauterima paling-paling cuma... Hahaha! "Terima cuci sofa, 777100", "Sedot WC, 869403". Terima sajalah, kau sama denganku, sekumpulan benda-benda menyedihkan! Tidak seperti reklame keren itu! Setiap pengendara mobil dan motor akan memperlambat kendaraannya untuk menoleh. Setiap pejalan kaki yang lewat pasti memerhatikannya dengan kagum. Mereka tidak peduli, apakah reklame itu membayar atau mencuri listrik darimu, atau menyakitiku dengan besarnya arus listrik yang menjalariku. Mereka cuma akan terkagum-kagum, seolah ingin melahap semua yang terpampang di papan reklame itu seperti melahap nasi goreng bikinan warung tenda yang juga mencantol listrik darimu!"
"Psst, dasar tiang listrik tidak tahu diri. Itu sudah tugasmu!" balas kabel dengan sengit. "Kau pikir aku senang menempel-nempel di tubuhmu yang dingin, lurus dan hitam pekat ini? Kau pikir aku senang kalau tubuhku sendiri diiris-iris, diplintir, lalu disambung kembali untuk menyalurkan listrik? Memang nasibku masih lebih baik daripada kabel gelap milik pencuri listrik kelas teri. Mereka itu, sudah dipaksa mengalirkan listrik tidak sesuai kemampuan, sewaktu-waktu bisa mampus ikut gosong, juga tidak punya kebanggaan apa-apa. Entah mereka didatangkan dari mana, mungkin juga mereka itu cuma hasil curian. Kalau aku kan.."
"Apa kamu? Mau menyombongkan diri? Kamu ini cuma perantara. Bisa diganti sewaktu-waktu. Aku lebih penting! Aku ini tiang listrik! Resmi! Milik pemerintah! Kalau aku tidak ada, mana bisa lampu jalanan menyala di malam hari? Mana bisa lampu merah di sana itu mengatur lalu lintas?"
"Mana bisa reklame yang membuatmu cemburu itu menyala dengan cemerlang? Mana bisa tukang nasi goreng menggelar tenda setiap malam?" tukas kabel tergesa.
Tiang listrik merengut. "Aku sudah capai. Bertahun-tahun aku berdiri, semakin tua justru bebanku semakin bertambah. Bos besarku sudah mengingatkan agar orang-orang menghemat listrik, tapi entah siapa bermain mata, justru semakin banyak gedung tinggi dibangun dan semakin memboroskan listrik. Ya. Begitu kata burung gereja yang suka hinggap di kabelku. Eeeeh, malah sekarang seutas kabel besar cerewet ditambahkan membebaniku," keluhnya sambil melirik tajam pada si kabel. "Heh, kamu ini sebenarnya bayar atau tidak, menempel-nempel di tubuhku?"
"Kalau bukan aku, tentu temanku yang akan ditempelkan di sini. Seperti kubilang, tugasku hanya menyalurkan listrik. Seperti kaubilang, aku hanya perantara. Aku tahu, sebenarnya kau iri karena orang-orang lebih memerhatikan reklame keren yang terang benderang itu, tapi melupakanmu. Penghargaan yang kauterima paling-paling cuma... Hahaha! "Terima cuci sofa, 777100", "Sedot WC, 869403". Terima sajalah, kau sama denganku, sekumpulan benda-benda menyedihkan! Tidak seperti reklame keren itu! Setiap pengendara mobil dan motor akan memperlambat kendaraannya untuk menoleh. Setiap pejalan kaki yang lewat pasti memerhatikannya dengan kagum. Mereka tidak peduli, apakah reklame itu membayar atau mencuri listrik darimu, atau menyakitiku dengan besarnya arus listrik yang menjalariku. Mereka cuma akan terkagum-kagum, seolah ingin melahap semua yang terpampang di papan reklame itu seperti melahap nasi goreng bikinan warung tenda yang juga mencantol listrik darimu!"






