Seorang bekas teman SMA kelahiran Bogor mengeluh, saat ini jika dia melewatkan akhir pekan di tempat-tempat umum di Bogor, sulit sekali menemukan wajah-wajah yang dikenalnya semasa kecil atau remaja. Dia merasa terasing di kota sendiri. Pusat perbelanjaan dipadati orang, begitu pula tempat wisata, tapi tidak ada suasana hangat maupun akrab seperti dulu, katakanlah 25 - 30 tahun lalu, ketika para pengunjung toko masih kerap saling bertegur sapa dan pemilik toko kelontong membiarkan anak si pengunjung mengambil 1 - 2 butir permen dari dalam stoples.
Seperti halnya wilayah lain di seputar ibu kota yang menjadi tujuan urbanisasi, Bogor telah menjadi tempat tinggal bagi wajah-wajah asing yang menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan dan resto-resto waralaba. Sedikit banyak, pusat perbelanjaan dan resto waralaba telah mengikis keunikan Kota Hujan. Tidak perlu ke Jakarta untuk menghirup kopi rasa Amerika, konon. Tradisi menghirup bajigur di sore berhujan telah lama terlupakan, mungkin sedikit orang masih melakukannya, tapi entah di mana karena warung bajigur Taman Kencana telah lama tutup.
Saya lupa, kapan tepatnya kompleks-kompleks bernama asing mulai bermunculan di Bogor. Oh, bukan kompleks, tapi perumahan real estat. Saya yakin, bukan hanya karena otak yang pernah gegar dan mulai menua ini maka saya jadi sulit menghafal nama perumahan itu, tapi karena jumlahnya yang terus bertambah. Kini penduduk semakin padat, kebutuhan perumahan terus meningkat. Belum lagi kalau ada yang usaha beternak rumah. Rumah dibeli, tapi bukan untuk ditempati. Dan tentu saja, dibeli dengan mengajukan kredit. Sebab konon, selain sulit mengumpulkan uang senilai sebuah rumah dalam waktu singkat, hanya orang ketinggalan zaman saja yang tidak membeli apa pun dengan berutang.
Sungguh posting yang tidak keruan, memunculkan keresahan tanpa penyelesaian. Bagaimanapun, semua orang tahu, dunia memang tidak akan pernah membaik. Yang harus ditingkatkan adalah rasa percaya diri dan optimisme. Seperti developer dan agen properti yang ingin menjual apartemen bersubsidi di Bogor. Program Keluarga Berencana sudah gagal. Artinya, peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal. Saya cuma bisa berharap, para tukang insinyur dan pengambil kebijakan itu masih ingat kuliah amdal.