<body></noscript><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:5"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a42e1b2b' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:5&amp;n=a42e1b2b' border='0' alt=''></a></noscript> <br><script type="text/javascript"><!-- google_ad_client = "pub-2589431880394796"; google_alternate_ad_url = "http://ads.blogdrive.com/static/blank.html"; google_ad_width = 728; google_ad_height = 15; google_ad_format = "728x15_0ads_al"; google_ad_channel ="6215721543"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "000000"; google_color_url = "000000"; google_color_text = "000000"; //--></script> <script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"> </script> <noscript><a href="http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e" target="_blank"><img src="http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e" border="0" alt=""></a></noscript></center>

Nov 11, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Idih, Dia Pindah Juga...



Hanya sebutir kerikil di semesta bebatuan, itulah blog saya. Namun saya tetap berharap bahwa tidak ada sepasang pun batu yang benar-benar serupa. Silakan berkunjung ke tempat baru. Seduhan kopi masih menyambut Anda Smile

PS : Tetap saja, jangan lupa bawa cangkir komentar masing-masing, yak Big Smile


Nov 4, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Efek Rumah Kaca



Sudah tahu, belum? Ternyata tidak semua efek rumah kaca itu buruk, lho. Contohnya yang satu ini. Saya kaget ketika tiba-tiba pada suatu hari ada seonggok sesuatu di balik tabir surya di dekat meja saya. Intip punya intip, selidik punya selidik, sesuatu itu ternyata tas milik seorang rekan kantor, nona penggila warna ungu yang warga Pondok Gede, Bekasi.

Di Bumi yang sudah panas, ekspansi vertikal justru memaksa kita mendinginkan diri dengan AC yang membuat Bumi kian panas. Lubang ozon melebar, kanker kulit mengancam, tetapi sinar matahari terik bisa mubazir kalau tidak dimanfaatkan. Menyiasati keadaan, mengambil yang baik dari sesuatu yang dianggap buruk, tentu tanpa merugikan pihak lain, tidak semua orang bisa melakukannya. Mari kita ucapkan selamat datang pada Musim Hujan. Semoga Anda sekalian tidak direpotkan oleh cucian yang tidak kunjung kering Smile



PS : Mandi matahari di kantor juga bisa lho Shades


Oct 28, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

kopi dari tiga pulau di indonesia

Posting kali ini mirip etalase toko yang memajang beberapa jenis kopi. Untung tak bisa ditolak, malang tak usah diraih. Namanya juga rezeki, kenapa harus ditolak? Maka saya terima saja dengan lapang dada oleh-oleh kopi dari tiga pulau di Indonesia ini. Itulah berkah mudik buat saya yang seumur hidup nggak pernah mudik untuk berhari raya. Selain mendengarkan kisah-kasih mudik, saya kebagian juga kopi bubuk dari kerabat pemudik, atau kerabat dari kerabat pemudik.

Pertama, kopi "Aroma" dari Bandung, Jawa Barat. Oleh-oleh dari teman sekantor yang mojang Priangan. Hasil googling saya untuk "kopi aroma bandung" sungguh mengejutkan. Mungkin saya adalah blogger kesekian ratus yang membuat posting tentang kopi ini, hehe. Entah bagaimana pengolahannya, tapi untuk ukuran kopi robusta, kopi ini sangat wangi. Bisa jadi cocok buat mereka yang gemar kopi wangi tapi kurang suka rasa asam seperti kopi arabika.



Berikutnya, ada bubuk kopi cap "Bambu Kuning" dari Medan, Sumatera Utara. Yang ini oleh-oleh dari ibunda seorang kerabat yang mudik berlebaran ke Medan. Kemasannya simpel, plastik putih dengan gambar bambu kuning. Entah apa arti Mekar Jaya yang tertera pada kemasan, mungkin nama koperasinya. Yang saya tahu, Sukaramai itu nama pasar.



Ketiga, ada kopi asli toraja dengan merek "Ellen Coffee". Kemasan kantong kertas cokelat bermotif ukiran khas Toraja menjadikannya cukup unik untuk dijadikan buah tangan yang manis. Kalau ingin menghadiahkan sesuatu yang sangat Indonesia, ini salah satu produknya.



Berikutnya, kopi Toraja arabika Kalosi. Selama ini saya hanya pernah mencicipi kopi Toraja Kalosi bikinan kedai kopi. Entah sejauh mana tingkat keberhasilan saya mendapatkan kepekatan kopi seperti yang saya rasakan di kedai. Kalosi sendiri adalah nama desa tempat kopi ini ditanam. Oh ya, yang satu ini bukan oleh-oleh mudik, melainkan dibeli di Jakarta Smile



Itulah sebagian kecil kopi yang dihasilkan oleh petani Indonesia. Sewaktu memotret, saya belum mencicipi kesemua kopi ini. Ketimbang bingung, mungkin saya akan melakukannya secara alfabetis Big Smile Semoga Anda sekalian tergerak untuk ikut mendukung mereka. Meniru ucapan seorang aktivis LSM Afrika tentang permasalahan di benuanya, hanya orang Indonesia sendiri yang tahu masalah di Indonesia, dan hanya orang Indonesia sendiri yang bisa mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Salam ngopi!

PS : Ini baru dari tiga pulau. Berarti, masih ada 17.501 pulau lagi yang bisa ditanami kopi? Big Smile


Oct 22, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Bandrek Bukan Minuman Star Trek



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "bandrek" punya dua arti. Posting kali ini mengenai bandrek yang berarti "minuman dibuat dari air panas dengan jahe dan sebagainya". Semasa saya kecil, saya mengira kata "bandrek" diserap dari bahasa Inggris. Mungkin karena terpengaruh film "Star Trek", kata "bandrek" terdengar asing, tidak seperti sepupunya, "bajigur" (minuman dari santan dan gula merah), yang kedengaran "lebih Indonesia" Big Smile

Kandungan jahe yang menghangatkan membuat bandrek cocok diminum di malam hari atau ketika musim hujan tiba. Entah apakah musim hujan yang terlambat tiba membuat pendapatan produsen bandrek menurun, tapi saya rasa kenikmatan saat meminumnya tidak akan berkurang. Sewaktu saya jadi makhluk indekosan di Depok belasan tahun lalu, saya sudah membuktikan bahwa minum kopi di siang bolong pada pukul 14.00, ketika sinar matahari Depok sedang garang-garangnya, tidaklah mengganggu kesehatan dan justru nikmat, meskipun teman sekamar mempertanyakan kewarasan saya. Itu sebabnya, sebagai penggemar wedang-wedangan (yang betulan), saya tidak pernah memandang kapan hari panas atau dingin untuk meminumnya. Sesuai keinginan saja. Artinya, kalau hari sedang dingin tapi hati tidak ingin, ya saya tidak minum wedang apa pun.



Bandrek cap Hanjuang bikinan Cintek, Cimahi, dikemas dengan cantik dan menarik.  Hanjuang adalah tanaman bernama Latin cordyline fruticosa, dengan nama lain lenjuang atau andong. Untuk barang ekspor atau oleh-oleh, bandrek ini cukup memadai. Apa tadi, ekspor? Duh, kasihan para eksportir kita. Barang sudah terkirim, tapi pencairan uang jadi lama, lantaran bank menunggu kiriman uang dari nagri si importir. Kebayang, kan, bagaimana ketar-ketirnya produsen? Barang laku terjual, tapi kok duitnya kagak nongol? Ujung-ujungnya, yang terjadi bisa-bisa PHK massal cry



Omong-omong soal bandrek, di Kota Bogor ada sebuah daerah yang bernama Warung Bandrek. Jangan-jangan dahulu memang pernah ada warung penjual bandrek yang begitu tersohor di sana, sehingga akhirnya dipakai menjadi nama tempat.


Oct 16, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

Gelas Raksasa Gelas Simbah



Gelas beling raksasa plus tutup tanpa merek ini baru saja diantarkan oleh rekan kantor yang baik hati, tidak sombong dan suka jalan-jalan ke meja kerja saya. Gelas pembagian, jatah karyawan. Rumor tentang pembagian gelas pribadi ini memang sudah lama beredar di ruang rihat. Rencananya, setiap karyawan akan punya gelas minum masing-masing yang harus diperlakukan sebagaimana mestinya secara pribadi, tanpa pandang bulu. Artinya, bisa jadi rencana untuk membebaskan opisboi dan klining serpis dari kewajiban mencuci gelas karyawan akan segera terwujud dan mereka bisa lebih berkonsentrasi pada apa yang merupakan tugas mereka sebenar-benarnya.

Gelas beling ini mengingatkan saya pada almarhum kakek saya, yang dipanggil Mbah Kung oleh cucunya (beliau tidak mau dipanggil "eyang"). Kesehatan ginjal Mbah Kung sudah terganggu sejak perut beliau merasakan injakan sepatu bot tentara Jepang selama di bui. Semasa Mbah Kung masih hidup, beliau selalu minum air putih dari gelas yang persis dengan gelas ini. Dalam bayangan saya, pemakai gelas besar adalah seorang ayah dalam sebuah keluarga. Meskipun si ayah sering turne berminggu-minggu, atau hanya minum bersama keluarga pada pagi dan malam hari, gelas yang disediakan hampir selalu gelas terbesar di rumah.

Begitulah, karena karyawan tidak punya punuk seperti unta yang bisa menyimpan air berlama-lama dalam jumlah besar, demi ketertiban dan demi efisiensi (tenaga opisboi dan klining serpis, tenaga karyawan untuk bolak-balik ke ruang rihat ambil minum, meskipun yang terakhir ini bisa dipertanyakan), maka gelas beling raksasa ini dibagikan. Bagi penggemar segala seragam dan kepraktisan, bahkan kaum minimalis yang bersahaja, gelas semacam ini adalah sebuah kemajuan. Bagi yang ingin selalu tampil beda dan trendi, gelas polos adalah peluang untuk menuangkan kreativitas Big Smile

PS : Kira-kira ada pembagian piring makan dan sendok garpu, nggak ya?


Oct 10, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

wajah asing di kota asing

Seorang bekas teman SMA kelahiran Bogor mengeluh, saat ini jika dia melewatkan akhir pekan di tempat-tempat umum di Bogor, sulit sekali menemukan wajah-wajah yang dikenalnya semasa kecil atau remaja. Dia merasa terasing di kota sendiri. Pusat perbelanjaan dipadati orang, begitu pula tempat wisata, tapi tidak ada suasana hangat maupun akrab seperti dulu, katakanlah 25 - 30 tahun lalu, ketika para pengunjung toko masih kerap saling bertegur sapa dan pemilik toko kelontong membiarkan anak si pengunjung mengambil 1 - 2 butir permen dari dalam stoples.

Seperti halnya wilayah lain di seputar ibu kota yang menjadi tujuan urbanisasi, Bogor telah menjadi tempat tinggal bagi wajah-wajah asing yang menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan dan resto-resto waralaba. Sedikit banyak, pusat perbelanjaan dan resto waralaba telah mengikis keunikan Kota Hujan. Tidak perlu ke Jakarta untuk menghirup kopi rasa Amerika, konon. Tradisi menghirup bajigur di sore berhujan telah lama terlupakan, mungkin sedikit orang masih melakukannya, tapi entah di mana karena warung bajigur Taman Kencana telah lama tutup.

Saya lupa, kapan tepatnya kompleks-kompleks bernama asing mulai bermunculan di Bogor. Oh, bukan kompleks, tapi perumahan real estat. Saya yakin, bukan hanya karena otak yang pernah gegar dan mulai menua ini maka saya jadi sulit menghafal nama perumahan itu, tapi karena jumlahnya yang terus bertambah. Kini penduduk semakin padat, kebutuhan perumahan terus meningkat. Belum lagi kalau ada yang usaha beternak rumah. Rumah dibeli, tapi bukan untuk ditempati. Dan tentu saja, dibeli dengan mengajukan kredit. Sebab konon, selain sulit mengumpulkan uang senilai sebuah rumah dalam waktu singkat, hanya orang ketinggalan zaman saja yang tidak membeli apa pun dengan berutang.

 

Sungguh posting yang tidak keruan, memunculkan keresahan tanpa penyelesaian. Bagaimanapun, semua orang tahu, dunia memang tidak akan pernah membaik. Yang harus ditingkatkan adalah rasa percaya diri dan optimisme. Seperti developer dan agen properti yang ingin menjual apartemen bersubsidi di Bogor. Program Keluarga Berencana sudah gagal. Artinya, peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal. Saya cuma bisa berharap, para tukang insinyur dan pengambil kebijakan itu masih ingat kuliah amdal.


Sep 25, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

mantra orang sakit

pagi :
glucodex dua sebelum makan
glucobay satu setelah suapan pertama
metformin satu sesudah makan
nifedipine setengah sesudah makan
diltiazem satu sesudah makan

siang :
glucodex satu sebelum makan
glucobay satu setelah suapan pertama
metformin satu sesudah makan
diltiazem satu sesudah makan

malam :
glucodex satu sebelum makan
glucobay satu setelah suapan pertama
metformin satu sesudah makan
nifedipine setengah sesudah makan
diltiazem satu sesudah makan

sembuh!
sembuh!
obat datang penyakit hilang!


Sep 19, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

pada suatu hari di sekolah alam bogor

 

Menyenangkan dan membebaskan, itu kesan saya saat untuk kedua kalinya berkunjung ke Sekolah Alam Bogor, tempat Obik bersekolah. Lho, kesan saat pertama kali? Gelap, karena saya datangnya malam hari. Maka kunjungan beberapa bulan lalu ini cukup menebus rasa penasaran saya tentang sekolah yang ingin mendekatkan anak "modern" dengan alam ini.



Mungkin karena karena temanya dekat dengan alam, maka bangunan kelas yang didirikan pun dari kayu, bukan dari tembok. Beberapa kelas malah tidak ada dindingnya, atau hanya separuh. Kelas terbuka, apa tidak takut masuk angin di Kota Hujan Bogor? Aha, itu rahasia alam Smile Meskipun demikian, jendela bangunan di lantai dua tetap dipasangi kaca, seperti bangunan kantor di bawah ini.



Saya tidak sempat melihat ke semua ruang kelas. Yang satu ini cukup mengesankan. Kelas Pinguin. Tidak ada meja atau bangku, karena mungkin memang tidak perlu. Dinding tidak ada, tapi foto Presiden dan Wapres tergantung juga Big Smile







Dan..taman bermain. Kebanyakan anak kecil memang suka melakukan hal-hal berbahaya. Semakin dilarang, malah semakin menantang. Makanya, sekalian saja disuruh main panjat-panjatan. Hehe, itulah teori ngawur saya.. Waktu saya ke sana, beberapa anak sedang asyik main dengan diawasi para orang tua.



Lho, kok orang tua berdatangan? Iya, karena hari itu adalah hari wisuda bocah-bocah TK. Upacaranya mirip wisuda sarjana, hanya saja jauh lebih sederhana. Buat lucu-lucuan, boleh juga. Hitung-hitung melatih keberanian anak buat tampil di depan orang banyak Wink



PS : Acara bulan Juni, posting bulan September. Moga-moga belum basi, ya.. Angel



Sep 12, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

tape jadoel kediri bikinan bogor



Tape ("tapai", dalam KBBI) ini masih baru, bikinan Agustus 2008, bukan Agustus 1945. Namun, bahasa yang dipergunakan di labelnya mengingatkan saya pada majalah dan batjaan tempo doeloe peninggalan Simbah. Ini bukan mau menyaingi Pemulung, lho. Gara-gara labelnya pula saya memilih tape ini, bukan yang lain. Lho, kok seperti iklan apa gitu, yak? Memang ini sekalian iklan, meskipun saya tidak dibayar, karena berbagi informasi tidak harus selalu mengharap uang... Tapi, tape? Bukan! Bukan pula ingin dibilang sok pendukung industri rumahan. Saya hanya kagum dengan orang-orang yang berani berwirausaha, di tengah serbuan produk global kok ya masih berani-beraninya lho (!), tampil dengan kudapan lokal yang bersahaja ini setelah... Hm, siapa penemu tape alias peuyeum, dan pada tahun berapa? Celaka dua belas! Jangan-jangan setelah ini tape dipatenkan oleh orang asing? Bergeraklah, Juragan tape! Jangan sampai nanti Anda harus membayar perusahaan besar ribuan dolar hanya untuk membikin tape.

 

Lalu, bagaimanakah rasa si Tiga Goenoeng Mas produksi Kemang, Bogor, yang bikin mbak pramuniaga cekikikan saat kesulitan baca mereknya ini? Soal koealitas yang "Soeper Premium", saya angkat topi (pura-puranya, karena jarang pakai topi). Kurang paham apa yang dimaksud dengan "Green Label". Duh.. Jadi ikut bangga dan terharu, orang Bogor bisa bikin yang beginian. Hehe, mungkin "terharu" itu hiperbolis. Yang tidak hiperbolis, tape ini mengingatkan saya pada tape bondowoso dari Jawa Timur yang sudah lama tersohor itu. Bedanya, tape bondowoso berwarna putih, sedangkan tape yang ini kuning, karena dibuat dari singkong mentega. Lalu, kenapa ada tulisan "Kediri" segala? Nah, itu saya kurang paham.



PS : Jangan khawatir, meskipun sudah ada peuyeum kemasan, saya akan tetap beli juga peuyeum pikulan si mamang kok. Eh, peuyeum pikulan? Masih adakah?


Sep 4, 2008

uneg-uneg si mpokb >>>>

The Death of The Sun



there
embrace my twilight before night

the might of such wonderful sight
have no pity nor tears
for it is I
who will die



Jakarta, 04/09/08






Blogdrive